Pemutihan karang terjadi pada saat karang (keras dan lunak) dan hewan-hewan laut lain yang bersimbiosis dengan zooxanthellae kehilangan zooxanthellae- nya karena suatu tekanan/stress tertentu. Pada banyak hewan karang keras (hard coral), zooxanthellae merupakan pemberi warna utama. Oleh karena itu, kehilangan zooxantellae akan membuat warnanya memucat, sampai pada akhirnya jaringan karang menjadi transparan, memperlihatkan warna putih kerangka kapur di bawahnya. Beberapa karang membuat semacam tabir surya pada saat hal ini terjadi, sehinga karang tampak berwarna pastel (biru, kuning, merah muda) (Dove et all, 2001).

Banyak macam tekanan yang dapat membuat karang memutih, seperti misalnya penyakit, racun (bahan kimia), dan lain-lain. Namun penyebab utama pemutihan karang dalam skala luas adalah kombinasi dari kenaikan temperatur air laut dan intensitas cahaya (Hoegh-Guldberg 1999).

Pada saat terjadi kenaikan suhu, zooxanthellae menghasilkan oksigen radikal yang akan merusak jaringan hewan yang ditempatinya. Oleh karena itu, mau tidak mau hewan tersebut harus melepaskan zooxanthellae tersebut untuk mencegah kerusakan jaringan. Jumlah zooxanthellae yang dilepaskan tergantung dari jumlah radikal bebas yang dihasilkan; tergantung dari intensitas dan lamanya hewan terdedah pada kenaikan suhu tersebut.

Dengan kecenderungan suhu bumi yang terus menaik karena pemanasan global, kejadian pemutihan terumbu karang skala luas diperkirakan akan terjadi semakin sering dengan intensitas yang meningkat. Apabila kenaikan suhu ini dibandingkan dengan batas toleransi karang terhadap pemutihan dalam 100 tahun terakhir, maka pada tahun 2020, diprediksikan bahwa pemutihan terumbu karang akan terjadi setiap tahun (Hoegh-Guldberg, 1999).

Dampak dari pemutihan karang

Para pengamat terumbu karang di Indonesia dan di seluruh dunia tentunya ingat bahwa pada tahun 1997-1998 terumbu karang di banyak tempat mengalami pemutihan. Beberapa daerah terumbu mengalami penyembuhan (recovery) yang cukup cepat, sementara banyak tempat lain yang sampai saat ini tidak mempunyai kemajuan yang berarti. Wilkonson (1999) mengestimasi bahwa sekitar 16% terumbu karang dunia mati sebagai akibat dari pemutihan massal ini. Selain itu, diperkirakan kejadian ini kemungkinan akan menyebabkan kepunahan pada beberapa spesies karang di sekitar Panama dan Okinawa (WWF dan TNC, 2001).

Di Indonesia, pada tahun 1997-1998, pemutihan karang yang mencapai sekitar 50% atau lebih dari tutupan karang tercatat terjadi di Taman Nasional Bali Barat (mencapai hingga 100%), Karimun Jawa, Taman Nasional Pulau Seribu, Kepulauan Gili, Lombok (mencapai hingga 90%) dan Kalimatan Timur. Tingkat kematian dari karang yang terkena pemutihan tersebut di Karimun Jawa mencapai 50-60% (irdez et all, 1998).

Kerusakan yang terjadi pada terumbu karang ini tentunya akan mengurangi pelayanan dan jasa yang diberikan terumbu karang kepada manusia. Kerugian ekonomi dari terdegradasinya the Great Barrier Reef di Australia dalam skenario kenaikan suhu akibat pemanasan global telah diestimasi untuk mencapai sedikitnya US$2,5-6 milyar dalam 19 tahun (WWF, 2004). Di Asia Tenggara sendiri, apabila terjadi pemutihan karang yang sangat parah dalam 50 tahun kedepan, nilai jasa dan produk yang hilang dari perikanan, pariwisata, dan kerusakan keanekaragaman dapat mencapai US$ 38,3 miliar (Cesar et all, 2003).

Pengelolaan terumbu karang dengan memperhatikan aspek pemutihan karang

Melihat besarnya dampak dan luasnya area yang dapat dipengaruhi, pemutihan terumbu karang saat ini diperkirakan merupakan salah satu ancaman yang sangat penting untuk diperhatikan dalam pengelolaan terumbu karang.

Pengelolaan terumbu karang konvensional umumnya masih mengesampingkan aspek pemutihan karang. Hal ini berarti, besar kemungkinan suatu tempat yang sama sekali tidak mempunyai kelentingan (resilience) terhadap pemutihan karang dilindungi dengan ketat, sementara tempat yang sangat lenting terhadap pemutihan karang justru tidak dilindungi. Untuk mencegah kejadian seperti ini, seorang pengelola perlu paham benar faktor-faktor apa saja yang berperan besar dalam menjaga dan atau meningkatkan kelentingan terumbu karang terhadap pemutihan global.

Berdasarkan pada beberapa studi pustaka dan pengumpulan data pengamatan secara sistematik dari para peneliti di lapangan, teredapat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap ketahanan (resistance) and kelentingan terumbu karang terhadap pemutihan (West and Salm 2003). Faktor-faktor ini adalah:

  • Faktor yang menurunkan suhu (misalkan upwelling lokal, dan jarak yang dekat ke kolom laut yang dalam)
  • Faktor yang meningkatkan pergerakan air dan menghanyutkan zat-zat kimia yang berbahaya (seperti selat yang sempit, arus kencang, channel, dll)
  • Faktor yang mengurangi tingkat keterdedahan terhadap radiasi cahaya (seperti bayangan dari pegunungan di atas hamparan karang, kekeruhan air, dll)
  • Faktor yang mengindikasikan potensial pre-adaptasi kepada suhu dan tekanan lain (seperti daerah yang terdedah pada temperatur yang bervariasi, karang yang secara regular terekspos pada saat surut, sejarah survival dari pemutihan karang, dll)
  • Faktor yang meindikasikan potensial penyembuhan yang kuat (seperti larva karang yang melimpah dan tingkat perekruitan larva yang tinggi)
  • Faktor yang meningkatkan transport larva ke daerah tersebut (adanya hubungan-connectivity- yang baik ke sumber larva)
  • Faktor yang meningkatkan kondisi yang baik bagi perekruitan larva (struktur komunitas yang beragam dan ada nya pengelolaan yang efektif)

Lima faktor pertama berhubungan erat dengan kondisi alam terumbu karang. Kondisi alam dengan faktor-faktor inilah yang harus menjadi pertimbangan pemilihan lokasi perlindungan, atau permintakatan (zonasi) suatu zona lindungan.

Dua faktor terakhir berkaitan erat dengan upaya langsung implementasi pengelolaan di lapangan. Banyak ahli memprediksikan bahwa pengelolaan yang efektif dapat mengurangi tekanan pada karang. Dengan demikian terumbu berada dalam kondisi yang prima pada saat pemutihan karang terjadi.

Pengelolaan juga tidak bisa hanya terfokus pada suatu daerah, namun harus memperhitungkan hubungan (connectivity) dengan daerah-daerah lain. Ini artinya, pengelola daerah-daerah lindungan harus membangun jaringan kerja yang baik untuk menjaga agar konektifitas antara penyuplai dan penerima larva terjaga.

Namun perlu dicatat bahwa semua upaya yang dilakukan untuk membantu karang beradaptasi terhadap pemutihan karang merupakan upaya “membeli waktu”. Untuk mengatasi pemutihan karang secara menyeluruh, diperlukan upaya yang keras dalam mengurangi emisi gas rumah kaca sebagai penyebab utama pemanasan global.

Catatan kaki:

Sangat penting untuk dapat memahami karakteristik dari pemutihan karang serta pola penyebaran, ketahanan, dan kelentingannya agar pengelola dapat mengambil keputusan yang tepat dalam membantu terumbu karang beradaptasi terhadap pemutihan karang. Untuk itu diperlukan adanya upaya pemantauan terumbu karang yang terstruktur dan berkesinambungan dalam skala luas. Para pembaca di Indonesia yang berminat dapat menghubungi LIPI (Critics) atau WWF Indonesia (program Friends of the Reef).