Tumpahan minyak di Laut Timor akibat meledaknya ladang minyak Montara pada 21 Agustus 2009 , kini sudah mendekati Pulau Timor bagian barat Nusa Tenggara Timur (NTT). Tumpahan minyak itu sudah masuk ke wilayah perairan Indonesia sejauh sekitar 50 mil dari batas wilayah perairan laut antara Indonesia-Australia, atau sekitar 70 mil dari Kolbano, wilayah pantai selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).
Demikian diungkapkan sembilan orang nelayan tradisional asal Oesapa Kupang, NTT, kepada para wartawan di Kupang, Selasa, setelah pulang melaut dari wilayah perairan Laut Timor untuk mencari ikan dan biota laut lainnya wilayah perairan sekitarnya.
“Kami baru tiba tadi malam (Senin, 28/9 malam, red) dengan perahu motor Nirwana-2. Kami menemukan adanya tumpahan minyak itu pada titik kordinat 11-22 LS dan 124-22 BT tanggal 24 Agustus 2009 atau tiga hari setelah awal Ramadan,” kata Bogas, seorang nelayan Oesapa.
Hal itu dibenarkan oleh rekan-rekannya yang lain, Muhamad Ridwan, Suardi, Fikar, Abdulah, Rais, Halim serta H Mustafa yang juga Ketua Aliansi Nelayan Tradisional Laut Timor (Antlamor).
Ladang minyak Montara yang meledak itu, telah memuntahkan sekitar 500.000 liter minyak setiap hari di wilayah perairan Laut Timor yang sumber pencaharian nelayan tradisional Indonesia.
Lokasi ladang minyak itu berjarak sekitar 690 km barat Darwin, Australia Utara dan 250 km barat laut Truscott di Australia Barat.
“Ketika kami menyelam, aroma minyak sangat terasa dan badan kami berminyak. Di atas permukaan laut, terlihat gumpalan minyak membentuk seperti kawah,” tambah Fikar.
Menurut gambar televisi yang disiarkan ABC, tumpahan minyak itu mengalir seperti anak sungai dan berkelok-kelok di Laut Timor dari sumber ladang minyak lepas pantai Montara yang dioperasikan PTTEP Australasia, sebuah perusahaan minyak asal Thailand.
“Banyak ikan dasar laut dan permukaan yang mati akibat mencium aroma minyak. Ini sebuah realitas yang kami temukan pada saat itu,” ujar Muhamad Ridwan sambil menunjuk contoh tumpahan minyak pada sebuah botol aqua.
Sumber : Antara, September 2009
Web site ini dibuat secara gotong royong oleh berbagai pihak untuk membangun trend cinta laut serta menyediakan akses informasi yang mudah untuk bisa terlibat di dalam konservasi laut dan pesisir serta ekosistem terkaitnya, dengan saling berbagi informasi yang bersifat positif, membangun semangat, dan saling menghargai satu sama lain. Baca selengkapnya
ija mukin
October 27th, 2009 at 1:09 pm
keadaan ini akan memberikan dampak yang sangat menurun bagi para nelayan yang tentunya mengurangi pendapatan percapita perharinya dan membunuh spesies dan biota laut. untuk itu diharapkan peran aktif dari instansi terkait dalam mengatasi permasalahan yang tersebut. mohon jangan pernah membiarkan masalah ini tanpa ada solusinya, karena akan merugikan banyak pihak, untuk itu dengan hormat disampaikan kepada Pemerintah pusat dan daerah agar benar-benar menyikapi masalah ini dengan sungguh-sungguh, dan mengambil tindak tegas kepada pelaku untuk bertanggung jawab. sekian. trimakasih