Empat ekor paus pembunuh kerdil (pigmy killer whale) terdampar di Pantai Nyanyi Tanah Lot jam 6 pagi dini hari. Tiga dari paus tersebut berhasil kembali ke laut setelah dibimbing oleh para penjaga pantai (lifeguard) Tanah Lot: I Made Arinata dan I Wayan Suwendra, dengan dibantu nelayan setempat Wayan Suniarta. Mereka berenang menerjang ombak untuk memastikan para paus menemukan jalannya kembali ke lautan mulai dari pagi sampai jam tengah hari.

Pahlawan Paus
Pahlawan Paus

Satu dari paus tersebut terlalu lelah untuk berenang, sehingga kembali terdampar. Kemudian perahu nelayan, dibawah pengarahan ketua kelompok nelayan setempat Nyoman Judera, dikerahkan untuk membantu paus tersebut. Namun karena kondisinya yang kurang baik, paus itu terdampar kembali.

“Sudah bolak-balik kita menarik paus tersebut, namun selalu saja kembali ke pantai,” ujar Nyoman Noka, salah satu nelayan yang terlibat.

Paus tersebut kemudian dibiarkan beristirahat sejenak. Kelembaban kulitnya terus dijaga oleh tim lifeguard Tanah Lot dengan dibantu oleh tim Turtle Guard FKH Udayana, dan sukarelawan lainnya, seperti Wayan Suniarta dari Mengwi dan turis Pascal Drapeau dari Kanada. Mereka juga menjaga paus tersebut untuk tidak terlempar-lempar oleh pecahan ombak yang besar.

“Saya senang ikut terlibat untuk kegiatan-kegiatan seperti ini,” Kata Wayan Suniarta. Wayan lebih lanjut menekankan pentingnya masyarakat luas terinformasikan dengan baik mengenai hal-hal apa yang bisa dan perlu mereka lakukan untuk dapat terlibat dalam pelestarian lingkungan, seperti bagaimana menghadapi paus yang terdampar.

Setelah beristirahat beberapa jam, Paus tersebut kemudian secara gotong royong diangkat ke dalam perahu karet yang disumbangkan oleh Balawista Kuta Badung yang diawaki Wayan Rimoyasa, Nyoman Sujana, dan Wayan Risantara. Paus dibawa jauh ke tengah laut, sebelum dilepaskan kembali ke laut sekitar pukul 5 sore.

Made Sujana, kepala otoritas tanah Lot mengatakan bahwa tim lifeguard di tanah Lot selalu siap sedia. “Mereka mempunyai kemampuan yang sangat baik untuk menangani penyelamatan-penyelamatan di Laut”

Hal serupa juga diutarakan oleh Made Suparka, koordinator balawista Badung.

Namun sayangnya kesiapan tim lapangan ini belum didukung oleh suatu sistem cepat tanggap (rapid response) untuk dapat membantu kerja mereka dengan efisien.

“Seandainya kita tahu harus menghubungi siapa untuk meminta bantuan, kita bisa dengan lebih cepat dan lebih tepat dalam menolong paus-paus ini,” ujar I Made Arinata.

“Selat Bali dan Selat Lombok merupakan salah satu jalur ruaya paus yang penting di Indonesia,” sambung Naneng Setiasih, pimpinan yayasan Reef Check Indonesia yang membantu memberikan informasi teknis penyelamatan di lokasi. “Kejadian ini adalah kejadian mamalia laut terdampar kelima yang tercatat oleh yayasan dalam tiga tahun terakhir. Dengan semakin meningkatnya kasus ini diperlukan upaya serius untuk membangun sistem cepat tanggap serta sistem koordinasi antar instansi dan tim lapangan yang baik”

YRCI mengacungkan jempol untuk kesigapan tim lapangan dalm menghadapi kasus ini, serta bantuan masyarakat setempat yang menyediakan makanan dan minuman secara sukarela.

Untuk sementara waktu, instansi-instansi di bawah ini bisa dihubungi apabila terdapat kasus paus terdampar di Bali:

  • Balawista Badung, Kuta, nomor telepon: 0361 755660
  • Yayasan Reef Check Indoneia, telepon: 0361 3071358
  • TNC, telepon: 0361 287272

Tips menangani paus yang terdampar

  1. Pastikan bahwa Paus selalu dalam kondisi basah/lembab. Tutupi kulitnya dengan handuk/kain basah. Namun hati-hati, jangan sampai menutupi lubang napasnya di atas kepala
  2. Jangan tarik sirip atau ekornya.
  3. Jaga dari kerumanan orang. Selain mencegah Paus agar tidak stres, hal ini penting untuk menjaga keselamatan. Biarpun lemah, Paus mempunyai berat dan tenaga besar yang bisa melukai orang.
  4. Telpon otoritas setempat untuk langkah selanjutny