Oleh: Wida
Communication Officer Nusa Penida
Conservation International Indonesia
Denpasar, 17 November 2008
Siapa tak kenal Bali? Semua orang pasti mengenal Bali, tapi apakah semua orang yang pernah ke Bali tahu tentang Nusa Penida ? Nusa Penida merupakan gugusan 3 pulau kecil yaitu Lembongan, Ceningan dan Nusa Gede, di tenggara Pulau Bali. Gugusan pulau ini diyakini akan menjadi primadona pariwisata bahari di Bali. Saat ini saja, setidaknya tiga perusahaan pariwisata menyandarkan pontoonnya di sekitar kepulauan Nusa Penida, belum lagi deretan cottage dan penginapan di sepanjang pantai Pulau Lembongan.
Potensi bahari Nusa Penida tak diragukan lagi. Pantai yang indah dan ombak yang menantang untuk para peselancar. Ikan Mola mola atau sunfish merupakan spesies ikan yang banyak mendapat perhatian turis karena tingkah lakunya yang unik dan hanya bisa dijumpai di Nusa Penida. Seperti halnya Bali, Nusa Penida merupakan bagian dari segitiga karang dunia (coral triangle) yang menjadi pusat keanekargaman hayati karang. Terumbu karang yang sehat tentu akan berdampak pula pada keanekaragaman spesies ikan di Nusa Penida.
Menilik potensi yang luar biasa tersebut, Conservation International Indonesia (CII) berinisiatif untuk mengundang Emre Turak dan Lyndon Devantier, ahli karang dunia, serta Gerry Allen, ahli ikan karang dunia untuk datang dan melakukan inventarisasi keanekaragaman karang dan ikan di Nusa Penida. “Ini bukan kali pertama CII mengajak peneliti asing dalam programnya, sebelumnya kami pernah mengajak mereka untuk melakukan Marine Rapid Assessment Program di Papua dan berhasil mendata keanekaragaman karang dan ikan disana. Beberapa spesies ikan baru juga berhasil kami temukan”, kata Ketut Sarjana Putra, Direktur Program Kelautan CII.
Marine Rapid Assessment Program disingkat MRAP merupakan suatu kajian cepat mengenai kondisi keanekaragaman hayati ekosistem pesisir dan laut. MRAP akan menghasilkan data keanekaragaman hayati yang terkandung di kawasan perairan Nusa Penida, sebagai salah satu acuan dalam merencanakan pengelolaan kawasan khususnya dalam menentukan pemintakatan (zonasi) untuk fungsi perlindungan dan pemanfaatan secara berkelanjutan sumber daya kelautan yang ada. Pada umumnya kajian kelautan dilakukan pada ekosistem pesisir yang meliputi ekosistem mangrove, lamun dan terumbu karang. Kajian ini penting untuk dilakukan guna menginventarisasi kekayaan hayati yang tersimpan di bawah laut kita.
Nusa Penida Marine RAP akan difokuskan pada penilaian keanekaragaman hayati karang dan biomassa ikan yang diperkuat dengan data oseanografi. Sebanyak 20 titik pengamatan telah ditentukan berdasarkan pertimbangan ilmiah. Nusa Penida Marine Rapid Assessment ini akan dilengkapi dengan pengambilan data sosial ekonomi masyarakat di Kepulauan Nusa Penida. Kombinasi ketiga informasi tersebut dapat menjadi rekomendasi yang akurat dalam menyusun rencana pengelolaan wilayah berbasis ekosistem.
Nusa Penida Marine RAP ini terselenggara atas kerjasama CI Indonesia dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Balai Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP) Departemen Kelautan dan Perikanan, The Nature Conservancy, juga didukung oleh, Balai Konservasi Laut Daerah (BKSDA), Southeast Asia Center for Ocean Research and Monitoring (SEACORM), Pemerintah Propinsi Bali, Pemerintah Kabupaten Klungkung, Yayasan Bahtera Nusantara, Universitas Udayana, dan Universitas Warmadewa. Keterlibatan banyak pihak dalam Marine RAP ini menjadi bukti kepedulian dalam menjaga keanekaragaman hayati yang ada di Nusa Penida.
Web site ini dibuat secara gotong royong oleh berbagai pihak untuk membangun trend cinta laut serta menyediakan akses informasi yang mudah untuk bisa terlibat di dalam konservasi laut dan pesisir serta ekosistem terkaitnya, dengan saling berbagi informasi yang bersifat positif, membangun semangat, dan saling menghargai satu sama lain. Baca selengkapnya
Komentar Kamu