“Nenek moyangku seorang pelaut, gemar mengarungi luas samudera, menerjang ombak tiada takut menempuh badai sudah biasa”, cuplikan syair lagu ini diajarkan oleh guru wali kelasku waktu masih duduk di kelas satu SD Xaverius Teluk Betung – Bandar Lampung. Dan sampai saat ini masih terus tertanam di kepala saya bahwa dulunya bangsa Indonesia adalah pelaut yang ulung dan pernah jaya di laut. Tapi kenapa di beberapa buku cetak pelajaran menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara agraris..?. Salah cetak bukunya atau salah urus negara ini..?

Namun jika kita lihat realita saat ini, justru yang terjadi adalah nelayan tetap miskin, kegiatan menangkap ikan dengan cara merusak terjadi dimana-mana, ikan dari perairan Indonesia terus dicuri hingga merugikan negara triliuanan rupiah setiap tahunnya, terumbu karang terus dibongkar dan ditambang, hutan bakau terus dikonversi, dan laut masih dianggap sebagai tempat pembuangan sampah terluas di dunia.

Beberapa alasan di atas yang mendorong saya untuk selalu mencari jawabannya. Walaupun tidak pernah terbayangkan sebelumnya akan berkecimpung di dunia LSM lingkungan hidup, khususnya pesisir dan laut. Apalagi ketika ditanya sama Bapak dan Ibu, “kamu kerja di mana sekarang nak”, harus berpanjang-panjang menjelaskan apa itu LSM. Bapak dan Ibupun mantuk-mantuk sepertinya mengerti dengan penjelasan saya sebelum kembali bertanya “jadi LSM itu di bawah departemen apa ya..?” Dapat dimaklumi jika orang tua bertanya demikian, karena di tahun 1990-an, LSM belum sepopuler sekarang.

Namun kecintaan akan laut sebenarnya sudah mulai ada sejak kecil, bukan karena saya gemar makan ikan kembung yang digoreng crispy dan makannya dicocol pake sambel kecap dan nasi hangat kebul-kebul, tapi juga karena Bandar Lampung tanah kelahiranku sekaligus tempat aku dibesarkan memang memiliki beberapa pantai yang cukup indah dan memiliki pasir yang putih.

Sering kami sekeluarga berkunjung ke pantai di saat-saat libur sekolah. Kalau sudah berenang di laut dengan bantuan ban dalam mobil yang sudah dipompa, rasanya sangat nyaman dan damai. Apalagi kalau sudah melihat ikan dan terumbu karang yang berwarna-warni dan beranekaragam bentuknya, rasanya tidak mau pulang. Waktu itu saya berfikir, kok ada ya batu bentuknya macam-macam dengan aneka warna di laut.

Pengetahuan mengenai laut, terumbu karang, hutan bakau, padang lamun, ikan dan biota laut lainnya makin bertambah, ketika saya mulai kuliah di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB Bogor. Terlebih lagi ketika masuk menjadi anggota klub selam mahasiswa perikanan IPB – Fisheries Diving Club (FDC) angkatan ke-10.

Dengan mengikuti FDC-IPB, selain berbagai pengetahuan, skill dan kedisiplinan tinggi dalam dunia penyelaman saya dapatkan. Saya juga mendapat kesempatan untuk bisa menyelam di berbagai perairan di Indonesia sehingga pengetahuan mengenai terumbu karang dan ikan makin bertambah. Saat itu bisa menyelam di Pulau Seribu, Sebesi-Lampung, Wakatobi, Karimunjawa, Pagerungan-Madura, dan Riung di Flores bangga sekali rasanya.

Perjalanan penyelaman yang sangat berkesan bagi saya adalah ketika dipercaya memimpin Ekspedisi Zooxanthellae FDC-IPB ke Tujuh Belas Pulau di Riung, Flores-NTT pada tahun 1996. Bersama dengan 25 anggota FDC lainnya, kami berangkat dengan kapal TNI-AL dari Surabaya. Kami melakukan survey untuk mengidentifikasi terumbu karang dan ikan selama tiga minggu di lokasi tersebut.

Saya mulai mengenal “dunia persilatan” LSM dengan menjadi volunteer di WWF Bali di tahun 1997. Waktu itu saya membantu monitoring terumbu karang di seluruh Bali dan penyu di Perancak (Bali Barat), ketika sebelumnya sempat membantu sebuah dive operator di daerah Amed-Bali timur untuk mengembangkan dive center berwawasan lingkungan (eco-dive). Di tahun 1998, saya bergabung dengan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali untuk membangun dan mengembangkan divisi kelautan.

Di tahun ketiga saya di PPLH Bali, saya terpilih menjadi koordinator nasional JARING PELA – sebuah jaringan LSM dan individu pesisir dan laut di Indonesia selama 2 tahun sebelum akhirnya bergabung dengan The Nature Conservancy’s Coral Triangle Center (TNC-CTC). Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat, saat ini saya sudah di tahun ke-6 bekerja untuk TNC-CTC.

Sebelum menjadi Project Leader di Nusa Penida, berbagai posisi pernah saya jalani seperti NGO Liaison Program Officer dan Outreach Coordinator. Dengan bekerja di TNC-CTC saya mendapatkan tambahan pengetahuan mengenai pengelolaan Kawasan Konservasi Laut dan berkunjung ke lokasi dimana TNC-CTC bekerja seperti Komodo, Derawan, Wakatobi dan Raja Ampat.

Bagi saya bekerja untuk terus melestarikan terumbu karang dan biota laut lainnya di Indonesia bukanlah hanya sebatas pekerjaan, tetapi sudah menjadi hobby. Bukan hanya supaya saya bisa terus makan ikan kembung crispy dengan sambal kecap dan nasi hangat kebul-kebul, tapi supaya anak-anak saya juga bisa menikmati keindahan terumbu karang secara langsung di alam kalau mereka sudah besar nanti, terlebih lagi masyarakat Indonesia bisa terus merasakan manfaat dari terumbu karang.

Penulis: Marthen Welly