Salah satu kasus pencemaran yang biasanya paling ramai adalah pencemaran akibat tumpahan minyak. Kenapa?Dalam salah satu adegan film dokumenter terbaru tentang masalah lingkungan “The Age of Stupid”, seorang gadis Kenya bahkan harus mencuci ikan yang ditangkapnya dari sebuah perairan yang tercemar dengan menggunakan deterjen. Bahkan masih saja hangat ialah kasus pencemaran minyak yang mengancam Laut Timor.

Ada apa sebenarnya? Tumpahan minyak dapat memiliki pengaruh yang sangat buruk bagi perairan laut maupun bagi manusia. Limbah tumpahan minyak dapat menghalangi fitoplankton, rumput laut dan alga yang bersimbiosis dengan koloni karang (zooxanthellae) berfotosintesis karena sinar matahari tidak dapat menembus permukaan air yang tertutupi lapisan minyak. Dengan berkurangnya kemampuan fotosintesis maka banyak hewan laut kekurangan oksigen, apabila tumpahan minyak berada dalam jumlah besar maka kondisi perairan laut tersebut akan menjadi anoxic.

Limbah tumpahan minyak juga sangat berbahaya jika masuk ke dalam rantai makanan melalui hewan-hewan laut baik dari saluran pencernaan maupun berdifusi melalu kulit. Apabila hewan-hewan dan organisme lain di laut ini dikonsumsi oleh manusia, racun akan mengendap dalam tubuh dan dalam jangka panjang bias mengakibatkan gangguan reproduksi dan kanker bahkan kematian seketika apabila racun yang terkandung dalam biota laut yang kita makan berada dalan jumlah besar. Bagi organisme laut sendiri tumpahan minyak yang beremulsi dengan massa air akan sangat berbahaya terutama bagi telur, larva, dan perkembangan embrio karena pada tahap ini sangat rentan pada lingkungan tercemar. Selain menjadi racun bagi kehidupan laut, polycyclic aromatic hydrocarbon (PAHs) yang merupakan komponen-komponen dalam minyak mentah, sangat sulit untuk dibersihkan, dan terendap selama bertahun-tahun dalam sedimen dan lingkungan laut.

Pertamina ( 2002) sendiri menyebutkan ada beberapa jalan masuk terjadinya pencemaran di laut. Jalan masuk tersebut berasal dari : ladang minyak bawah laut, operasi kapal tanker, docking (Perbaikan/Perawatan Kapal), terminal bongkar muat tengah laut, tanki ballast dan tanki bahan bakar, Scrapping kapal (pemotongan badan kapal untuk menjadi besi tua, kecelakaan tanker (kebocoran lambung, kandas, ledakan, kebakaran dan tabrakan), sumber di darat (minyak pelumas bekas, atau cairan yang mengandung hydrocarbon ( perkantoran & industri), tempat pembersihan (dari limbah pembuangan refinery ).

Lalu bila terjadi tumpahan minyak apa yang dilakukan? Ada beberapa cara untuk membersihkan limbah ini antara lain adalah:

  1. Minyak digiring dengan boom, sejenis pagar/jaring mengapung yang ditahan oleh jangkar, atau diikatkan pada kapal-kapal atau benda-benda lain di pantai. Boom ini mencegah meluasnya sebagian besar minyak yang mengambang. Sebuah mesin yang dinamakan “skimmer” kemudian mengangkut minyak dari permukaan air dan menyedotnya melalui sebuah selang ke dalam tangki penampung limbah.
  2. Minyak yang masih tersisa di air diserap dengan material-material seperti serbuk gergaji, gambut, bulu, atau tanah liat. Setelah sebanyak mungkin minyak disendok, diserap, dan disingkirkan dari permukaan, maka sisanya akan siap untuk dibakar. Membakar minyak yang tersisa tersebut akan menghasilkan asap beracun, tetapi masih lebih baik dari pada meninggalkannya di air.
  3. Cara yang lebih ramah lingkungan adalah bioremediasi yaitu menggunakan organisme mikroskopik yang dapat mengurai minyak menjadi komponen yang tidak berbahaya. Penambahan mikroba ini tentunya akan memakan biaya yang jauh lebih besar daripada menggunakan cara pertama.
  4. Belakangan mulai dikembangakan kasa nanowire yang dapat diletakkan di perairan laut selama 1-2 bulan agar dapat menyerap limbah tumpahan minyak lebih efektif dan aman bagi lingkungan.

Berbagai cara penanggulang tersebut tidaklah murah dan pasti menyisakan residu di alam. Cara yang paling baik dilakukan tentu saja melakukan pencegahan terjadinya tumpahan minyak di perairan laut.

Pertamina ( 2002), Pencemaran minyak di laut berasal dari : (1) Ladang Minyak Bawah Laut; (2)Operasi Kapal Tanker; (3) Docking (Perbaikan/Perawatan Kapal); (4) Terminal Bongkar Muat Tengah Laut; (5)Tanki Ballast dan Tanki Bahan Bakar; (6)Scrapping Kapal (pemotongan badan kapal untuk menjadi besi tua); (7) Kecelakaan Tanker (kebocoran lambung, kandas, ledakan, kebakaran dan tabrakan); (8)Sumber di Darat (minyak pelumas bekas, atau cairan yang mengandung hydrocarbon ( perkantoran & industri ); (9)Tempat Pembersihan (dari limbah pembuangan Refinery )