Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi, mencanangkan penanaman 5.000 bibit mangrove di pesisir pantai Bitung. Acara itu merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Sail Bunaken 12-20 Agustus 2009 di Manado-Bitung.

“Penanaman bibit mangrove itu tersebar di sejumlah lokasi pesisir pantai Bitung dan pantai Kabupaten Minahasa, “kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulut, Xandramaya Lalu, di Manado, Sulawesi Utara (Sulut),Rabu (12/8). Aktivitas itu melibatkan jajaran pejabat dari Departemen Kelautan dan Perikanan, Pemerintah Provinsi Sulut, TNI/Polri, sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) serta jajaran pramuka di daerah tersebut.

Gerakan tanam mangrove ,juga merupakan penjabaran dari amanat Konferensi Kelautan Dunia (World Ocean Conference/WOC) dan Coral Triangle Initiative (CTI) Summit, Tanggal 11-15 Mei 2009 di Manado. Amanat WOC menekankan pentingnya menyelamatkan laut dari pemanasan global.

Terlebih, Menteri Kelautan dan Perikanan mengatakan  bahwa kondisi hutan mangrove di pesisir pantai Sulut semakin mengkhawatirkan. Kerap terjadi pembabatan hutan yang menimbulkan kerusakan lingkungan.

Padahal hutan mangrove yang tumbuh di muara sungai, daerah pasang surut atau tepi laut yang bersifat unik, merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Umumnya mangrove mempunyai sistem perakaran menonjol disebut akar napas (pneumatofor), sistem perakarannya merupakan cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen.

Sumber : Republika, Agustus 2009