Laut Sawu terletak di Kawasan Indonesia Timur, pada pertemuan penting dua samudra termasuk pula celah laut dan juga daerah up-welling yang penting secara regional di Kawasan Indo-Pasifik. Selat Omba sebagai lintasan utama, adalah celah batas antara Indonesia dan Timor Timur.

Survei akustik dan visual yang luas selama beberapa tahun serta kegiatan riset telah dilaksanakan di wilayah kepulauan Solor-Alor untuk mengetahui peran ekologi penting Laut Sawu bagi Cetacean besar seperti Paus Biru, Paus Bryde’s dan Paus Sperm and juga untuk mengevaluasi keberlangsungan perikanan tradisionil paus sperm di Pulau Lamalera dan Lembata. Program survey dan riset ini telah mengidentifikasi daerah Kepulauan Solor – Alor sebagai salah satu habitat yang sangat penting untuk cetacean samudra di Perairan Indonesia, hal ini dicirikan dengan:
• Keanekaragaman habitat dan jenis cetacean (laut dalam – dekat pantai)
• Sebaran cetacean besar yang konsisten seperti paus biru dan paus sperm yang relatif dekat dengan pantai.
• Kelimpahan paus biru yang relatif tinggi (khusus di perairan Indonesia)
• Tingkat interaksi yang tinggi (kelompok yang saling bercampur dan kegiatan2 dalam hubungan predator-pemangsaan seperti serangan Orca-Paus Sperm).
• Habitat-habitat kritis yang penting untuk berbagai jenis Cetacean (celah laut Selat Ombai antara Alor dan Timor Timur, yaitu daerah utama upwelling pada musim-musim tertentu.
• Tekanan perikanan yang tinggi dimana Paus sperm and Paus Baleen merupakan jenis target bagi perikanan traditional masyarakat dan kegiatan perikanan modern memiliki dampak potensial berupa hasil tangkapan sampingan.
• Memiliki potensi penting dan dibutuhkan perhatian pemerintah untuk mengembangkan wisata ‘melihat paus’.

Pada Mei-Juli tahun 2005, 2 buah penanda satelit (tanda pemunculan) berhasil dipasangkan pada paus sperm dan paus biru, suatu kegiatan penandaan paus yang pertama di Indonesia dan kemungkinan di Asia Tenggara. Penanda satelit diprogramkan untuk mengumpulkan data oseanografi dan perilaku selam selama masing-masing 42 dan 60 hari. Paus biru dengan penanda pemunculan melakukan transmisi pada tanggal 01 Juli 2005 pada Lintang Selatan 7.3 and Bujur Timur 130.4 dengan jarak pergerakan sekitar 685 km (garis lurus) dari posisi awal. Secara keseluruhan jalur Paus biru tersebut melalui arah Timur-Utara-Timur dan melewati Alor, Selat Ombai, Wetar, Bar Bar, Kelompok Kepulauan Yamdena dan berakhir di sebelah tenggara Laut Banda. Hasil penyelaman menunjukkan bahwa:

1. Suatu perubahan yang nyata dalam frekuensi kedalaman pada saat siang dan malam hari (Pola-pola yang berbeda dalam perilaku selam dimana Paus Biru secara relatif menyelam pada kedalaman lebih dari 200 meter pada siang hari).
2. Perubahan suhu yang nyata pada kedalaman mengindikasikan penyelaman melalui lapisan Thermocline pada kisaran suhu 290 C – 130 C pada kedalaman antara 0 – 265m (Kondisi oseanografi di daerah ini sangat dipengaruhi oleh Aliran Laut Indonesia).

Kedalaman yang tercatat (maksimum 265m) berkaitan dengan kisaran kedalaman yang disukai Paus Biru saat mencari makan seperti juga dilaporkan dari region-region lainnya. Kedalaman penyelaman yang sering (>200m) pada siang hari juga menunjukkan bahwa Paus Biru yang ditandai mencari makan di Laut Sawu dan Banda. Lebih lanjut, periode selama mencari makan diikuti dengan menyelam di perairan dangkal dalam waktu yang lama pada kedalaman maksimum atau dekat pada permukaan (0-50m), diperkirakan untuk mencari dan mendekati habitat-habitat lokal yang lain yang memiliki konsentrasi mangsa yang tinggi atau untuk menyelaraskan perilaku migrasi.

Berdasarkan hasil dari individu yang diamati, Paus Biru menghabiskan setidaknya beberapa bulan dalam setahun bermigrasi melalui laut di Indonesia Timur. Hal ini menunjukkan bahwa Paus Biru yang ditandai tidak melakukan pergerakan Utara-Selatan yang luas selama periode pemasangan transmitter, yang didukung pula dengan data lingkungan.

Proporsi waktu yang lebih lama dekat permukaan air saat malam hari oleh Paus Biru ini menunjukkan resiko yang besar berinteraksi dengan kegiatan perikanan, yang dapat berakibat Paus terlilit. Jaring insang yang dipasang di daerah lepas pantai, suatu methode penangkapan ikan yang umum di Indonesia, sungguh merupakan suatu keprihatinan, demikian pula dengan pancing rawai.

Praktek penangkapan dengan menggunakan bom yang merusak di daerah terumbu karang adalah suatu ancaman serius di perairan Indonesia. Degradasi habitat nampaknya sering terjadi seiring dengan penggunaan bom di daerah dekat selat-selat dapat menghalangi Paus mengikuti jalur migrasi atau menangguhkan kegiatan mencari makan. Dampak langsung praktek penggunaan bom tidak dapat diketahui, khususnya pada paus-paus yang terlihat pada kisaran yang dekat (50-500m) dari pantai-pantai terumbu karang. Semua ancaman-ancaman perikanan baik lokal dan komersial perlu diteliti lebih lanjut dan dikuantifikasi. Selain itu, tabrakan dari kapal juga tidak diketahui, namun kemungkinan juga merupakan ancaman yang nyata pada Paus Biru. Daerah riset di Laut Sawu adalah jalur utama pelayaran International antara berbagai Negara dari sebelah barat dan selatan samudra India ke Asia (termasuk pula kapal tanker minyak dan gas dan pengangkut besar). Sejauh ini diketahui bahwa jalur kapal ini saling tumpang tindih dengan koridor-koridor migrasi yang utama bagi cetacean besar di Peraitan Indonesia.

Suatu Daerah Perlindungan Laut (DPL) yang luas sedang dikembangkan di bentang laut Sawu, dengan tujuan utama untuk mengelola tekanan-tekanan terhadap cetacean dan satwa laut lain yang besar yang sedang meningkat cepat dan juga untuk melindungi habitat-habitat lain yang saling berhubungan. Suatu kerangka pengelolaan juga diperlukan untuk mengembangkan kegiatan ‘melihat paus’ yang bertanggung jawab di suatu kawasan yang terpencil. Terlebih penting, prakarsa ini akan meningkatkan keterwakilan habitat-habitat laut dalam dekat pantai dalam jaringan-jaringan Daerah Perlindungan Laut. Pendekatan konservasi ini relevan digunakan sebagai suatu model bagi jalur-jalur migrasi di Papua New Guinea (PNG) dan Kepulauan Salomon, dimana keduanya juga merupakan Negara kepulauan yang memiliki keanekaragaman cetacean yang sangat tinggi. Tampaknya bahwa setidaknya sebagian populasi Paus Biru di Indonesia bermigrasi ke atau dari bagian atau bahkan lebih dari bagian barat Australia. Program pencocokan individu melalui identifikasi photo, transmisi satelit dan kajian genetik dapat dimungkinkan disamping juga mempelajari aspek-aspek ekologi lain dari jenis yang masih kurang datanya ini.

Laut Sawu terletak di Kawasan Indonesia Timur, pada pertemuan penting dua samudra termasuk pula celah laut dan juga daerah up-welling yang penting secara regional di Kawasan Indo-Pasifik. Selat Omba sebagai lintasan utama, adalah celah batas antara Indonesia dan Timor Timur. Survei akustik dan visual yang luas selama beberapa tahun serta kegiatan riset telah dilaksanakan di wilayah kepulauan Solor-Alor untuk mengetahui peran ekologi penting Laut Sawu bagi Cetacean besar seperti Paus Biru, Paus Bryde’s dan Paus Sperm and juga untuk mengevaluasi keberlangsungan perikanan tradisionil paus sperm di Pulau Lamalera dan Lembata. Program survey dan riset ini telah mengidentifikasi daerah Kepulauan Solor – Alor sebagai salah satu habitat yang sangat penting untuk cetacean samudra di Perairan Indonesia, hal ini dicirikan dengan:
• Keanekaragaman habitat dan jenis cetacean (laut dalam – dekat pantai)
• Sebaran cetacean besar yang konsisten seperti paus biru dan paus sperm yang relatif dekat dengan pantai.
• Kelimpahan paus biru yang relatif tinggi (khusus di perairan Indonesia)
• Tingkat interaksi yang tinggi (kelompok yang saling bercampur dan kegiatan2 dalam hubungan predator-pemangsaan seperti serangan Orca-Paus Sperm).
• Habitat-habitat kritis yang penting untuk berbagai jenis Cetacean (celah laut Selat Ombai antara Alor dan Timor Timur, yaitu daerah utama upwelling pada musim-musim tertentu.
• Tekanan perikanan yang tinggi dimana Paus sperm and Paus Baleen merupakan jenis target bagi perikanan traditional masyarakat dan kegiatan perikanan modern memiliki dampak potensial berupa hasil tangkapan sampingan.
• Memiliki potensi penting dan dibutuhkan perhatian pemerintah untuk mengembangkan wisata ‘melihat paus’.

Pada May-July tahun 2005, 2 buah penanda satelit (tanda pemunculan) berhasil dipasangkan pada paus sperm dan paus biru, suatu kegiatan penandaan paus yang pertama di Indonesia dan kemungkinan di Asia Tenggara. Penanda satelit diprogramkan untuk mengumpulkan data oseanografi dan perilaku selam selama masing-masing 42 dan 60 hari. Paus biru dengan penanda pemunculan melakukan transmisi pada tanggal 01 Juli 2005 pada Lintang Selatan 7.3 and Bujur Timur 130.4 dengan jarak pergerakan sekitar 685 km (garis lurus) dari posisi awal. Secara keseluruhan jalur Paus biru tersebut melalui arah Timur-Utara-Timur dan melewati Alor, Selat Ombai, Wetar, Bar Bar, Kelompok Kepulauan Yamdena dan berakhir di sebelah tenggara Laut Banda. Hasil penyelaman menunjukkan bahwa:

1. Suatu perubahan yang nyata dalam frekuensi kedalaman pada saat siang dan malam hari (Pola-pola yang berbeda dalam perilaku selam dimana Paus Biru secara relatif menyelam pada kedalaman lebih dari 200 meter pada siang hari).
2. Perubahan suhu yang nyata pada kedalaman mengindikasikan penyelaman melalui lapisan Thermocline pada kisaran suhu 290 C – 130 C pada kedalaman antara 0 – 265m (Kondisi oseanografi di daerah ini sangat dipengaruhi oleh Aliran Laut Indonesia).

Kedalaman yang tercatat (maksimum 265m) berkaitan dengan kisaran kedalaman yang disukai Paus Biru saat mencari makan seperti juga dilaporkan dari region-region lainnya. Kedalaman penyelaman yang sering (>200m) pada siang hari juga menunjukkan bahwa Paus Biru yang ditandai mencari makan di Laut Sawu dan Banda. Lebih lanjut, periode selama mencari makan diikuti dengan menyelam di perairan dangkal dalam waktu yang lama pada kedalaman maksimum atau dekat pada permukaan (0-50m), diperkirakan untuk mencari dan mendekati habitat-habitat lokal yang lain yang memiliki konsentrasi mangsa yang tinggi atau untuk menyelaraskan perilaku migrasi.

Berdasarkan hasil dari individu yang diamati, Paus Biru menghabiskan setidaknya beberapa bulan dalam setahun bermigrasi melalui laut di Indonesia Timur. Hal ini menunjukkan bahwa Paus Biru yang ditandai tidak melakukan pergerakan Utara-Selatan yang luas selama periode pemasangan transmitter, yang didukung pula dengan data lingkungan.

Proporsi waktu yang lebih lama dekat permukaan air saat malam hari oleh Paus Biru ini menunjukkan resiko yang besar berinteraksi dengan kegiatan perikanan, yang dapat berakibat Paus terlilit. Jaring insang yang dipasang di daerah lepas pantai, suatu methode penangkapan ikan yang umum di Indonesia, sungguh merupakan suatu keprihatinan, demikian pula dengan pancing rawai.

Praktek penangkapan dengan menggunakan bom yang merusak di daerah terumbu karang adalah suatu ancaman serius di perairan Indonesia. Degradasi habitat nampaknya sering terjadi seiring dengan penggunaan bom di daerah dekat selat-selat dapat menghalangi Paus mengikuti jalur migrasi atau menangguhkan kegiatan mencari makan. Dampak langsung praktek penggunaan bom tidak dapat diketahui, khususnya pada paus-paus yang terlihat pada kisaran yang dekat (50-500m) dari pantai-pantai terumbu karang. Semua ancaman-ancaman perikanan baik lokal dan komersial perlu diteliti lebih lanjut dan dikuantifikasi. Selain itu, tabrakan dari kapal juga tidak diketahui, namun kemungkinan juga merupakan ancaman yang nyata pada Paus Biru. Daerah riset di Laut Sawu adalah jalur utama pelayaran International antara berbagai Negara dari sebelah barat dan selatan samudra India ke Asia (termasuk pula kapal tanker minyak dan gas dan pengangkut besar). Sejauh ini diketahui bahwa jalur kapal ini saling tumpang tindih dengan koridor-koridor migrasi yang utama bagi cetacean besar di Peraitan Indonesia.

Suatu Daerah Perlindungan Laut (DPL) yang luas sedang dikembangkan di bentang laut Sawu, dengan tujuan utama untuk mengelola tekanan-tekanan terhadap cetacean dan satwa laut lain yang besar yang sedang meningkat cepat dan juga untuk melindungi habitat-habitat lain yang saling berhubungan. Suatu kerangka pengelolaan juga diperlukan untuk mengembangkan kegiatan ‘melihat paus’ yang bertanggung jawab di suatu kawasan yang terpencil. Terlebih penting, prakarsa ini akan meningkatkan keterwakilan habitat-habitat laut dalam dekat pantai dalam jaringan-jaringan Daerah Perlindungan Laut. Pendekatan konservasi ini relevan digunakan sebagai suatu model bagi jalur-jalur migrasi di Papua New Guinea (PNG) dan Kepulauan Salomon, dimana keduanya juga merupakan Negara kepulauan yang memiliki keanekaragaman cetacean yang sangat tinggi. Tampaknya bahwa setidaknya sebagian populasi Paus Biru di Indonesia bermigrasi ke atau dari bagian atau bahkan lebih dari bagian barat Australia. Program pencocokan individu melalui identifikasi photo, transmisi satelit dan kajian genetik dapat dimungkinkan disamping juga mempelajari aspek-aspek ekologi lain dari jenis yang masih kurang datanya ini.

Laut Sawu terletak di Kawasan Indonesia Timur, pada pertemuan penting dua samudra termasuk pula celah laut dan juga daerah up-welling yang penting secara regional di Kawasan Indo-Pasifik. Selat Omba sebagai lintasan utama, adalah celah batas antara Indonesia dan Timor Timur. Survei akustik dan visual yang luas selama beberapa tahun serta kegiatan riset telah dilaksanakan di wilayah kepulauan Solor-Alor untuk mengetahui peran ekologi penting Laut Sawu bagi Cetacean besar seperti Paus Biru, Paus Bryde’s dan Paus Sperm and juga untuk mengevaluasi keberlangsungan perikanan tradisionil paus sperm di Pulau Lamalera dan Lembata. Program survey dan riset ini telah mengidentifikasi daerah Kepulauan Solor – Alor sebagai salah satu habitat yang sangat penting untuk cetacean samudra di Perairan Indonesia, hal ini dicirikan dengan:
• Keanekaragaman habitat dan jenis cetacean (laut dalam – dekat pantai)
• Sebaran cetacean besar yang konsisten seperti paus biru dan paus sperm yang relatif dekat dengan pantai.
• Kelimpahan paus biru yang relatif tinggi (khusus di perairan Indonesia)
• Tingkat interaksi yang tinggi (kelompok yang saling bercampur dan kegiatan2 dalam hubungan predator-pemangsaan seperti serangan Orca-Paus Sperm).
• Habitat-habitat kritis yang penting untuk berbagai jenis Cetacean (celah laut Selat Ombai antara Alor dan Timor Timur, yaitu daerah utama upwelling pada musim-musim tertentu.
• Tekanan perikanan yang tinggi dimana Paus sperm and Paus Baleen merupakan jenis target bagi perikanan traditional masyarakat dan kegiatan perikanan modern memiliki dampak potensial berupa hasil tangkapan sampingan.
• Memiliki potensi penting dan dibutuhkan perhatian pemerintah untuk mengembangkan wisata ‘melihat paus’.

Pada May-July tahun 2005, 2 buah penanda satelit (tanda pemunculan) berhasil dipasangkan pada paus sperm dan paus biru, suatu kegiatan penandaan paus yang pertama di Indonesia dan kemungkinan di Asia Tenggara. Penanda satelit diprogramkan untuk mengumpulkan data oseanografi dan perilaku selam selama masing-masing 42 dan 60 hari. Paus biru dengan penanda pemunculan melakukan transmisi pada tanggal 01 Juli 2005 pada Lintang Selatan 7.3 and Bujur Timur 130.4 dengan jarak pergerakan sekitar 685 km (garis lurus) dari posisi awal. Secara keseluruhan jalur Paus biru tersebut melalui arah Timur-Utara-Timur dan melewati Alor, Selat Ombai, Wetar, Bar Bar, Kelompok Kepulauan Yamdena dan berakhir di sebelah tenggara Laut Banda. Hasil penyelaman menunjukkan bahwa:

1. Suatu perubahan yang nyata dalam frekuensi kedalaman pada saat siang dan malam hari (Pola-pola yang berbeda dalam perilaku selam dimana Paus Biru secara relatif menyelam pada kedalaman lebih dari 200 meter pada siang hari).
2. Perubahan suhu yang nyata pada kedalaman mengindikasikan penyelaman melalui lapisan Thermocline pada kisaran suhu 290 C – 130 C pada kedalaman antara 0 – 265m (Kondisi oseanografi di daerah ini sangat dipengaruhi oleh Aliran Laut Indonesia).

Kedalaman yang tercatat (maksimum 265m) berkaitan dengan kisaran kedalaman yang disukai Paus Biru saat mencari makan seperti juga dilaporkan dari region-region lainnya. Kedalaman penyelaman yang sering (>200m) pada siang hari juga menunjukkan bahwa Paus Biru yang ditandai mencari makan di Laut Sawu dan Banda. Lebih lanjut, periode selama mencari makan diikuti dengan menyelam di perairan dangkal dalam waktu yang lama pada kedalaman maksimum atau dekat pada permukaan (0-50m), diperkirakan untuk mencari dan mendekati habitat-habitat lokal yang lain yang memiliki konsentrasi mangsa yang tinggi atau untuk menyelaraskan perilaku migrasi.

Berdasarkan hasil dari individu yang diamati, Paus Biru menghabiskan setidaknya beberapa bulan dalam setahun bermigrasi melalui laut di Indonesia Timur. Hal ini menunjukkan bahwa Paus Biru yang ditandai tidak melakukan pergerakan Utara-Selatan yang luas selama periode pemasangan transmitter, yang didukung pula dengan data lingkungan.

Proporsi waktu yang lebih lama dekat permukaan air saat malam hari oleh Paus Biru ini menunjukkan resiko yang besar berinteraksi dengan kegiatan perikanan, yang dapat berakibat Paus terlilit. Jaring insang yang dipasang di daerah lepas pantai, suatu methode penangkapan ikan yang umum di Indonesia, sungguh merupakan suatu keprihatinan, demikian pula dengan pancing rawai.

Praktek penangkapan dengan menggunakan bom yang merusak di daerah terumbu karang adalah suatu ancaman serius di perairan Indonesia. Degradasi habitat nampaknya sering terjadi seiring dengan penggunaan bom di daerah dekat selat-selat dapat menghalangi Paus mengikuti jalur migrasi atau menangguhkan kegiatan mencari makan. Dampak langsung praktek penggunaan bom tidak dapat diketahui, khususnya pada paus-paus yang terlihat pada kisaran yang dekat (50-500m) dari pantai-pantai terumbu karang. Semua ancaman-ancaman perikanan baik lokal dan komersial perlu diteliti lebih lanjut dan dikuantifikasi. Selain itu, tabrakan dari kapal juga tidak diketahui, namun kemungkinan juga merupakan ancaman yang nyata pada Paus Biru. Daerah riset di Laut Sawu adalah jalur utama pelayaran International antara berbagai Negara dari sebelah barat dan selatan samudra India ke Asia (termasuk pula kapal tanker minyak dan gas dan pengangkut besar). Sejauh ini diketahui bahwa jalur kapal ini saling tumpang tindih dengan koridor-koridor migrasi yang utama bagi cetacean besar di Peraitan Indonesia.

Suatu Daerah Perlindungan Laut (DPL) yang luas sedang dikembangkan di bentang laut Sawu, dengan tujuan utama untuk mengelola tekanan-tekanan terhadap cetacean dan satwa laut lain yang besar yang sedang meningkat cepat dan juga untuk melindungi habitat-habitat lain yang saling berhubungan. Suatu kerangka pengelolaan juga diperlukan untuk mengembangkan kegiatan ‘melihat paus’ yang bertanggung jawab di suatu kawasan yang terpencil. Terlebih penting, prakarsa ini akan meningkatkan keterwakilan habitat-habitat laut dalam dekat pantai dalam jaringan-jaringan Daerah Perlindungan Laut. Pendekatan konservasi ini relevan digunakan sebagai suatu model bagi jalur-jalur migrasi di Papua New Guinea (PNG) dan Kepulauan Salomon, dimana keduanya juga merupakan Negara kepulauan yang memiliki keanekaragaman cetacean yang sangat tinggi. Tampaknya bahwa setidaknya sebagian populasi Paus Biru di Indonesia bermigrasi ke atau dari bagian atau bahkan lebih dari bagian barat Australia. Program pencocokan individu melalui identifikasi photo, transmisi satelit dan kajian genetik dapat dimungkinkan disamping juga mempelajari aspek-aspek ekologi lain dari jenis yang masih kurang datanya ini.

Oleh Benjamin Kahn, Direktur APEX Environmental Program Cetacean Laut Asia-Pacific