Pendidikan lingkungan hidup seharusnya terintegrasi dalam kurikulum pembelajaran secara induksi. Pola penempatan pendidikan lingkungan hidup (PLH) sebagai suplemen pembelajaran dianggap sulit memberi dampak optimal. Padahal, persoalan lingkungan hidup semakin kompleks, dan itu berarti kita harus melipatgandakan usaha kita.

Hal tersebut dilontarkan praktisi pendidikan sekaligus aktifis lingkungan hidup asal Belanda, Ans Van Der Jagt di SD Santa Theresia Surabaya, Senin (10/8). Van Der Jagt berdiskusi tentang pendidikan lingkungan hidup (PLH) bersama guru dari berbagai SD se-Kecamatan Tambaksari.

Van Der Jagt mengatakan, PLH di negaranya lingkungan mendapat porsi signifikan dalam pembelajaran di sekolah. Para pembuat kebijakan di sana sadar kondisi lingkungan hidup negara mereka termasuk kritis.”Negara kami terletak empat meter di bawah permukaan laut. Kami harus hidup seimbang dengan alam agar kondisi tidak menjadi lebih buruk.” ujarnya.

Untuk tujuan itu, PLH diintegrasikan dalam pembelajaran di sekolah. Sejak kecil, ungkapnya, para murid sudah dibiasakan mengenal kondisi lingkungan. “Dalam bidang matematika misalnya, kami mengajak murid menghitung berapa pengurangan atau penambahan curah hujan atau berapa tinggi tanggul harus dibangun. Jadi, kami tidak mengajarkan pengurangan atau penambahan angka tanpa makna saja.” paparnya.

Pengajaran seperti itu menurutnya akan lebih menarik bagi siswa. Selain itu, pembelajaran lebih bermakna dan siswa pun tahu apa manfaatnya. “Jika pendidikan hanya dilakukan secara parsial apalagi diperlakukan sebagai tambahan saja, sulit mendapat hasil optimal,”ujarnya.

Van Der Jagt mengatakan, proses pembelajaran juga harus memberi penjelasan arti penting lingkungan hidup. Jika tidak, siswa hanya akan mempelajari PLH sebagai bagian pelengkap tugas sekolah. Hal itu bisa menjadi bom waktu jika diteruskan. Sebab, generasi ke depan tidak menyadari arti penting lingkungan hidup. Padahal, kondisi lingkungan semakin memburuk dan bisa berdampak negatif pada manusia.

Salah seorang guru yang hadir, Mulyono, mengatakan, selama ini pihaknya memang secara parsial mengajarkan PLH. Pola pembelajaran lebih banyak berupa praktik. Terutama pembelajaran cara mendaur ulang. Mulyono mengakui tidak ada penjelasan kenapa harus ada daur ulang. Para siswa terkadang hanya melakukan itu di sekolah. “Kami juga menemui tantangan berupa pengaruh dari lingkungan di luar sekolah. Siswa kerap melihat orang di sekitar mereka sendiri membuang sampah sembarangan.”tuturnya.

Guru lain, Puji Astutik, mengatakan, PLH termasuk materi baru dalam pembelajaran. Karena itu, butuh waktu untuk mengintegrasikannya dalam pembelajaran sehari-hari. Apalagi, beban pelajaran di Indonesia sudah cukup banyak. “Para guru sedapat mungkin sudah berusaha menyisipkan materi ini dalam pembelajaran. Harus bertahap dan berbagi dengan muatan lain.” ujarnya.

Sumber : Harian Umum Duta Masyarakat.