Siapa yang tidak pernah mendengar tentang Kepulauan Seribu. Kepulauan yang juga merupakan salah satu Taman Nasional ini terletak di DKI Jakarta dan sudah sejak lama menjadi salah satu tujuan wisata yang menarik. Sayangnya, lokasinya yang cukup dekat dengan kemajuan pembangunan di ibukota dan propinsi di sekitarnya, membuat kepulauan ini sering berada dalam keadaan terancam. Beberapa waktu terkahir, tarbal atau gumpalan minyak mentah, diduga mulai mencemari sekeliling pantai Pulau Pramuka, salah satu pulau disana. Pengawasan dan pengelolaan mendesak untuk dilakukan untuk mencegah dampak yang lebih berbahaya.

Warga meminta agar tarbal itu segera dibersihkan. Warga khawatir, bila limbah ini dibiarkan, bakal lebih banyak lagi kerugian yang diderita akibat tarbal itu. ”Kami meminta agar tarbal ini dibersihkan, apalagi melihat dampak yang ditimbulkan sangat berbahaya bagi kelangsungan ekosistem laut dan tanaman mangrove,” kata Salim (51), Ketua Forum Masyarakat Peduli Lingkungan Kepulauan Seribu di Pulau Pramuka, awak November ini.

Pencemaran tarbal yang terjadi ini, menurut ketua Forum, merupakan yang ketiga kalinya dalam tahun ini. Dia berharap pemerintah kabupaten bertindak tegas dengan meminta pertanggungjawaban pelaku pencemaran. ”Selama ini, kasus pencemaran tidak pernah tuntas ” paparnya.

Gumpalan minyak mentah berwarnah hitam pekat itu dilaporkan Berita Jakarta, bisa djumpai di sekeliling pantai Pulau Pramuka. Akibatnya, ikan dan sejumlah biota laut ikut mati terdampar. Kini, gumpalan itu mulai mencair dan mengotori pasir pantai, diperkirakan ikan yang mati jumlahnya mencapai puluhan ton. ”Banyak sekali, mungkin puluhan ton, sejak pagi sudah puluhan karung saya kumpulkan,” ujar pria yang didaulat sebagai penerima kalpataru karena kepedulian terhadap lingkungan ini.

Sairan (49), Pegawai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu (TNLKS) mengatakan, diperkirakan sumber tarbal berasal dari arah timur, karena saat ini angin timur dan arus laut membawa tarbal ke pantai Pulau Pramuka. ”Kuat dugaan kami tarbal itu dari arah timur, dan kami juga sudah mengambil sampel untuk di uji lab guna mencari tahu asal tarbal itu,” katanya.

Pencemaran ini, kata dia, sepertinya meluas dan bukan hanya terjadi di sekitar Pulau Pramuka. Kemungkinan di tengah laut dan di sejumlah pulau yang berada langsung dari arah timur. ”Kami akan melakukan pemantauan di sejumlah lokasi, dan kalau benar itu terjadi, kami akan mengambil langkah koordinasi dengan pihak terkait untuk mengambil tindakan selanjutnya,” terangnya.

Bupati Kepulauan Seribu, Burhanudin menyesalkan terjadinya pencemaran tarbal di laut Kepulauan Seribu. Dia berharap pihak-pihak yang selama ini terindikasi melakukan pencemaran, segera turun tangan. ”Untuk sementara kami membersihkan secara swadaya, dan selanjutnya akan meminta bantuan CNOOC. Ses Ltd. untuk membersihkan tarbal itu,” ungkap Burhanuddi kepada beritajakarta.com.

Sejauh ini, CNOOC Ses Ltd. selaku perusahaan minyak lepas pantai yang beroperasi di laut Kepulauan Seribu, telah berkomitmen untuk bertanggungjawab membersihkan tiap terjadi pencemaran, meski perusahaan itu bukan pelaku pencemaran. ”Memang telah ada kesepakatan dengan perusahaan itu terkait dengan pencemaran. Tapi kami juga akan melakukan penyelidikan sumber pencemaran, dan kasus ini akan kami lanjutkan dangan melaporkan kepada pihak yang berwenang,” pungkas Burhanuddin.

Sumber : Berita Jakarta, November 2009