Seperlima hutan bakau dunia telah hilang sejak 1980. Bahkan kecepatan degradasinya mencapai 4 kali lebih cepat dibandingkan hutan lainnya. Demikian hasil studi yang diselenggarakan oleh Program Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa/PBB (UNEP) dan The Nature Conservancy.

Studi tersebut menyatakan menyatakan  kerusakan mangrove rata-rata  0,7 persen per tahun. Bahkan mangrove yang masih tersisa pun, masih terus mangalami degradasi.

Hadiah berharga dari Tuhan ini menjadi tempat hidup banyak hewan laut dan jadi pelindung buat manusia dari terjangan bencana yang berkaitan dengan laut serta iklim, tapi ulah manusia juga yang membuatnya mengalami kerusakan.

Laporan dengan judul “World Mangrove Atlas” tersebut menyatakan hutan mangrove memberi layanan ekonomi yang sangat besar. Hutan itu berfungsi sebagai tempat pengasuhan berbagai jenis ikan laut, carbon sink serta menjadi penyangga terhadap bahaya erosi. Di negara berkembang, mangrove menjadi salah satu alternatif sumber yang menjamin ketersedian pangan.

“Mengingat manfaatnya, tidak ada lagi pembenaran bagi kerusakan lebih luas hutan mangrove,” begitu pernyataan Emmanuel Ze Meka, pemimpin International Tropical Timber Organisation, yang membantu mendanai studi tersebut, sebagaimana dilaporkan kantor berita Inggris, Reuters.

Laporan studi itu mengutip bukti bahwa hutan bakau mengurangi dampak tsunami Samudra Hindia 2004 di beberapa tempat.

Laporan tersebut mendesak semua negara, terutama yang memiliki hutan mangrove terbesar seperti Brasil, Indonesia, dan Australia, agar berbuat lebih banyak guna menghentikan kemerosotan pada sebanyak 150.000 kilometer persegi hutan mangrove di dunia.

“Pelaku terbesar hilangnya hutan mangrove adalah konversi langsung ke akuakultur, pertanian dan pemanfaatan tanah buat warga kota. Zona pantai seringkali menjadi tempat hunian padat dan tekanan bagi pemanfaatan lahan. Di mana pun hutan mangrove masih ada, semua hutan itu seringkali telah mengalami kemerosotan akibat pengolahan yang berlebihan,” demikian temuan laporan tersebut.

Laporan itu menyebut Malaysia sebagai negara yang memanfaatkan kepemilikan negara atas hutan mangrove agar negara dapat lebih baik mengelola areal tersebut dan mencegah kemerosotan lebih jauh.

Seorang pakar mangrove dari Institut Pertanian Bogor Prof Dr Cecep Kusmana, mengatakan sebagian besar hutan mangrove di seluruh wilayah Indonesia mengalami kerusakan parah.

Dalam perbincangan dengan ANTARA News di Bogor, awal Juli, Cecep Kusmana mengatakan kerusakan tersebut nyaris terjadi secara merata di semua daerah yang memiliki hutan mangrove.

Ia merasa prihatin, karena dari tahun ke tahun luas hutan mangrove terus menyusut drastis. Pemerintah baik pusat maupun daerah serta masyarakat, katanya, perlu bahu membahu menyelamatkan ekosistem ini.

Hutan mangrove yang dimiliki Indonesia merupakan yang terluas di dunia. Total arealnya di Indonesia diperkirakan mencapai 4,5 juta hektare.

Sumber : Antara