Orkestra remaja dari tanah air, Twilite Youth Orchestra (TYO) akan menyelenggarakan pergelaran musik dalam rangka Hari Ulang Tahun(HUT) RI ke-64 dan sebagian dana hasil pertunjukan itu akan diserahkan kepada nelayan di Buleleng, Bali.

“Sebagai perwujudan rasa syukurnya, maka Twilite Youth Orchestra akan menyumbangkan sebagian hasil konser untuk para nelayan di Buleleng yang tergabung dalam program Ecofish (perikanan yang berkelanjutan),” kata pendiri orkestra ini, Addie M.S. , Rabu (12/8), seperti dikutip “Antara”.

Addie M.S. mengatakan, dengan memberikan bantuan uang kepada para nelayan di Buleleng itu, maka diharapkan mereka akan dapat tetap menangkap ikan hias dengan cara yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Addie menyatakan orkestra ini akan menyelenggarakan pergelaran musik pada tanggal 17 Agustus di Bali Room, Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta pada pukul 15.00 dan 19.00 WIB. “Konser ini akan didukung sekitar 50 musisi sebagai instrumentalis.

Selain memeriahkan HUT RI, pertunjukan ini juga dilakukan untuk memperingati hari berdirinya orkestra ini pada bulan Agustus 2004. Acara ini juga didukung oleh Bank BCA.

Sementara itu, Direktur Program Eric Awuy menjelaskan pada pergelaran yang diberi nama`The Great Overtures” ini para penonton akan diajak menikmati overtures terkenal karya komposer ternama seperti The Mastersingers of Nuremberg-Prelude to the opera karya Richard Wagner; William Tell Overture karya Gloachino Rossini.

Kemudian, Academic Festival karya Johannes Brahms dan The Marriage of Figaro karya Wolfgang Amadeus Mozart.

Selain itu, terdapat berbagai karya lain yang menampilkan para solis muda Twilite Youth Orchestra misalnya Kol Nidrei (cello concerto) karya Max Bruch, violin concerto nomor 3 karya WA Mozart serta Oboe & Basson concerto in G Mayor RV 545.

“Sebagai solois antara lain akan hadir Listyani (violin), Beatrice Monica (cello), Stephanie Marcia Suryahadi (basson) dan Wirya Satya Adenatya (oboe),” kata Direktur Program Eric Awuy.

Penampilan para solis ini sekaligus untuk menunjukkan adanya regenerasi musisi, terutama untuk pemain instrumen yang relatif langka di Indonesia seperti basson dan oboe.

Sumber : Pikiran Rakyat, Agustus 2009