ilustrasi nelayanSenin pekan lalu, Kapal Hiu Macan 001, kapal pengawas milik Kementerian Kelautan dan Perikanan, yang dioperasikan Kapten Samson menangkap 10 kapal Vietnam yang masuk ke wilayah Indonesia. Kapal-kapal tersebut diduga kuat mencuri ikan di perairan Indonesia.

Satu kapal langsung dipulangkan ke Vietnam untuk mendeportasi sekitar 50 anak buah kapal, sedangkan sembilan kapal lainnya dengan masing-masing satu nakhodanya diangkut ke Stasiun PSDKP Pontianak.

Upaya menarik kapal-kapal curian dari Laut China Selatan ke Stasiun PSDKP Pontianak itu membutuhkan waktu berhari- hari karena para nakhoda atau kapten kapal sering membuat ulah. Sejumlah nakhoda menjalankan kapal dengan lambat, sekitar 3 knot, sementara yang lain merusak sejumlah mesin sehingga semua laju kapal disesuaikan dengan kapal yang paling lambat.

Direktur Kapal Pengawas Kementerian Kelautan dan Perikanan Willem Gasperz pekan lalu mengatakan, ulah para nakhoda itu memang sering menyulitkan upaya penyitaan. ”Namun, kami telah berkomitmen untuk menangkap semua kapal asing pencuri ikan di wilayah Indonesia walaupun petugas kami di laut harus bertaruh nyawa menghadapi anak buah kapal,” ujarnya.

Setibanya di Pontianak, lanjut Bambang, Stasiun PSDKP Pontianak langsung memeriksakan ikan hasil curian nelayan Vietnam itu ke dinas kelautan dan perikanan. Salah satu jenis ikan, yakni kacang-kacang, diketahui positif mengandung formalin.

”Ikan kacang-kacang itu sudah dikemas dalam plastik ketika kapal ditangkap oleh Hiu Macan 001. Ikan yang lain tidak mengandung formalin. Kami tidak tahu, apakah memang tak diberi pengawet atau belum sempat karena kapal sudah terlebih dahulu tertangkap,” lanjut Bambang.

Terkadang proses penyitaan juga terhalang alam. Misalnya saat tujuh dari total sembilan kapal nelayan Vietnam yang ditangkap di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia di Laut China Selatan kandas di muara Sungai Kapuas, Kalimantan Barat.

Kapal-kapal nelayan asing itu dalam perjalanan menuju Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Pontianak untuk disita.

Semua kapal akhirnya dapat ditarik ke Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Pontianak, Jumat (23/4) petang, setelah air laut pasang. Kepala PSDKP Pontianak Bambang Nugroho mengatakan, ketujuh kapal itu kandas pada Jumat pukul 12.30 WIB.

”Muara Kapuas rupanya sudah agak dangkal sehingga tidak bisa dilalui di beberapa tempat. Lagi pula, tidak semua petugas kami yang menjemput kapal-kapal itu merupakan petugas penangkapan. Karena keterbatasan petugas, terpaksa kami terjunkan pula pegawai dari bidang budidaya dan pengolah untuk ikut menjemput dan membawa kapal,” katanya.

Sumber: Kompas