sailbandaRombongan wartawan bersama Ketua Panitia Sail Banda 2010, yang juga Wakil Gubernur Maluku, Said Assegaf serta Komite Nasional Pemuda Indonesia dan sejumlah organisasi kepemudaan di Ambon terkejut menyaksikan kotornya perairan Banda saat berkunjung ke daerah itu, Senin (1/3) dan Selasa. Sampah plastik bekas kemasan ikan dan limbah rumah tangga mengotori perairan di sekitar Pulau Banda, Maluku Tengah, Maluku. Hal ini tentunnya sangat tidak menunjang promosi Sail Banda 2010.

Menurut pengajar pada Jurusan Perikanan Sekolah Tinggi Perikanan Hatta Sjahrir di Banda, La Ode Junaidin, sampah plastik bekas kemasan ikan itu umumnya dibuang awak kapal. ”Awak kapal timbang yang membeli ikan hasil tangkapan nelayan Banda tidak sedikit yang membuang plastik langsung ke laut, Selain itu, ada juga limbah rumah tangga.” katanya.

Camat Banda Yusran Usemahu berkilah, kotornya perairan Banda karena belum ada sarana dan prasarana pembuangan sampah, seperti tong sampah, gerobak sampah, dan mobil pengangkut sampah. ”Tempat pembuangan akhir pun dibuat seadanya, tidak ada pengolahan sama sekali,” ujarnya.

Dilaporkan media Indonesia, pelaksanaan acara tahunan ‘Sail Indonesia 2010′ yang kali ini berpusat di Banda Neira, Maluku, menghabiskan anggaran lebih dari Rp40 miliar.

“Dari APBD ada Rp12 miliar, dari tiga Ditjen di Kementerian Kelautan dan Perikanan ada Rp9,5 miliar, dari Kementerian Kordinator Kesejahteraan Rakyat (Kemenko Kesra) kurang lebih bisa Rp20 miliar,” kata Dirjen Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Aji Sularso, pada peluncuran ‘Sail Banda’ di Jakarta, awal Februari 2010.

Anggaran dari APBD, menurut dia, akan digunakan untuk mempersiapkan fasilitas di daerah. Anggaran dari Kementerian Kelautan dan Perikanan akan digunakan untuk berbagai program acara, sedangkan anggaran dari Kemenko Kesra akan digunakan untuk pembiayaan bahan bakar kapal rumah sakit KRI DR Suharso. “Selain untuk bahan bakar anggaran dari Kemenko Kesra digunakan juga untuk kegiatan bakti sosial yang akan melibatkan masyarakat luas,” ujar dia.

Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, selaku Ketua Panitia Nasional Sail Banda mengungkapkan bahwa tujuan utama acara ini untuk menjadikan Ambon sebagai pintu gerbang pariwisata di kawasan timur Indonesia.

Tidak hanya itu, ia menegaskan bahwa dampak jangka panjang pelaksanaan Sail Banda diharapkan dapat mengangkat kekayaan alam Maluku, hingga akan dibuat sebuah tim yang melibatkan universitas untuk memperoleh datanya.

Selain itu, ia berharap dengan ramainya Maluku dapat meningkatkan ketertarikan investor China di wilayah tersebut. Hal ketiga yang diharapkan, yakni adanya pelayanan kesehatan untuk rakyat pesisir. Tidak heran Menko Kesra datang langsung ke wilayah-wilayah tersebut.

Sementara itu, Menko Kesra Agung Laksono mengatakan bahwa kegiatan Sail Banda ini dilaksanakan untuk mendorong ekonomi di wilayah timur. Menurut dia, dengan mempromosikan alam, budaya, dan tempat bersejarah maka akan mendorong pertumbuhan pariwisata.

Disadur dari : kompas.com dan media indonesia