Pantai Wediombo, sunset… indah.  Pantai ini adalah satu dari sedikit pantai yang masih mempunyai nafas alami, di mana orang masih bisa melihat terumbu karang yang sehat, tebing-tebing kawasan Kars yang menjulang, serta pantai wisata kelas satu yang bersih dan berlaut biru jernih. Kadang-kadang para pengunjung bahkan dimanjakan dengan pemandangan penyu yang mendarat untuk bertelur.

Pantai Wediombo adalah kawasan konservasi kawasan pesisir di provinsi Daerah Istimewa Jogjakarta, bersama dengan 5 pantai lain: Jungla, Ngusalan, Pulutan, Sedahan, dan Dadapan.

Apabila kita berbicara mengenai konservasi di kawasan ini, kita tak bisa lepas dari satu sosok yang bersahaja, dengan tegur sapa yang ramah dan lembut khas orang Jogja.  Tapi apabila berbicara soal perlindungan lingkungan di Selatan Jogja, tutur katanya tegas, dan semangatnya berapi-api.

Mbah Thadi, begitu orang setempat memanggilnya, walau sebenarnya nama lengkapnya cukup panjang: Soetadi Praeoto Reksosamudro.  Lahir di Gunung Kidul, Wonosari, tahun…..

“Wah, tahunnya saya lupa… tapi yang pasti banyak yang belum lahir waktu saya lahir,” kata Mbah Thadi bercanda.  Rambut putihnya mengkilat terterpa sinar matahari sore.

Dari sejak banyak orang belum lahir itulah, Mbah Thadi telah berjuang untuk lingkungan.  Hal ini bermula dari wangsit yang didapatkanya pada saat ia bertapa karena kegundahannya pada kerusakan lingkungan yang ia lihat di tempat tinggalnya:  Pantai yang kotor, pemakaian sianida, penangkapan penyu dan telurnya, ikan yang semakin sulit ditangkap, semakin kecil….

“Hampir tiap jengkal pantai dan laut di sini dieksploitasi tanpa ada yang mengatur dan menjaga.  Kalau terus menerus begini, keharmosian manusia dengan alam akan terganggu.  Alam akan kehabisan sumber penghidupan yang bisa diberikannya pada manusia, yang susah ya kita-kita juga nanti,” demikian ujar Mbah Thadi berfilososi.

Pada tahun 2000, Mbah Thadi pun diberikan penghargaan oleh Sri Sultan atas jasanya memelihara lingkungan.  Penghargaan itu memberi pengakuan atas jasa-jasanya, namun tidak memberinya cukup banyak tenaga bantuan yang sangat dibutuhkannya.  Dari tahun 2000-2006, Mbah Thadi berjuang sendirian. Sampai di tahun 2006, dengan dibantu kalangan akademisi dari UGM, Mbah Thadi membentuk PERMASI: Perkumpulan Masyarakat Konservasi yang beranggotakan anak-anak muda setempat.

“Harus yang muda, harus yang punya kaitan batin dengan tempat ini yang punya semangat untuk menjaga tempat ini,” Mbah Thadi memberi alasan.

Anak-anak muda ini dilatih tidak hanya untuk menjadi penjaga lingkungan, namun juga untuk menjadi guide bagi para wisatawan untuk kawasan laut, melihat serta mengamati flora dan fauna, dan kawasan kars yang ada di sana, termasuk gua-gua kapur yang megah.  Dengan demikian, selain mendampingi wisatawan untuk mendapatkan pengalaman wisata plus, mereka juga bisa mendapatkan tambahan penghasilan.

“Mereka mempunyai semangat kerja yang luar biasa,” ujar Mbah Thadi sambil melihat matahari terbenam di ujung laut.  “Namun sayang, perhatian yang diberikan pemerintah dan masyarakat belum cukup.  Saya yakin sekali mereka, dan juga daerah ini bisa berkembang maju tanpa perusakan alam apabila setiap pihak bekerja bersama.”

Ayo wong Jogja, ayo kita semua membantu mimpi Mbah Thadi.  Kita bisa mulai dengan datang berkunjung ke sana sebagai blue trendsetter, menjadi contoh perilaku wisawatan yang ramah lingkungan sekaligus menggairahkan wisata di sana.  Mereka juga sangat terbuka untuk kesempatan pembangunan kapasitas di bidang wisata, peralatan, dan tentunya juga, donasi.

Info lebih lengkap tentang Wediombo dan PERMASI: www.wediombo.com