Team Reef Check North BaliMemperingati Reef Check Day, sukarelawan dari berbagai daerah berkumpul dan bekerja bersama untuk melakukan monitoring di 7 lokasi penyelaman di Bali secara serentak.

Pada tahun 1997, dimulai oleh 7 orang sukarewalan penyelam yang memantau terumbu karang di 1 (satu) provinsi di Indonesia. Kemudian pada tahun 2006, Reef Check telah dilakukan oleh paling sedikit 1442 sukarelawan penyelam yang memantau terumbu karang di 61 lokasi di 19 propinsi dan melibatkan paling sedikit 100 lembaga. Dan mulai tahun 2009, setiap 22 OKTOBER setiap tahunnya, diadakan REEF CHECK DAY Indonesia bagi semua sukarelawan yang ingin terlibat dalam pelestarian terumbu karang.

Reef Check North Bali diadakan untuk memperingati Reef Check Day tahun ini yang dilakukan di 7 lokasi penyelaman di Bali, tepatnya di Bali Utara yang dilakukan secara serentak. Reef Check North Bali termasuk dalam serangkaian kegiatan Buleleng Bali Dive Festival yang dilakukan di Pemuteran, Buleleng, Bali mulai tanggal 23-26 Oktober 2015 yang diadakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Buleleng yang bekerjasama dengan berbagai pihak terkait.

IMG_5768

Pada Hari Jumat, 23 Oktober 2015 dilakukan workshop tentang metode Reef Check yang berlokasi di Pemuteran, Buleleng, Bali yang dihadiri oleh lebih dari 35 peserta yang berasal dari berbagai daerah. Workshop ini bertujuan untuk pembekalan kepada para peserta sebelum melakukan survey. Iqbal Herwata Putra dari Yayasan Reef Check Indonesia sebagai Project Coordinator North Bali and Nation Coordinator Reef Check Network Indonesia menjelaskan pemantauan yang akan dilakukan meliputi 3 (tiga) hal utama yaitu kondisi substrat, kondisi ikan indikator, kondisi invertebrata indikator, serta dampak aktifitas manusia terhadap terumbu karang. Setelah mengikuti workshop dan simulasi darat tentang metode Reef Check para peserta di bagi menjadi 6 team yang nantinya akan ditempatkan di 7 lokasi penyelaman.

edit IMG_0900

Keesokan harinya Sabtu, 24 Oktober 2015 sekitar pukul 9.00 secara serentak seluruh team melakukan monitoring reef check di 7 lokasi penyelaman yaitu Pacung, Bondalem, Tejakula, Penuktukan, Lovina (2 lokasi penyelaman), dan Pemuteran Buleleng, Bali. Peserta monitoring Reef Check melibatkan berbagai komunitas; Univ. Brawijaya, Kelompok Nelayan Pacung, Reef Seen, Sea rover, BPSPL Denpasar, DISKANLA Buleleng, Pokmaswas DPL Taman Segara, Gaia Oasis, Alamanda, Univ. Warmadewa, Klp. Nelayan Kalibukbuk, dive guide Lovina, Pokmaswas Bondalem, dive giude Tulamben, Umum,  Conservation International, CORAL, LINI, Yayasan Reef Check Indonesia serta Joss Hill, ia adalah salah satu penyusun protokol metode Reef Check yang metodenya kini digunakan hampir di seluruh dunia turut serta dalam memperingati Reef Check Day di Bali.

Hasil monitoring dan tanggapan dari masyarakat

Berbagai tanggapan dari masyarakat yang turut serta dalam monitoring pun disampaikan melalui koordinator lokal di setiap daerah monitoring. Para peserta mendapat pengetahuan baru tentang bagaimana cara menggunakan metode reef check ini untuk mengetahui bagaimana kondisi terumbu karang yang ada di wilayah tersebut. “Ini pengalaman pertama kali. Kalau boleh tahun depan ikut lagi supaya kita tahu bagaimana perkembangan terumbu karang dan biotanya disana”, kata peserta monitoring kepada Angelia Siagian koordinator tim reefcheck di wilayah Tejakula. “ Banyak sampah dan kain-kain yang berasal dari aktivitas nelayan yang ditemukan” tutur mbok Vera dan Bliket peserta monitoring di wilayah Tejakula.

Di Bondalem, juga terjadi hal yang sama. Dari hasil monitoring oleh team reefcheck di wilayah Bondalem masih terdapat banyak sampah yang menjadi ancaman bagi terumbu karang baik sampah dari aktivitas perikanan maupun yg lainya. Jika dibiarkan ini dapat menggangu pertumbuhan karang untuk tumbuh dan berkembang serta biota laut lainnya. Hewan laut sering terkait pada sampah-sampah sehingga mengganggu pergerakannya. Dibanyak lokasi terumbu juga dijumpai karang dan biota laut lainnya yang bersifat bentik, sessile (tidak dapat berpindah) yang mati akibat tertutup lembaran-lembaran plastik. Karena plastik tidak dapat hancur dalam waktu satu malam.

Ayu Charismawati koordinator tim reefcheck di wilayah Penuktukan menuturkan “Hasil monitoring di lokasi penyelaman di Penuktukan terdapat indikasi pemutihan karang yang terjadi terutama pemutihan pada karang mushrom” seperti diketahui tahun 2014-2015 telah terjadi fenomena El Nino dengan intensitas sedang yang menyebabkan kemarau panjang dan meningkatkan suhu permukaan air laut. Hal ini berdampak pada karang yang memiliki sensitifitas tinggi terhadap perubahan suhu air laut. Hal yang sama juga terjadi pada lokasi penyelaman di Pacung biota yang lebih mendominasi adalah ikan snapper namun ditemukan juga indikasi pemutihan karang pada beberapa jenis populasi karang diwilayah tersebut berdasarkan hasil monitoring oleh team reef check di wilayah Pacung.

Sedangkan team reefcheck yang melakukan monitoring di lokasi penyelaman di Pemuteran menemukan terumbu karang dengan kondisi tutupan yang baik. Iqbal Herwata selaku koordinator tim di Pemuteran menuturkan “kondisi ekosistem yang baik ditunjukkan dengan ditemukannya 4 ekor hiu (white tip reef shark). Seperti diketahui, hiu merupakan top predator dalam rantai makanan dan menjaga keseimbangan ekosistem”. White tip reef shark menurut IUCN adalah jenis hiu yang hampir terancam punah. Mereka berpendapat bahwa, Ingin adanya tindak lanjut pelatihan yang intensif dan monitoring secara berkala” yang dilakukan di tempat tersebut nantinya.

edit shark

Di 2 lokasi penyelaman di Lovina juga mendapat tanggapan yang sangat baik untuk kegiatan ini. Dari hasil monitoring masyarakat tahu bahwa kondisi terumbu karang di Lovina memiliki tutupan karang yang cukup rapat beserta boita lautnya yang melimpah. Masyarakat juga mengharapkan dengan adanya kegiatan ini dapat meningkatkan pedampingan tentang kegiatan konservasi dari pemerintah untuk selanjutnya, jelas Sebastian Aviandhika koordinator team reefcheck di wilayah Lovina.

Tahun 2015 kegiatan Reef Check Day ini tidak hanya dilakukan di Bali saja, tetapi telah dilakukan diberbagai daerah oleh banyak sukarelawan di Indonesia seperti teman-teman dari Marine Diving Club di Taman Nasional Karimunjawa dan ODC Unsyiah Aceh yang telah berkoordinasi dengan Reef Check Indonesia. Kemudian data yang telah didapatkan akan dilaporkan oleh koordinator lokal ke Reef Check Indonesia dan Reef Check Internasional. Reef Check Indonesia akan memproses data itu untuk menghasilkan gambaran global kondisi terumbu karang di Indonesia, dan oleh Reef Check Internasional akan diproses sebagai bagian dari data Jaringan Pemantauan Terumbu Karang Global.

Reef Check Day merupakan bentuk kepedulian dan kampanye untuk mendukung adanya terumbu karang yang lebih baik serta menunjukkan secara detail pentingnya peran setiap orang untuk bertanggungjawab pada kelestarian lingkungannya.

 

Untuk info selanjutnya bisa menghubungi :

Mochamad Iqbal Herwata Putra : iherwata@reefcheck.org

Project Coordinator and GIS Specialist | Reef Check Foundation Indonesia

Nation Coordinator | Reef Check Network Indonesia

 

 

Oleh : Ayu Laksmi | Communication and Campaign Program Reef Check Indonesia