Di pemukiman Bajau, tiap orang bertekad mengubah hidupnya. Mereka menunjukkan itu lewat benda-benda elektronik yang disimbolkan sebagai modernisasi dan merantau ke wilayah Urban dan pulang dengan cerita bahwa di kota, segalanya lebih baik daripada tinggal di pesisir yang tak lagi menyediakan ikan-ikan melimpah.

Bagi Parman, pemuda Bajau kelahiran 1986 tak ada yang salah dengan hal itu, namun Ia sendiri tetap memilih tinggal di pemukimannya dan memulai perbaikan pesisir dengan tindakan kecil ; menanam mangrove, membuat terumbu karang buatan dan membudidayakan ikan. Parman berperawakan sederhana dan bermimpi jadi astronot, namun ia melihat tindakan yang paling realistis dan bisa dicapainya dalam waktu dekat bukanlah astronot, melainkan ; membudidayakan ikan dan membuat terumbu karang buatan di sekitar desanya.

Sore hari di Desa Mekar Indah adalah waktu yang menyenangkan menyaksikan matahari terbenam. Rumah warga dibangun dengan cara simbolik untuk menunjukkan identitas etnik sea gypsi—dapur di atas air dan sebagian badan rumah di darat. Dulunya, pada tahun 1970-an, seluruh rumah di apungkan di atas air dengan tiang penyangga dari batang bakau. Lambat laut, ketika jumlah penduduk bertambah, sebagian pesisir di timbun batu karang dan mulailah kehidupan ‘darat’ berjalan.

Desa Mekar Indah bisa ditempuh 30 menit dari  ibukota Kendari. Tapi jarak ini tak membawa perubahan sejak tahun 1970-an. Transportasi umum bisa dihitung jari, tak ada air bersih, pasar hanya ada di kota, sekolah SMP dan SMA juga berada di Kota Kendari. Meski dekat dengan ibukota Kendari, secara administrasi desa Mekar masuk dalam kabupaten Konawe. Ini merepotkan banyak pihak yang  hendak mengurus KTP atau surat-surat identitas lainnya.

Jumlah penduduk Mekar bertambah dari tahun ke tahun, tiap ibu muda yang menikah pada usia 13-15 tahun berpeluang memiliki paling sedikit 3 anak dan paling banyak 9 anak. Anak-anak Bajau dinyatakan beruntung ketika mereka mampu menempuh pendidikan SMP. Sangat beruntung ketika berhasil duduk di SMA dan menjadi panutan ketika lolos di perguruan tinggi. Banyak alasan mengapa mereka putus sekolah; ekonomi, jarak yang jauh dan mata pelajaran yang praktis tak  bisa dimanfaatkan (anak-anak nelayan Bajau belajar tentang gunung Merbabu). Kini dari 1.035 ribu jiwa di Mekar Indah, ada 10 generasi muda yang mengenyam bangku kuliah, salahsatunya Parman.

“Saya bilang ada yang salah dengan warga kita di sini, masak laut kita luas tapi kita semua tetap miskin. Hanya waktu itu saya tak tahu persis harus darimana memperbaikinya,” kata Parman.
Parman mengenang, semasa kecil Ia bisa menyaksikan nelayan desanya memancing di belakang rumah, atau melihat sampan-sampan dipenuhi ikan yang diperoleh dari jarak dekat.

Setamat SMA tahun 2004, Parman menganggur dua tahun. Pada tahun itu, keluhan kesulitan menangkap ikan mulai jadi pembicaraan dimana-mana. Para pemancing bersungut-sungut ketika kail tak tersentuh ikan. Jarak tangkapan makin jauh dan bahan bakar makin tinggi. “Saya bilang itu karena rumah-rumah ikan telah rusak akibat bom, tapi begitulah mereka hanya tertawa dan tak percaya,”cerita Parman. “Warga sini suka bergurau, ikan di laut akan habis kalau daun-daun pohon di daratan juga habis,” kata Parman.
Sebagian warga Bajau juga meyakini apapun yang tertangkap di kailnya adalah rezki dari Tuhan. “Jadi kalau mereka dapat penyu yah dimakan,”kata Parman.

Parman mengatakan ungkapan itu tidak mencerminkan keinginan nenek moyang mereka sebagai pemilik teritori laut.  “Kami punya pepatah tuba sikatutuang,” katanya merujuk pada istilah Bajau yang berarti jangan merusak alam, bila hendak mengambil isi laut ambillah seperlunya saja. Merasa prihatin, Parman memulainya dengan tindakan kecil; mengajak anggota keluarganya paham tentang bahaya bom ikan.

Beruntung Ia bertemu Amirullah dari Lembaga Bina Insani. Ia lalu diajari tentang bahaya kerusakan terumbu karang dan dampak paling buruk bila itu terjadi. “Tapi saya katakan tak mungkin melarang warga Bajau miskin ini untuk stop bom ikan, harus ada alternatif kerja lain,” katanya. Parman juga mulai terobsesi mengangkat nama desanya. “Desa kami dikenal miskin, kumuh, warganya suka ngebom ikan, macam-macamlah.”

Lembaga Bina Insani membantunya dengan mengucurkan dana untuk program rehabilitasi terumbu karang. Parman mengajak satu dua orang dan ditertawai banyak tetangganya. “Kerja apaan itu,” ujarnya mengutip komentar mereka yang menganggap karang tak mungkin tumbuh dari ban maupun besi bekas.
Parman juga mengajak anak-anak muda untuk menanam ribuan mangrove, yang bibitnya sumbangan dari Yayasan Bina Insani. Hasilnya ratusan bibit mangrove mati terlindas perahu-perahu nelayan di sepanjang pesisir. “Saya lalu belajar banyak,bahwa perbuatan baik pun ada resikonya,” katanya.

Tahun 2007, sebagian besar terumbu karang buatan Parman sudah menunjukkan hasil. Warga mulai menemukan kehidupan baru dengan beragam ikan yang melintasinya. “Saya senang sekali meski sadar masih banyak yang harus dilakukan,” ujar Parman.

Bom ikan juga berkurang dan sebuah organisasi lain masuk untuk memberikan kredit pinjaman yang bisa dimanfaatkan sebagai modal usaha alternatif.

Parman juga mendapat bantuan dari Ketua Kerukunan keluarga Bajau untuk mengelola karamba di belakang rumahnya. Ia menginspirasi nelayan lain untuk membuat karamba dan membudidayakan ikan. Katanya, modal karamba memang besar, tapi Ia bisa memiliki waktu panjang untuk kuliah sore dan malam hari dan tentu saja tak mengeluarkan biaya bahan bakar lagi seperti nelayan lain.

Saat kami menemui Parman, Ia tengah duduk memandang bentang laut sambil terus berbicara tentang kondisi desa sekitarnya.  “Kalau orang jadi Pegawai Negeri Sipil, waktunya pasti sangat terbatas. Saya janji pada diri sendiri, akan selalu kembali ke desa ini, tak perlu jauh-jauh untuk jadi orang berguna.”

Aminuddin, pria tua yang menyaksikan Parman tumbuh dewasa mengatakan, Parman bukan saja menginspirasi banyak anak muda di sekitarnya, ia juga seperti orang Bajau sesungguhnya; menjaga laut dengan hati yang tulus.

Naskah : Indarwati Aminuddin, Foto : Hasrul Kokoh