Masyarakat Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula, Buleleng mengambil inisiatif untuk melakukan tindakan nyata pelestarian terumbu karang dengan membentuk Daerah Pengelolaan Laut (DPL) (25/8). Peresmian DPL dilakukan oleh Wakil Bupati Kabupaten Buleleng Drs. Made Arga Pynatih di pantai Taoka, Tejakula, Buleleng.
DPL ini terbentuk melalui kolaborasi dengan semua komponen masyarakat dan pihak terkait, diharapkan pembentukan DPL ini dapat menjadi solusi efektif sekaligus bentuk usaha preventif dan adapftif menghadapi krisis global ini. Persemian juga dihadiri dinas-dinas terkait antara lain Dinas Kelautan dan Perikanan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Pendidikan Kabupaten Buleleng serta unsur muspika, tokoh masyarakat, tokoh adat dan kelompok-kelompok nelayan se-Kecamatan Tejakula.
“Suatu kebanggaan dan penghargaan yang tinggi, atas semangat yang besar dari masyarakat Desa Tejakula yang berinisitif mengelola lautnya, dan bisa mengkolaborasikanya dengan berbagai pihak”, jelas Wakil Bupati dalam sambutannya, terkait munculnya DPL dari inisiatif awal kelompok nelayan dan pemerintah desa.
DPL Desa Tejakula ini akan menjadi bagian dari jaringan DPL yang direncanakan mencakup wilayah-wilayah desa sepanjang pantai Kecamatan Tejakula. Saat ini di kecamatan Tejakula, DPL telah terbentuk di Desa Bondalem, dan Desa Les. Pembentukan DPL di desa lainnya, seperti Desa Penuktukan, Pacung dan Sembiran masih dalam proses dan akan segera menyusul.
“ Semoga peresmian ini tidak hanya sebatas seremonial semata, melainkan awal bagi hari esok yang lebih baik. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama di pesisir”, Wakil Bupati dalam penutup sambutannya. Ia juga menekankan bahwa dengan potensi gunung hingga laut ini, Tejakula dapat menjadi salah satu andalan pariwisata Bali.
Konsep dasar dari pembentukan DPL ini adalah membentuk daerah tabung bagi perairan di wilayah sekitarnya. DPL yang terdiri atas beberapa zona, difungsikan sebagai daerah larang ambil yang diharapkan menjadi tembat berkembang biak dan bertumbuh bagi biota-biota laut, yang kemudian akan menyuplai perairan sekitarnya (spill over).
Dalam acara tersebut wakil bupati juga menyerahkan sertifikat selam kepada 4 orang anggota nelayan yang telah menyelesaikan pelatihan selam serta pelatihan teknik pemantauan terumbu karang. Pelatihan ini atas kerjasama kelompok nelayan, Yayasan Gaia Oasis sebagai donator dan dibantu Reef Check sebagai fasilitator.
“Hal yang membanggakan dari DPL Desa Tejakula adalah besarnya porsi yang diambil masyarakat local dalam proses terbentuknya usaha konservasi ini. Mulai dari inisiasi, proses hingga pembiayaan adalah murni kolaborasi dan usaha dari seluruh komponen masyarakat” demikian disebutkan oleh Naneng setiasih, pimpinan Reef Check Indonesia, yang memfasilitasi kerjasama dari berbagai pihak di Tejakula .
Naneng menjelaskan bahwa sejauh ini dengan sudah berdirinya beberapa DPL lain di kecamatan Tejakula, salah satunya yang diresmikan hari ini, ke depannya Kecamatan Tejakula dapat menjadi salah satu wilayah percontohan bagi pembentukan kawasan konservasi laut daerah yang berbentuk jaringan DPL.
DPL Tejakula mencakup areal sepanjang 3900feet (1,3 km) sejajar garis pantai dan 500 feet (180m) dari arah pantai ke arah laut. Terdiri atas zona inti, zona penyangga serta kawasan diluar DPL sebagai zona pemanfaatan. Tiap zona memiliki aturan-aturan yang berbeda. Zona inti berfungsi sebagai zona larang ambil (no take zone). Meskipun tertutup untuk perikanan dan ekstraksi lainnya, namun di zona ini masih diijinkan aktifitas pariwisata terbatas, seperti penyelaman scuba dan snorkeling.
Zona inti dikelilingi oleh zona penyangga yang berfungsi menyangga pengembangan zona inti. Di areal ini masih diijinkan penangkapan/perikanan tradisional. Sedangkan di sisi paling luar adalah zona pemanfaatan. Segala bentuk pemanfaatan yang tidak merusak lingkungan diijinkan di zona pemanfaatan, dengan koordinasi dengan pihak desa dan pengelola DPL.
DPL Tejakula sendiri diinisiasi sejak September 2008 oleh kelompok nelayan Baruna Bratha, salah satu kelompok nelayan di desa Tejakula. Oleh Reef Check, kemudian difasilitasi dalam bentuk kolaborasi melibatkan kerjasama dengan pengelola/ pelaku wisata di desa Tejakula, dan arahan dari kantor perbekel/kepala desa Tejakula. Melalui serangkain pertemuan dan sosialisasi, pelatihan selam, pelatihan teknik pemantauan terumbu karang, pembuatan aturan hukum, akhirnya DPL ini ditetapkan dengan keputusan desa/peraturan desa. Proses pengajuan peraturan desa ini sendiri ke dalam lembaran daerah masih dilakukan, namun sebagai kesepakatan bersama dalam masyarakat telah memiliki kekuatan mengikat.
Selain melakukan terobosoan melalui kelompok nelayan, inisiasi ini juga akan berlanjut dan dikembangkan melalui aktifitas pendidikan lingkungan. Setelah peresmian DPL, akan dimulai juga secara resmi program pendidikan yang pada tahap awal akan difokuskan di sekolah-sekolah wilayah desa Tejakula. Seperti halnya pembentukan DPL, program ini juga merupakan kerjasama dengan berbagai pihak, baik pelaku usaha, pemerintah desa, kelompok nelayan, serta pihak terkait lainnya
Susanne Schattin Roziadi dari Yayasan Gaia Oasis, menekankan agar program fisik yang selama ini dilakukan juga harus diperkuat dengan edukasi. “Pendidikan menjadi modal dasar untuk membentuk geresai esok yang lebih baik. Kegiatan-kegiatan pelestarian lingkungan yang sudah kita mulai, dan salah satunya diresmikan hari ini, harus kita topang dengan edukasi yang kuat di masyarakat” jelas Suzanne. Sejauh ini Gaia Oasis merupakan salah satu pengelola wisata yang sangat proaktif memberikan bantuan dan pendampingan kepada kelompok nelayan juga dunia sekolah di Tejakula. Bantuan tersebut mulai dari pendanaan program hingga bantuan/beasiswa ke sekolah-sekolah.
Mendukung Pengembangan Pariwisata
Kecamatan Tejakula sendiri dalam rencana pemerintah kabupaten, melalui dinas kelautan dan perikanan, ditargetkan menjadi salah satu kawasan yang akan dilestarikan dalam bentuk kawasan konservasi terumbu karang.
Kecamatan Tejakula sendiri juga sudah direncanakan untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata dengan konsep ekowisata, yaitu wisata yang berpegang pada nilai-nilai lingkungan hidup dan berbasis pada pemberdayaan masyarakat. Wilayah ini secara kesatuan memiliki peluang wisata yang besar baik wisata budaya maupun wisata alam. Secara khusus, kecamatan ini memiliki variasi dan kompleksitas pemandangan bawah laut yang luar biasa. Setiap desa memiliki keunikan ekosistem terumbu karang yang berbeda-beda yang tentunya menawarkan petualangan penyelaman yang berbeda.
Adanya DPL-DPL di wilayah ini, sesuai dengan rencana pengembangan wisata tersebut dan sekaligus mengawal jalannya pengembangan pariwisata agar tetap pada koridor ekowisata bukannya wisata massal.
DPL Tejakula ini merupakan salah satu model/percontohan bagi usaha pelestariang/pengelolaan lingkungan hidup, terutama laut dan terumbu karang yang menekankan pentingnya kolaborasi. Sharing pengetahuan, kompetensi masing-masing pihak dari semua komponen masyarakat, serta kesamaan visi akan nilai penting lingkungan hidup secara jangka panjang menjadi modal yang kuat untuk mengelola lingkungan secara berkelanjutan. Peran fasilitator/lembaga swadaya/LSM/ pihak luar, adalah sebagai pihak netral yang berfungsi untuk menyatukan para pihak, memperkuat kompetensi serta dukungan keilmuan. Dengan demikian, upaya pengelolaan terpusat pada masyarakat sendiri.
Diharapkan kerja dan sinergi yang baik dari desa dan kecamatan Tejakula ini dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain. Usaha dari berbagai pihak lain untuk bersama bahu-membahu mengelola DPL ini sangat diperlukan agar dapat memberikan sumbangan yang signifikan terhadap pengembangan desa, kecamatan, bahkan Kabupaten Singaraja, atau lebih luas lagi.
Web site ini dibuat secara gotong royong oleh berbagai pihak untuk membangun trend cinta laut serta menyediakan akses informasi yang mudah untuk bisa terlibat di dalam konservasi laut dan pesisir serta ekosistem terkaitnya, dengan saling berbagi informasi yang bersifat positif, membangun semangat, dan saling menghargai satu sama lain. Baca selengkapnya

Komentar Kamu