nelayan bondalem melakukan survey Reef CheckThe involvement of locals is a key ingredient in the success of marine parks which protect coral reefs and fish stocks. Ibarat masakan, keterlibatan masyarakat merupakan bahan wajib bagi “kue” konservasi yang yang enak.

Skala terbesar dalam penelitian tentang bagaimana masyarakat pesisir mempengaruhi kesuksesan Daerah Perlindungan Laut (DPL) menemukan bahwa tekanan populasi manusia adalah faktor terpenting dalam menentukan berhasil atau tidaknya perlindungan terhadap sumber daya laut, tapi yang tidak kalah penting adalah keterlibatan masyarakat lokal dalam penelitian dan pengelolaan.

Tim peneliti melihat sejauh mana kesuksesan pelestarian terumbu karang dapat melestarikan stok perikanan. Mereka mempelajari 56 DPL dari 19 negara berbeda di Asia, Samudera Hindia, dan Karibia.

“¾ DPL yang kami pelajari menunjukkan perbedaan positif pada jumlah ikan di dalam dibandingkan dengan di luar DPL, sehingga dapat disimpulkan sebagian besar kawasan lindung yang kami teliti bekerja dengan baik.” kata Dr Josh Cinner dari ARC Centre of Excellence for Coral Reef Studies dan James Cook University.

Namun, perbedaan itu tidak selalu besar. Kawasan lindung paling sukses menunjukkan perbedaan besar yaitu hingga 14 kali lebih banyak pada jumlah ikan di dalam DPL dibandingkan dengan di luar, tapi hal itu tidak selalu terjadi.

“Yang paling menarik adalah memahami apa yang membuat beberapa kawasan perlindungan lebih berhasil daripada yang lain. Salah satu asumsi terbaik tentang faktor yang mendorong keberhasilan kawasan perlindungan laut adalah jumlah populasi penduduk di sekitar kawasan. Menariknya, hal ini pun bervariasi di di tiap region/ kawasan.

“Di Samudera Hindia, misalnya, di mana kawasan perlindungan dikontrol pemerintah dan dengan ukuran moderat (rata-rata sekitar enam kilometer persegi), memiliki banyak populasi penduduk di dekat DPL namun memiliki efek positif. Tapi ini mungkin karena sumber daya laut di luar kawasan lindung yang sangat rusak, sehingga keadaan didalam kawasan perlindungan terlihat menonjol sehat.

“Di Karibia, tim menemukan sebaliknya. Besarnya populasi manusia dekat kawasan perlindungan mengakibatkan kinerja yang buruk dari kawasan tersebut, yang mungkin disebabkan karena rendahnya penegakan aturan dan ketaatan di kawasan lindung yang dekat dengan pusat penduduk, “kata Dr Cinner.

Unsur kunci yang lain untuk DPL yang sukses adalah keberadaan penangkapan dengan racun/potas dalam kawasan. Tapi yang lebih penting, tim menemukan bahwa ketaatan terhadap aturan yang berlaku pada kawasan perlindungan bukan hanya terkait dengan penegakan hukum, tetapi juga untuk berbagai faktor-faktor sosial, politik, dan ekonomi yang memungkinkan orang untuk bekerja sama lebih baik dalam melindungi sumber daya laut mereka.

Kawasan perlindungan bekerja dengan sangat baik di kawasan yang memiliki proses konsultasi formal tentang aturan dalam kawasan perlindungan, di mana orang-orang lokal dapat berpartisipasi dalam pemantauan kawasan, dan mengikutsertakan anggota masyarakat dalam berbagai pelatihan yang diadakan sehingga masyarakat dapat lebih memahami sisi ilmu pengetahuan dan kebijakan.

“Jelas bahwa keterlibatan lokal seperti ini adalah faktor yang sangat penting dalam membangun dukungan lokal yang diperlukan untuk membuat kawasan lindung berhasil. Lembaga pengelola perlu untuk memupuk kondisi-kondisi yang memungkinkan orang untuk bekerja bersama melindungi lingkungan lokal, secara sukarela, daripada berfokus murni pada peraturan dan patroli.

“Penegakan hampir selalu menjadi bagian penting dari suksesnya suatu kawasan perlindungan, namun ada banyak kawasan laut di luar sana yang harus diawasi dan terlalu luas tentunya. Kebanyakan daerah yang kami pelajari tergolong miskin, sebagian merupakan negara-negara berkembang yang tidak memiliki investasi yang luar biasa untuk pengadaan kapal patrol.” Dr Crinner menutup penjelasannya.

Sumber : Science Daily

Skala terbesar dalam penelitian tentang bagaimana masyarakat pesisir mempengaruhi
kesuksesan Daerah Perlindungan Laut (DPL) menemukan bahwa tekanan populasi manusia adalah faktor terpenting dalam menentukan berhasil atau tidaknya perlindungan terhadap sumber daya laut, tapi yang tidak kalah penting adalah keterlibatan masyarakat lokal dalam penelitian dan pengelolaan.

Tim peneliti melihat sejauh mana kesuksesan pelestarian terumbu karang dapat melestarikan stok perikanan. Mereka mempelajari 56 DPL dari 19 negara berbeda di Asia, Samudera Hindia, dan Karibia.


“¾ DPL yang kami pelajari menunjukkan perbedaan positif pada jumlah ikan di dalam dibandingkan dengan di luar DPL, sehingga dapat disimpulkan sebagian besar kawasan lindung yang kami teliti bekerja dengan baik.” kata Dr Josh Cinner dari ARC Centre of Excellence for Coral Reef Studies dan James Cook University.

“Namun, perbedaan itu tidak selalu besar. Kawasan lindung paling sukses
menunjukkan perbedaan besar yaitu hingga 14 kali lebih banyak pada jumlah ikan di dalam DPL dibandingkan dengan di luar, tapi hal itu tidak selalu terjadi.


“Yang paling menarik adalah memahami apa yang membuat beberapa
kawasan perlindungan lebih berhasil daripada yang lain. Salah satu asumsi terbaik tentang faktor yang mendorong keberhasilan kawasan perlindungan laut adalah jumlah populasi penduduk di sekitar kawasan. Menariknya, hal ini pun bervariasi di
di tiap region/ kawasan.


“Di Samudera Hindia, misalnya, di mana kawasan perlindungan dikontrol pemerintah dan dengan ukuran moderat (rata-rata sekitar enam kilometer persegi), memiliki banyak populasi penduduk di dekat DPL namun memiliki efek positif. Tapi ini mungkin karena sumber daya laut di luar kawasan lindung yang sangat rusak, sehingga keadaan didalam kawasan perlindungan terlihat menonjol sehat.

“Di Karibia, tim menemukan sebaliknya. Besarnya populasi manusia dekat
kawasan perlindungan mengakibatkan kinerja yang buruk dari kawasan tersebut, yang mungkin disebabkan karena rendahnya penegakan aturan dan ketaatan di kawasan lindung yang dekat dengan pusat penduduk, “kata Dr Cinner.


Unsur kunci yang lain untuk DPL yang sukses adalah keberadaan penangkapan dengan racun/potas dalam kawasan. Tapi yang lebih penting, tim menemukan bahwa ketaatan terhadap aturan yang berlaku pada kawasan perlindungan bukan hanya terkait dengan penegakan hukum, tetapi juga untuk berbagai faktor-faktor sosial, politik, dan ekonomi yang memungkinkan orang untuk bekerja sama lebih baik dalam melindungi sumber daya laut mereka.

Kawasan perlindungan bekerja dengan sangat baik di kawasan yang memiliki proses konsultasi formal tentang aturan dalam kawasan perlindungan, di mana orang-orang lokal dapat berpartisipasi dalam pemantauan kawasan, dan mengikutsertakan anggota masyarakat dalam berbagai pelatihan yang diadakan sehingga masyarakat dapat lebih memahami sisi ilmu pengetahuan dan kebijakan.


“Jelas bahwa keterlibatan lokal seperti ini adalah faktor yang sangat penting
dalam membangun dukungan lokal yang diperlukan untuk membuat kawasan lindung berhasil. Lembaga pengelola perlu untuk memupuk kondisi-kondisi yang memungkinkan orang untuk bekerja bersama melindungi lingkungan local, secara sukarela, daripada berfokus murni pada peraturan dan patroli.

“Penegakan hampir selalu menjadi bagian penting dari suksesnya suatu kawasan perlindungan, namun ada banyak kawasan laut di luar sana yang harus diawasi dan terlalu luas tentunya. Kebanyakan daerah yang kami pelajari tergolong miskin, sebagian merupakan negara-negara berkembang yang tidak memiliki investasi yang luar biasa untuk pengadaan kapal patrol.” Dr Crinner menutup penjelasannya.