Penelitian baru dari sebuah tim Inggris di Great Barrier Reef menunjukkan bahwa semakin meningkatnya polusi kebisingan manusia di laut dapat menyebabkan ikan menjauh dari habitat dan mengalami kematian. Setelah berkembang selama berminggu-minggu di laut, juvenil ikan tropis mengandalkan suara alam untuk menemukan terumbu karang di mana mereka bisa bertahan hidup dan berkembang. Namun, para peneliti menemukan bahwa paparan singkat terhadap suara buatan membuat ikan jadi tertarik untuk mendekati suara asing tersebut.
Dalam penelitian sebelumnya, Dr Steve Simpson, Peneliti Senior di Universitas Bristol menemukan bahwa bayi ikan karang menggunakan suara yang dibuat oleh ikan, udang dan bulu babi sebagai petunjuk untuk menemukan terumbu karang. Dengan polusi suara manusia dari kapal, maupun industri off shore seperti kilang minyak yang makin meningkat seiring dengan perkembangan teknologi, ia sekarang khawatir bahwa perilaku biota terumbu ini akan terancam.
Dia berkata: “Ketika hanya berumur beberapa minggu, bayi ikan karang menghadapi tantangan yang monumental dalam mencari dan memilih habitat yang sesuai. kebisingan terumbu karang memberikan informasi penting,. Tapi kalau mereka belajar, mengingat dan menjadi tertarik terhadap suara yang salah, hal ini menjadikan mereka berjalan menuju arah yang salah pula. “
Menggunakan perangkap cahaya bawah air pada malam hari, Dr Simpson dan timnya mengumpulkan bayi ikan damsel yang sedang dalam perjalanan menuju terumbu karang. Ikan kemudian dimasukkan ke dalam tangki air yang dilengkapi dengan speaker bawah laut yang memutar suara kebisingan terumbu alami dan campuran yang disintesis dari nada murni.
Malam berikutnya ikan-ikan itu dimasukkan ke dalam pilihan kamar yang dirancang khusus (tabung panjang dengan kondisi yang kontras di mana pada ujung tabung ikan bisa bergerak bebas memilih tempat mana yang lebih disukai). Dengan suara alam semua ikan menyukai kebisingan karang, tapi ikan yang telah mengalami campuran nada berenang ke arah lain.
kolaborator-Nya, Dr Mark Meekan menambahkan: “Ini juga menunjukkan bahwa mereka dapat membedakan suara dan, menjadi tertarik pada suara yang benar-benar bisa mengacaukan perilaku mereka pada malam yang paling penting dari kehidupan mereka, yaitu saat mereka harus menemukan jalan pulang ke terumbu karang”
Dalam lingkungan yang bising rincian perilaku alam dapat memiliki dampak yang merusak pada keberhasilan populasi dan pemulihan stok ikan di masa depan.
Dr Simpson berkata: “kebisingan antropogenik telah meningkat secara dramatis dalam beberapa tahun terakhir, dengan perahu kecil, pengiriman, pengeboran hingga pengujian seismic. Suara-suara itu dapat menenggelamkan suara alami ikan dan udang. Jika ikan sengaja belajar untuk mengikuti suara yang salah, mereka bisa berakhir terjebak di samping sebuah situs konstruksi atau mengikuti sebuah kapal kembali ke laut. “
Web site ini dibuat secara gotong royong oleh berbagai pihak untuk membangun trend cinta laut serta menyediakan akses informasi yang mudah untuk bisa terlibat di dalam konservasi laut dan pesisir serta ekosistem terkaitnya, dengan saling berbagi informasi yang bersifat positif, membangun semangat, dan saling menghargai satu sama lain. Baca selengkapnya
wira sanjaya
August 20th, 2010 at 9:37 am
Kalau memang benar penelitian tersebut, maka pelaksanaan silent day “Nyepi Segara” di laut akan sangat cocok dimana dalam satu hari dari jam 6 pagi sampai dengan jam 6 pagi keesokkan harinya sama sekali tidak ada aktifitas di laut. semua aktifitas dihentikan selama perayaan silent day tersebut mulai dari berenang, mencari ikan apalagi menggunakan perahu bermesin semuanya dihentikan. Dengan begitu semua biota di laut akan dapat mengenal ekosistemnya dengan baik meski cuma satu hari tanpa ada antrophogenic impact,
Salam