Kawasan hutan mangrove sepanjang 2 km mulai dari Desa Kabongan Lor-Desa Pasar Bangi yang sekaligus sabuk hijau di kota Rembang terancam habis. Hutan mangrove itu dulunya memiliki lebar hutan sekitar 100 meter dari bibir pantai menjorok ke laut. Namun sekarang ini lebar hutan tinggal kurang lebih 50 meter. Sebagian luasan hutan bakau sudah alih fungsi menjadi tambak garam, udang, dan bandeng. Bahkan di antaranya sudah bersertifikat hak milik.
Kepala Kantor Lingkungan Hidup (LH) Rembang Purwadi Samsi SH beserta stafnya, kemarin, datang ke lokasi mengamati batang-batang bakau yang dibabat warga di sepanjang kawasan tersebut.
’’Kami datang ke sini untuk menindaklanjuti laporan warga adanya perusakan hutan bakau oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Selain itu, akan kami manfaatkan untuk membuat peta kerusakan guna bahan laporan ke atasan,’’ katanya.
Menurutnya, alih fungsi hutan bakau(mangrove) menjadi tambak diketahui terjadi sejak 1995. Tepatnya, saat usaha budi daya bandeng dan udang marak di Rembang. Saat itu sejumlah warga beramai-ramai membuka lahan tambak baru dengan cara membabat hutan bakau. Aksi ini sempat dicegah oleh pemkab, namun secara diam-diam warga meneruskan pekerjaannya membuka lahan tambak baru.
Purwadi Samsi mengatakan, sampai sekarang ini yang terjadi di lapangan masih sering terjadi pembabatan hutan bakau. Beberapa warga masih nekat mengubah kawasan hutan bakau pada bagian bibir pantai menjadi tambak tanpa bisa dicegah. Bahkan saat warga lain yang peduli lingkungan hidup berusaha mengingatkan tindakan perusakan hutan bakau tersebut, namun pelakunya marah.
Desakan Ekonomi
Berdasarkan informasi, ditengarai alih fungsi sebagian lahan hutan bakau menjadi tambak terjadi akibat desakan ekonomi. Namun di luar itu juga ada praktik jual beli guna mencari keuntungan.
Terbukti, ada beberapa warga yang baru membuka lahan tambak, namun tak lama kemudian lahan tersebut dijual. Menurut Purwadi Samsi, munculnya sertifikat lahan tambak tersebut menyulitkan kantor LH merehabilitasi hutan bakau yang sudah hilang.
Web site ini dibuat secara gotong royong oleh berbagai pihak untuk membangun trend cinta laut serta menyediakan akses informasi yang mudah untuk bisa terlibat di dalam konservasi laut dan pesisir serta ekosistem terkaitnya, dengan saling berbagi informasi yang bersifat positif, membangun semangat, dan saling menghargai satu sama lain. Baca selengkapnya

audia
November 1st, 2009 at 4:39 pm
beritanya sih bagus…
tp kok banyak yg gak ada gambarnya???