RC day2 copyDenpasar, 16 Oktober 2009. Laporan status terumbu karang dunia yang dikeluarkan Global Coral Reef Monitoring Network (GCRMN) menyebutkan bahwa selama periode 2004 hingga 2008 luasan area terumbu karang dunia semakin menurun. Komunitas pemantauan terumbu karang Indonesia, yang tergabung dalam Jaringan Kerja Reef Check Indonesia mulai bulan Oktober hingga Desember 2009 akan mengadakan serangkaian kegiatan pemantauan kondisi kesehatan dari berbagai area terumbu karang di Indonesia dalam rangka Reef Check Day 2009.

Permasalahan yang mengancam terumbu karang dunia semakin meningkat. Di sisi lain, penurunan ini menjadi peringatan bagi 500 juta manusia yang hidup bergantung pada terumbu, termasuk didalamnya sekitar 30 juta yang secara jelas hidup bergantung secara total pada keberadaan terumbu sebagai penghidupan mereka (Wilkinson,2008).

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa dalam periode 2004 hingga 2008, 19% luasan terumbu karang dunia telah hilang, 15% terancam hilang 10-20 tahun kedepan dan 20% luasan terancam hilang 20-40 tahun mendatang. Di Indonesia sendiri 34% berada dalam kondisi sangat buruk 42% agak baik sedang hanya 21% dalam kondisi sehat dan 3 % sangat sehat.

Dalam beberapa tahun terakhir tekanan terhadap terumbu karang semakin bervariasi dan juga semakin meningkat secara kuantitas maupun kualitas. Kejadian gempa bumi yang melanda lautan Indonesia pada 2004 juga mengakibatkan kerusakan pada terumbu namun tidak dapat dibandingkan dengan kerusakan yang disebabkan oleh manusia. Dampak langsung dari perubahan iklim juga semakin banyak terjadi pada banyak terumbu karang. Dari analisis diperkirakan pada 2015, sekitar 50% populasi dunia hidup di sepanjang pesisir, sebuah bahaya yang sangat besar terhadap masa depan terumbu karang. Peningkatan kebutuhan pangan, komersialisasi aktifitas perikanan, dan krisis ekonomi global akan berujung pada penangkapan berlebih dan penurunan stok perikanan terutama di negara-negara miskin.

Fakta-fakta yang mengkhawatirkan di atas sebenarnya juga sudah diikuti dengan berbagai usaha lokal mapun global untuk menyelamatkan ekosistem yang memberi penghidupan bagi jutaan manusia ini. Solusi dari para peneliti dan pengelola terumbu karang untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kawasan pengelolaan laut (Marine Protected Area/MPA) sudah disambut dengan baik di skala internasional. Indonesia bahkan menjadi ujung tombak dalam lahirnya inisiasi pengelolaan kolaboratif di kawasan segitiga terumbu karang dunia yang melibatkan 6 negara. Dukungan pendanaan dan keilmuan juga sudah diluncurkan dari berbagai lembaga dan komunitas peneliti.

Walaupun demikian, catatan GCRMN menyebutkan bahwa hal penting lainnya ialah masih banyak informasi  yang belum diketahui untuk membangun strategi pengelolaan guna menjamin eksistensi berkelanjutan dari terumbu karang. Lebih lanjut hal-hal yang direkomendasikan sebagai aksi konservasi terumbu karang di seluruh dunia yaitu melawan perubahan iklim, memaksimalkan daya pulih terumbu karang – melalui minimalisasi tekanan lansung manusia pada terumbu-, meningkatkan kualitas pelaksanaan regulasi MPA, serta membantu meningkatkan kualitas pengambilan kebijakan pengelolaan melalui informasi pemantauan ekologi dan sosial ekonomi yang  berkualitas.

Tantangan Utama: Minimnya Informasi Berkelanjutan

Sejak 1 dekade lalu, permasalahan utama dari usaha pengelolaan terumbu karang dan ekosistem yang berasosiasi dengannya ialah terkait minimnya informasi. Informasi dimaksud spesifik mengarah pada data-data yang dibutuhkan terkait urgensi pengelolaan yang efektif bagi ekosistem terumbu karang di berbagai belahan dunia. Minimnya jumlah peneliti tidak sebanding dengan luasnya area terumbu karang yang harus dipantau, belum termasuk area-area terumbu yang sulit dijangkau. Luasan ini berimplikasi pada besarnya waktu dan tenaga yang harus digunakan, termasuk anggaran dana yang dialokasikan. Permasalahan khusus juga muncul dengan variatifnya cara,metodologi penelitian yang digunakan, membuat kebanyakan data menjadi sulit untuk dibandingkan serta cenderung terbatas hanya bisa diaplikasikan oleh para peneliti. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus ancaman bagi usaha pengelolaan terumbu yang tidak dapat dipungkiri membutuhkan masukan ekologis dan sosioekonomi dalam pengambilan strategi dan kebijakan.

Atas inisiasi suatu pertemuan tahun 1996, disepakati mengembangkan suatu metode untuk menjawab permasalahan-permasalah di atas. Suatu metodologi yang mudah untuk diterapkan sekaligus mampu menyediakan pertimbangan ilmiah, ekologis dan antropologis bagi pengambilan kebijakan terumbu karang. Metodologi ini kemudian disebut dengan Metodologi Survei Terumbu Karang Reef Check.

Mudah dan ilmiah. Dua hal ini akan berimplikasi pada dapat dibangunnya suatu penelitian ilmiah yang dapat dilakukan oleh siapa saja, baik peneliti, pelajar, penyelam rekreasi, nelayan, bahkan masyarakat awam sekalipun. Hal ini yang kemudian oleh para ahli disebut sebagai pemantaun berbasis komunitas. Mudah dan ilmiah juga berarti metodologi ini dapat digunakan untuk menjangkau luasan terumbu karang dalam jumlah yang maksimal, karena juga akan lebih cepat dan lebih menghemat tenaga. Dan tentunya juga akan berarti lebih menghemat banyak biaya.

Keuntungan-keuntungan ini bagi kebutuhan pengelolaan akan sangat berarti besar. Dengan implikasi-implikasi yang ada pemantauan berbasis komunitas ini, dapat menjadi suatu kegiatan penelitian dan pemantauan yang berkesinambungan, yang akan menghasilkan suatu serial data pemantauan sepanjang periode tertentu (musim, triwulan,semester ataupun tahunan). Data berkesinambungan ini akan sangat bermanfaat bagi  pengelolaan, lebih efektif dibanding data yang tidak kontinyu. Data ini lebih dapat berbicara, menggambarkan tren kondisi terumbu karang, baik di skala lokal, regional, nasional bahkan internasional.

Hingga 2009, sebanyak 70 negara telah berpartisipasi mengorganisir survei Reef Check bersama-sama dengan komunitas-komunitas pemerhati terumbu karang dengan berbagai latar belakang. Di Indonesia sendiri, survei ini sudah berlangsung sejak 1997. Dimulai oleh 7 orang sukarelawan pada 1997, lalu mencapai total 644 sukarelawan pada 2002, hingga sekarang kurang lebih 1600 sukarelawan telah terlibat, dengan total lokasi pemantauan mencapai sekitar 64 lokasi. Sebuah demonstrasi nyata besarnya perhatian dan kepedulian masyarakat di Indonesia terhadap terumbu karang di nusantara. Aktifitas sukarelawan ini kemudian dikoordinasikan oleh Jaringan Kerja Reef Check Indonesia (JKRI).

Aksi Lokal, Dampak Global

Ardi, Ketua Unit Selam UGM menyebutkan dengan pelaksanaan Reef Check yang dikoordinir oleh mereka di Baluran secara rutin telah mengangkat perhatian dan kepedulian masyarakat lokal ke arah yang lebih baik. Data-data yang dihasilkan telah membuka mata mereka akan besarnya potensi laut mereka.

Kesuksesan pelaksanaan Reef Check diberbagai daerah ini tidak terlepas juga dari dukungan dan kerjasama dari berbagai stakeholder. MDC Kelautan Universitas Diponegoro, telah mengadakan kegiatan Reef Check secara rutin sejak 1999 hingga sekarang. Setiap tahunnya minimal 30 orang penyelam bergabung untuk  memantau terumbu karang di Karimunjawa, Jawa Tengah. Aktifitas mereka ini selalu berkolaborasi dengan pihak Balai Taman Nasional, Dinas terkait bahkan dengan pihak Kabupaten. “Kolaborasi dan dukungan dari berbagai  pihak adalah kekuatan program Reef Check sehingga bisa berkelanjutan” kata Galdi Ariyanto, Ketua MDC . Kerjasama dimaksud tidak terbatas hanya pada bantuan pendanaan. “Sebagian besar dukungan yang kami dapatkan cenderung bersifat in-kind”  Andrianus Sembiring, ketua Reef Check Karimunjawa 2007, ”kami pernah mendapat bantuan transportasi, peralatan diving, ruangan training bahkan konsumsi”. Bahkan dijelaskannya di salah satu Reef Check, semua pihak berusaha membantu sebisanya, contohnya kelompok ibu PKK yang menjadi volunteer dengan menyuplai masakan. “Sangat sesuai dengan perut mahasiswa” kata Andrianus melanjutkan.

Klub selam mahasiswa memang menjadi fenomena khusus bagi perkembangan selam di Indonesia, termasuk juga kegiatan-kegiatan konservasi. Selain di UGM, beberapa klub selam lain yang aktif di Reef Check juga berbasis mahasiswa. ODC Aceh yang cenderung masih baru juga berbasis kampus. Termasuk juga di IPB, UNIBRAW, UNHAS,UNHALU, UNSRAT,UNIPA dan UNMUL. Beberapa diantaranya memiliki klub selam yang masih baru, sehingga masih belum terlalu aktif. Namun, regenerasi yang rutin membuat aktifitas mereka cenderung rutin dan mampu berbicara banyak di berbagai level. Terutama bagi klub selam yang berbasis di bidang ilmu yang sama, seperti Ilmu Kelautan maupun Perikanan.

Tidak hanya mahasiswa, Reef Check memang didesain untuk mudah dilaksanakan oleh semua lapisan masyarakat. Reefs Buddies Jakarta malah digawangi oleh sebagian besar penyelam rekreasi. Yulia Atmajaya, Ketua Panitia Reef Check di Kepulauan Seribu  menjelaskan tentang terlibatnya banyak penyelam rekreasi. “Teman-teman diver di Jakarta sangat bervariasi latar belakangnya. Mereka ternyata sangat antusias. Menurut mereka aktivitas Reef Check menyenangkan, karena disamping menyelam, mereka juga bisa berkontribusi langsung lewat tindakan nyata pelestarian terumbu karang di laut” Komentar Yulia. Di Bali terutama di spot-spot penyelaman, kegiatan Reef Check dikomandoi oleh dive operator dan dive center yang tergabung dalam Reef Check Certified Facility. Kurang lebih terdapat 10 dive center yang sudah bergabung di Bali. Hal yang serupa juga berlaku di Manado. Thalassa Dive Center memfasilitasi pelaksanaan training Reef Check bagi siswa-siswa SMA lokal menjadi ujung tombak pemantauan di Manado.

Di Bali Utara, pelaksanaan Reef Check malah dikomandoi oleh para pecalang laut serta kelompok nelayan. Dua kelompok yang paling aktif yaitu Pecalang Laut Daerah Pengelolaan Laut (DPL) berbasis masyarakat  di desa Bondalem dan Kelompok Nelayan Baruna Bratha yang mengelola DPL Tejakula. “Keterlibatan kami didasari kesadaran pribadi dan kelompok bahwa masa depan kami dan hari esok anak-anak kami sebagian besar tergantung pada kondisi terumbu karang” jelas Made Darmika, Ketua Nelayan Baruna Bratha. Keterlibatan komunitas pengguna langsung dalam pemantauan terumbu karang merupakan senjata paling efektif untuk mengedukasi masyarakat terhadap kondisi terumbu saat ini. “Kami harus peduli terhadap terumbu karang. Selain karena tugas kami sebagai pecalang yang bertanggung jawab kepada desa adat dan Sang Hyang Widi, terumbu karang yang sehat akan lebih berguna bagi kami disbanding terumbu yang rusak. Dan memantaunya adalah modal awal untuk menjadikan terumbu menjadi sehat” tutur Pak Mangku, Pecalang pantai DPL Bondalem.

Bangun,Bertindak,Sebelum Kita Kehilangan Terumbu Karang

You Don’t Know What You Get Till It’s Gone, demikian lirik sebuah lagu. Demikian keadaan yang kita hadapi sekarang. Setiap beberapa bulan para peneliti melaporkan hilangnya suatu spesies atau ancaman-ancaman akan hilangnya suatu jenis dari bumi. Kita baru menyadari keberadaan mereka setelah mereka dilaporkan musnah dari peradaban. Mengapa? Kita tak pernah benar-benar peduli sampai mereka dalam keadaan terancam, bahkan kadang saat mereka hilang. Mungkin itu alas an kenapa T-rex lebih menarik dibanding triton yang mulai langka, atau napoleon menjadi sesuatu yang mustahil dijumpai.  Kita tidak akan pernah tahu apa yang kita miliki kalau kita tidak pernah mau tahu apa yang kita miliki. Kita tidak akan pernah tahu apa yang kita miliki masih ada bila kita tidak pernah rutin memantau kondisi dan keberadaannya. Itulah semangat yang ingin dibangun oleh Reef Check. Masyarakat harus menjadi agen di lapangan, bahu membahu bersama pengelola dan pemerintah memantau dan mengawasi apa yang Pencipta sudah berikan bagi nusantara ini.

Jensi Sartin dari Jaringan Kerja Reef Check Indonesia menjelaskan bahwa sejak 1997 rekan-rekan di Jaringan Reef Check selalu mengadakan survei secara rutin, namun biasanya waktu pelaksanaanya berlangsung acak. Mulai tahun 2009 ini dibuat terobosan baru. “Mulai tahun 2009 ini, setiap 22 Oktober kami tandai sebagai Reef Check Day, yaitu hari Reef Check di Indonesia” jelasnya saat menyepakati tanggal tersebut dalam pertemuan nasional JKRI, Oktober 2008 silam. Tanggal 22 Oktober merupakan gong untuk memulai survei serentak di seluruh wilayah Indonesia setiap tahunnya. “Tentunya kami memaklumi bila ada rekan-rekan JKRI yang mengadakan survei sebelum atau sesudah tanggal tersebut. Pertimbangan keselamatan penyelaman, terkait perbedaan musim dan kondisi laut tentunya harus diutamakan” jelasnya, sekaligus menggarisbawahi adanya kebutuhan survei tambahan (2 kali atau 3 kali setahun) di lokasi-lokasi lain. “Kami harapkan dengan adanya pelaksanaan survei secara serentak akan memperkuat gema semangat akan urgensi pelestarian terumbu karang di Indonesia” kata Jensi.

Tahun 2009 ini, beberapa anggota JKRI yang sudah melaporkan rencana surveinya antara lain;

  • 22 Oktober 2009, Ocean Diving Club (ODC)Universitas Syiah Kuala Banda Aceh dengan wilayah pemantauan di Krueng Raya, Ujung Aramayang dan Lhok Mee di Aceh Besar;
  • 10-12 Oktober 2009 Reef Buddies Jakarta di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta sudah melakukan survei  Reef Check, presentasi hasilnya dijadwalkan minggu ke-2 November 2009;
  • 6-14 November 2009, Unit Selam UGM di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur;
  • 13-19 November 2009, Marine Diving Club (MDC) Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro di Taman Nasional Karimunjawa, Jawa Tengah;
  • 21-24 Oktober 2009, Fisheries Diving Club (FishDic) Universitas Brawijaya di Situbondo, Jawa Timur;
  • 23-25 Oktober 2009, Fisheries Diving Club Universitas Trunojoyo Madura di Kangean, Jawa Timur;
  • 30 Oktober 2009 Marine Science Diving Club (MSDC) Universitas Hasanudin di Kepulauan Barrang Lompo dan Barrang Caddi, Sulawesi Selatan;
  • November 2009, Thalassa Dive Center di Manado, Sulawesi Utara;
  • November 2009, Palu Hijau di Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah;
  • 23 Oktober 2009, Corona Diving Club Kendari, Wakatobi/Kendari-Sulawesi Tenggara;
  • November 2009, komunitas selam CAI Diving Club, di Pulau Sanghiang
  • Akhir Oktober 2009, Yayasan Reef Check Indonesia (YRCI) bersama Reef Check Facility di Bali ;
  • 1-4 November 2009, Kelompok nelayan dan pecalang laut pengelola DPL di Tejakula, Bali Utara.
  • Beberapa komunitas lainnya yang akan menyusul adalah jaringan di Papua dan sekitarnya.

Sebagai suatu aksi sukarelawan, JKRI juga memotivasi para pemerhati terumbu karang, terutama penyelam, baik individu maupun lembaga untuk ikut bergabung. “Kami mengharapkan semakin rekan-rekan yang bergabung agar semakin banyak terumbu karang yang bisa kita selamatkan,” kata Jensi, sekaligus menjelaskan bahwa untuk membentuk tim Reef Check sangat mudah, “dengan memiliki 1 orang dari tim Anda yang telah mengikuti training Reef Check EcoDiver Trainer, maka rekan-rekan dapat meng”organize” Reef Check mandiri”. Prosedur lengkap dengan menghubungi rcindonesia@reefcheck.org.  Sedangkan yang ingin menjadi peserta dapat bergabung dengan tim Reef Check yang sudah ada. “Reef Check survei, terbuka untuk umum, rekan-rekan cukup membayar sedikit biaya untuk akomodasi dan logistik. Namanya juga kegiatan voluntary,” terang Andrianus dari MDC Kelautan Undip yang mengkoordinir survey di Karimunjawa, Jawa Tengah.

Untuk mempermudah penyebaran informasi, lokasi serta lembaga pelaksana, pendaftaran peserta maupun mendaftarkan tim Reef Check baru dan update rencana dan hasil kegiatan Reef Check, YRCI selalu memuat informasi dari semua anggota jaringan di website www.goblue.or.id dan blog JKRI www.rcindo.blogspot.com. Untuk lebih jauh mengenal tentang Reef Check YRCI menyediakan informasi terkait di website Yayasan di www.reefcheck.or.id.