<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Go Blue Indonesia &#187; Mengenai Terumbu Karang</title>
	<atom:link href="http://www.goblue.or.id/kategori/tentang-terumbu-karang/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.goblue.or.id</link>
	<description>Web site ini dibuat secara gotong royong oleh berbagai pihak untuk membangun trend cinta laut serta menyediakan akses informasi yang mudah untuk bisa terlibat di dalam konservasi laut dan pesisir serta ekosistem terkaitnya, dengan saling berbagi informasi yang bersifat positif, membangun semangat, dan saling menghargai satu sama lain.</description>
	<lastBuildDate>Fri, 12 Mar 2010 09:24:49 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Clown Fish, Lucunya Melebihi Badut</title>
		<link>http://www.goblue.or.id/clown-fish-lucunya-melebihi-badut</link>
		<comments>http://www.goblue.or.id/clown-fish-lucunya-melebihi-badut#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Mar 2010 12:11:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mengenai Terumbu Karang]]></category>
		<category><![CDATA[Amphiprion]]></category>
		<category><![CDATA[Anemon]]></category>
		<category><![CDATA[ClownFish]]></category>
		<category><![CDATA[Finding Nemo]]></category>
		<category><![CDATA[Ikan Badut]]></category>
		<category><![CDATA[Premnas]]></category>
		<category><![CDATA[terumbu karang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.goblue.or.id/?p=1686</guid>
		<description><![CDATA[Mr. Ray: All new explorers must answer a science question. You live in what kind of home?
Nemo: An anemonemone. Amnemonemomne.
Mr. Ray: That&#8217;s okay kid, dont hurt yourself.
Masih ingat dialog film di atas? Tepat, itu adalah potongan dialog dari film Finding Nemo, film hollywood mengenai pencarian seekor ikan badut (clown fish). Kali ini kita akan membahas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em><a href="http://www.connect.in.com/finding-nemo/photos-396027-3897029.html"><img class="alignleft size-medium wp-image-1689" title="Nemo, ikon dunia terumbu karang" src="http://www.goblue.or.id/wp-content/uploads/finding-nemo-finding-nemo-9956554-194x300.jpg" alt="Nemo, ikon dunia terumbu karang" width="121" height="186" /></a>Mr. Ray: All new explorers must answer a science question. You live in what kind of home?<br />
Nemo: An anemonemone. Amnemonemomne.<br />
Mr. Ray: That&#8217;s okay kid, dont hurt yourself.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Masih ingat dialog film di atas? Tepat, itu adalah potongan dialog dari film Finding Nemo, film hollywood mengenai pencarian seekor ikan badut (clown fish). Kali ini kita akan membahas tentang si ikan lucu ini.<span id="more-1686"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Ikan badut atau ikan anemon berasal dari famili Pomacentridae. Salah satu famili terbesar dalam <a href="http://www.goblue.or.id/mengenal-komunitas-ikan-karang-1">komunitas ikan karang</a>. Hingga saat ini diketahui ada sekitar 28 (dua puluh delapan) spesies. 27 (dua puluh tujuh) spesies diantaranya termasuk dalam marga <em>Amphiprion</em> dan satu lainnya marga <em>Premnas</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Ikan badut umumnya berwarna kuning, oranye, kemerahan, hitam dan putih dengan motif badan cenderung berupa garis. Kemungkinan warna dan motifnya yang berwarna menyala ini yang membuatnya dijuluki badut/clown. selain tentu saja bentuknya yang cenderung bulat. Ukuran maksimalnya bisa mencapai 10 – 18 cm. Uniknya, ikan badut jantan cenderung memiliki tubuh lebih kecil daripada betinanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ikan badut diketahui merupakan ikan yang mempunyai daerah penyebaran yang relatif luas, terutama di daerah seputar Indo Pasifik.   Satu jenis, yaitu <em>Amphiprion bicinctus</em>, diketahui merupakan spesies endemik Laut Merah.   Mereka, pada umumnya, dijumpai pada laguna-laguna berbatu di seputar terumbu karang, atau pada daerah terumbu dengan kedalaman kurang dari 50 meter dan berair jernih.</p>
<p style="text-align: justify;">Di habitatnya, tepat seperti yang disebutkan Nemo dalam dialog di atas, ikan-ikan ini hidup bersimbiosis mutualisme dengan anemon (salah satu hewan invertebrata laut, melekat pada substrat dan memiliki tentakel menyerupai jari-jari).</p>
<p style="text-align: justify;">Ikan badut tidak menempati semua anemon. Pada umumnya tiap spesies memiliki kecenderungan tinggal pada jenis anemon tertentu. Anemon marga <em>Heteractis</em> dan <em>Stichodactyla</em> merupakan yang paling sering dijumpai bersimbiosis dengan ikan badut.</p>
<p style="text-align: justify;">Di alam, ikan badut tidak pernah pergi jauh dari anemonnya. Jadi selain menyediakan makanan untuk ikan badut, anemon juga memberikan perlindungan bagi ikan badut untuk menghindari pemangsanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Makanan ikan badut biasanya berupa invertebrata kecil yang  melekat di tentakel anemon. Umumnya invertebrata ini membahayakan anemon. Di sisi lain kotoran dari ikan badut memberikan nutrisi untuk anemon. Ikan badut merupakan ikan <em>omnivore</em> (pemakan hewan dan tumbuhan), jadi selain invertebrata kecil alga juga diketahui memenuhi 20 – 25% kebutuhan nutrisinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Anemon memiliki sengatan beracun yang hanya dapat ditahan oleh ikan badut dan beberapa jenis ikan damsel yang lain, mekanisme tersebut dapat terjadi karena lapisan lendir pada ikan badut sebagian besar berbahan dasar gula bukan protein. Hal ini akan menjadikan anemon tidak mengenali ikan sebagai musuh sehingga anemone tidak menyengat ikan badut.</p>
<p style="text-align: justify;">Tubuh ikan badut mengalami koevolusi dengan spesies anemon spesifik yang biasa ditempati sehingga tubuhnya membentuk semacam kekebalan dari sengatan anemone yang ditempati. Sebuah penelitian yang dilakukan terhadap <em>Amphiprion percula</em> menunjukkan spesies ini dapat mengembangkan resistensi terhadap racun dari <em>Heteractis magnifica</em>, tetapi ia tidak sepenuhnya terlindungi, karena telah ditunjukkan secara eksperimental ikan tersebut mati ketika kulit tubuhnya yang tidak berlendir tersengat oleh anemon.</p>
<p style="text-align: justify;">Ikan badut hidup dalam kelompok kecil dalam satu anemon. Kelompok ini terdiri dari pasangan induk, beberapa ikan jantan muda, dan beberapa <em>juvenil</em> (anakan ikan) yang berkelamin jantan. Ketikan betinanya mati, ikan jantan yang dominan akan berubah kelamin menjadi betina, strategi ini dikenal sebagai <em>sequential hermaphroditism</em> (perubahan kelamin secara berurutan), karena semua ikan badut terlahir jantan dan ketika dalam kelompoknya tidak memiliki betina salah satu dari mereka akan berubah menjadi betina.</p>
<p style="text-align: justify;">Ikan badut meletakkan telurnya di permukaan datar dekat dengan anemon tuan yang ditinggali. Di alam, Ikan badut bertelur sekitar saat bulan purnama dan pejantannya akan menjaga telur-telur ini sampai mereka menetas sekitar 6 – 10 hari kemudian, biasanya penetasan terjadi saat malam hari, kurang lebih 2 jam setelah matahari terbenam.</p>
<p style="text-align: justify;">Ikan badut adalah jenis ikan hias air laut yang berhasil dikembangbiakkan di penangkaran dalam skala besar. Ikan badut dapat menjalani siklus hidupnya di bak-bak adan aquarium, walaupun ada beberapa spesies yang menjadi sangat agresif ketika dibiakkan di penangkaran.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.goblue.or.id/clown-fish-lucunya-melebihi-badut/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Stingray!Kok berbahaya?</title>
		<link>http://www.goblue.or.id/stingraykok-berbahaya</link>
		<comments>http://www.goblue.or.id/stingraykok-berbahaya#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 12:11:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenai Terumbu Karang]]></category>
		<category><![CDATA[berbahaya]]></category>
		<category><![CDATA[pari]]></category>
		<category><![CDATA[racun]]></category>
		<category><![CDATA[stingray]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.goblue.or.id/?p=1499</guid>
		<description><![CDATA[Pari. Salah satu jenis binatang laut yang sering sekali kita jumpai, terutama saat menyelam baik di perairan dangkal maupun menengah. Pari dimaksudkan di sini ialah yang biasa di sebut Stingray. Oleh sebagian besar ahli ikan pari dianggap hewan yang jinak, hanya menyerang untuk membela diri. Lalu, berbahayakah ikan pari?    
Kurang lebih ada sekitar 18 kejadian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pari. Salah satu jenis binatang laut yang sering sekali kita jumpai, terutama saat menyelam baik di perairan dangkal maupun menengah. Pari dimaksudkan di sini ialah yang biasa di sebut Stingray. Oleh sebagian besar ahli ikan pari dianggap hewan yang jinak, hanya menyerang untuk membela diri. Lalu, berbahayakah ikan pari?    <span id="more-1499"></span></p>
<p>Kurang lebih ada sekitar 18 kejadian fatal akibat kesalahpahaman dengan salah satu penghuni laut ini. Salah satunya “Pemburu buaya” terkenal di dunia Steve Irwin, yang dikenal dan dicari untuk menangani beberapa hewan paling berbahaya yang pernah ada, meninggal pada 4 September 2006 silam dalam sebuah kecelakaan mengejutkan yaitu tikaman ikan pari. Enam minggu kemudian seekor ikan pari melompat kedalam perahu nelayan di Florida dan menikam dada James Bertakis (81 tahun).</p>
<p>Umumnya, sebagian besar cedera yang disebabkan oleh ikan pari terjadi pada pergelangan kaki dan kaki bagian bawah, yaitu ketika seseorang tidak sengaja menginjak ikan pari yang terkubur dalam pasir sehingga ikan pari yang ketakutan bereaksi mengangkat ekornya (tentunya dengan <a href="http://static.howstuffworks.com/gif/stingray-2.jpg">duri/spine</a>) yang berbahaya. Pemerintah mengatakan insiden yang terjadi di Florida benar-benar aneh. Pada tahap awal penyelidikan kecelakaan Steve Irwin, beberapa ahli telah membuat hipotesis bahwa posisi gabungan Irwin (di atas ikan) dan kameraman (di depan ikan) membuat ikan pari merasa terjebak dan memicu serangan defensif. Serangan ikan pari tanpa alasan tidak pernah terdengar sebelumnya.</p>
<p>Kematian akibat serangan ikan pari sangat jarang ditemukan, racun ikan pari sangat menyakitkan namun biasanya tidak mematikan kecuali tikaman terjadi pada daerah dada ataupun perut. Dalam kasus Irwin tikaman tepat pada bagian jantung. James Bertakis juga ditikam pada bagian dada dan kemungkinan besar mengenai jantung, namun dia tidak berusaha mencabut duri tersebut, dan membuktikan itulah alasan mengapa ia selamat dari serangan</p>
<p>Kantor berita telah melaporkan bahwa Irwin bertemu dengan Australian bull ray (nama jenis ikan pari), yang diperkirakan beratnya sekitar 220 pon (100 kg). Irwin bersnorkeling di kedalaman sekitar 6 kaki (2 meter), untuk membuat film dokumenter dengan judul &#8220;Ocean&#8217;s Deadliest&#8221; di lepas pantai Australia. Irwin berenang dengan salah satu spesies ikan pari terbesar,  Australian bull ray dapat tumbuh hingga 4 kaki (1,2 meter) dan lebar 8 kaki (2,4 meter) tetapi semua ikan pari menggunakan mekanisme serangan yang sama tanpa memandang ukuran. Mekanisme ini disebut sengatan/STING, duri sengat Australian bull ray  mencapai panjang 8 inci (20 cm), duri ini terletak dekat pangkal ekor. Sengat berupa duri bergerigi yang ujungnya menghadap bagian tubuh ikan (menghadap ke depan). Terdapat kelenjar racun pada bagian pangkal duri dan sebuah membrane seperti sarung yang menutupi semua bagian sengat.</p>
<p>Ketika ikan pari menyerang, ia tidak harus berhadapan dengan korban karena yang dilakukan hanya mengayunkan ekornya yang panjang ke atas melewati tubuhnya dan mengenai apapun yang ada dihadapannya. Ikan pari tidak memiliki kontrol terhadap serangannya. Pada sebagian besar kasus ketika sengat masuk kedalah tubuh seseorang, tekanan dapat menyebabkan robeknya membran racun yang membungkusnya. Ketika pelindung ini robek racun akan mengalir ke dalam luka.</p>
<p>Racun ikan ikan pari tidak berakibat fatal namun sangat menyakitkan. Racun ini tersusun dari enzim 5-nucleotidase phosphodiesterase  dan serotonin. Serotonin menyebabkan luka parah pada otot polos, komponen inilah yang mengakibatkan racun ikan pari sangat menyakitkan. Enzimnya mengakibatkan kematian pada sel dan jaringan. Jika racun masuk ke daerah pergelangan kaki, akan dapat diatasi. Pemberian panas akan merusak racun ini dan membatasi jumlah kerusakan yang disebabkan oleh racun. Jika tidak tertangani dengan segera dan benar memungkinkan dilakukannya amputasi, namun jika racun masuk pada rongga dada atau perut, mengakibatkan kematian jaringan dan akan berakibat fatal karena organ utama terletak pada daerah ini. Jika duri masuk ke dalam jantung seperti yang dilaporkan dalam kecelakaan Steve Irwin, akibatnya akan sangat fatal.</p>
<p>Walaupun racun ikan pari dapat mengakibatkan bahaya yang serius. Bagian yang paling merusak dari mekanisme serangan ikan pari terletak pada tikaman durinya. Bagian ujung duri yang tajam akan masuk dengan mudah dalam jaringan namun saat duri dikeluarkan bagian bergerigi dari sengat ini akan melukai dan merusak jaringan lebih besar. Bahkan walaupun sengat ini tidak beracun, mencabut sengat dari dada atau pereut seseorang dapat merobek jaringan cukup besar.</p>
<p>http://animals.howstuffworks.com/fish/stingray.htm</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.goblue.or.id/stingraykok-berbahaya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Pencemaran Laut (1)</title>
		<link>http://www.goblue.or.id/mengenal-pencemaran-laut-1</link>
		<comments>http://www.goblue.or.id/mengenal-pencemaran-laut-1#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 05:08:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dewi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mengenai Terumbu Karang]]></category>
		<category><![CDATA[Bahaya pencemaran laut]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pencemaran laut]]></category>
		<category><![CDATA[Sumber-sumber pencemaran laut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.goblue.or.id/?p=1409</guid>
		<description><![CDATA[Belakangan kita sering membaca kejadian pencemaran laut. Berbagai pihak mengeluhkan salah satu ancaman terhadap lingkungan ini. Beberapa menyalahkan industri besar yang kurang peduli, lainnya menyebutkan hanya kesalahan prosedur, lainnya beranggapan semua punya potensi untuk mencemari laut. Berikut lebih jauh dibahas tentang seluk beluk pencemaran laut.
Pencemaran laut didefinisikan sebagai peristiwa masuknya partikel kimia, limbah industri, pertanian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify">Belakangan kita sering membaca kejadian pencemaran laut. Berbagai pihak mengeluhkan salah satu ancaman terhadap lingkungan ini. Beberapa menyalahkan industri besar yang kurang peduli, lainnya menyebutkan hanya kesalahan prosedur, lainnya beranggapan semua punya potensi untuk mencemari laut. Berikut lebih jauh dibahas tentang seluk beluk pencemaran laut.<span id="more-1409"></span></p>
<p style="text-align: justify">Pencemaran laut didefinisikan sebagai peristiwa masuknya partikel kimia, limbah industri, pertanian dan perumahan, kebisingan, atau penyebaran organisme invasif (asing) ke dalam laut, yang berpotensi memberi efek berbahaya.</p>
<p style="text-align: justify">Dalam sebuah kasus pencemaran, banyak bahan kimia yang berbahaya berbentuk partikel kecil yang kemudian diambil oleh plankton dan binatang dasar, yang sebagian besar adalah pengurai ataupun <em>filter feeder</em>(menyaring air). Dengan cara ini, racun yang terkonsentrasi dalam laut masuk ke dalam rantai makanan, semakin panjang rantai yang terkontaminasi, kemungkinan semakin besar pula kadar racun yang tersimpan. Pada banyak kasus lainnya, banyak dari partikel kimiawi ini bereaksi dengan oksigen, menyebabkan perairan menjadi anoxic.</p>
<p style="text-align: justify">Sebagian besar sumber pencemaran laut berasal dari daratan, baik tertiup angin, terhanyut maupun melalui tumpahan. Berikut beberapa sumber polutan yang masuk ke laut.</p>
<p style="text-align: justify"><strong>Buangan Kapal</strong><br />
Kapal dapat mencemari sungai dan samudera dalam banyak cara. Antara lain melalui tumpahan minyak, air penyaring dan residu bahan bakar. Polusi dari kapal dapat mencemari pelabuhan, sungai dan lautan. Kapal juga membuat polusi suara yang mengganggu kehidupan liar alam, dan air dari <em>balast tank </em>dapat menyebarkan ganggang/alga berbahaya dan spesies asing yang dapat mempengaruhi ekosistem lokal.</p>
<p style="text-align: justify">Salah satu kasus terburuk dari satu spesies invasif menyebabkan kerugian bagi suatu ekosistem, yang tampaknya tidak berbahaya salah satunya adalah ubur-ubur. <em>Mnemiopsis leidyi</em>, suatu spesies ubur-ubur yang tersebar, sehingga sekarang mendiami muara di banyak bagian dunia.</p>
<p style="text-align: justify">Pertama kali ditemukan pada tahun 1982, dan diduga telah dibawa ke Laut Hitam dalam air pemberat kapal. Populasi ubur-ubur melonjak secara eksponensial dan pada tahun 1988, hal tersebut mendatangkan malapetaka atas industri perikanan lokal.</p>
<p style="text-align: justify"><strong>Plastik</strong><br />
Plastik telah menjadi masalah global. Sampah plastik yang dibuang, terapung dan terendap di lautan. 80% (Delapan puluh persen) dari sampah di laut adalah plastik,  sebuah komponen yang telah dengan cepat terakumulasi sejak akhir Perang Dunia II.  Massa plastik di lautan diperkirakan yang menumpuk hingga seratus juta metrik ton.</p>
<p style="text-align: justify">Plastik dan turunan lain dari limbah plastik yang terdapat di laut berbahaya untuk satwa liar dan perikanan. Organisme perairan dapat terancam akibat terbelit, sesak napas, maupun termakan.</p>
<p style="text-align: justify">Jaring ikan yang terbuat dari bahan plastik, kadang dibiarkan atau hilang di laut. Jaring ini dikenal sebagai hantu jala  sangat membahayakan lumba-lumba, penyu, hiu, dugong, burung laut, kepiting, dan makhluk lainnya. Plastik yang membelit membatasi gerakan, menyebabkan luka dan infeksi, dan menghalangi hewan yang perlu untuk kembali ke permukaan untuk bernapas.</p>
<p style="text-align: justify"><strong>Racun</strong><br />
Selain plastik, ada masalah-masalah tertentu dengan racun yang tidak hancur dengan cepat di lingkungan laut. Terbagi dua, pertama kelompok racun yang suafatnya cenderung masuk terus menerus seperti pestisida, furan, dioksin dan fenol. Terdapat pula logam berat, suatu unsur kimia metalik yang memiliki kepadatan yang relatif tinggi dan bersifat racun atau beracun pada konsentrasi rendah. Contoh logam berat yang sering mencemari  adalah air raksa, timah, nikel, arsenik dan kadmium.</p>
<p style="text-align: justify">Ketika pestisida masuk ke dalam ekosistem laut, mereka segera diserap ke dalam jaring makanan  di laut. Dalam jaringmakanan, pestisida ini dapat menyebabkan mutasi, serta penyakit, yang dapat berbahaya bagi hewan laut , seluruh penyusun rantai makanan termasuk manusia.</p>
<p style="text-align: justify">Racun semacam itu dapat terakumulasi dalam jaringan berbagai jenis kehidupan air dalam proses yang disebut bioakumulasi. Racun ini juga diketahui terakumulasi dalam  dasar perairan, seperti muara dan teluk berlumpur. Bahan-bahan ini dapat menyebabkan mutasi keturunan dari organisme yang tercemar serta penyakit dan kematian secara massal seperti yang terjadi pada kasus yang terjadi di Teluk Minamata.</p>
<p style="text-align: justify"><strong>Eutrofikasi</strong><br />
Peristiwa Eutrofikasi adalah kejadian peningkatan/pengkayaan nutrisi, biasanya senyawa yang mengandung nitrogen atau fosfor, dalam ekosistem. Hal ini dapat mengakibatkan peningkatan produktivitas primer (ditandai peningkatan pertumbuhan tanaman yang berlebihan dan cenderung cepat membusuk). Efek lebih lanjut termasuk penurunan kadar oksigen, penurunan kualitas air, serta tentunya menganggu kestabilan populasi organisme lain.</p>
<p style="text-align: justify">Muara merupakan wilayah yang paling rentan mengalami eutrofikasi karena nutrisi yang diturunkan dari tanah akan terkonsentrasi.  Nutrisi ini kemudian dibawa oleh air hujan masuk ke lingkungan laut , dan cendrung menumpuk di muara.</p>
<p style="text-align: justify"><strong>The World Resources Institute </strong>telah mengidentifikasi 375 hipoksia (kekurangan oksigen) wilayah pesisir di seluruh dunia. Laporan ini menyebutkan kejadian ini terkonsentrasi di wilayah pesisir di Eropa Barat, Timur dan pantai Selatan Amerika Serikat, dan Asia Timur, terutama di Jepang. Salah satu contohnya adalah meningkatnya alga merah secara signifikan (<em>red tide</em>) yang membunuh ikan dan mamalia laut serta menyebabkan masalah pernapasan pada manusia dan beberapa hewan domestik. Umumnya terjadi saat organisme mendekati ke arah pantai.</p>
<p style="text-align: justify"><strong>Peningkatan keasaman</strong><br />
Lautan biasanya menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Karena kadar karbon dioksida atmosfer meningkat, lautan menjadi lebih asam. Potensi peningkatan keasaman laut dapat mempengaruhi kemampuan karang dan hewan bercangkang lainnya untuk membentuk cangkang atau rangka.</p>
<p style="text-align: justify"><strong>Polusi Kebisingan</strong><br />
Kehidupan laut dapat rentan terhadap pencemaran kebisingan atau suara dari sumber seperti kapal yang lewat, survei seismik eksplorasi minyak, dan frekuensi sonar angkatan laut. Perjalanan suara lebih cepat di laut daripada di udara.</p>
<p style="text-align: justify">Hewan laut, seperti paus, cenderung memiliki penglihatan lemah, dan hidup di dunia yang sebagian besar ditentukan oleh informasi akustik. Hal ini berlaku juga untuk banyak ikan laut yang hidup lebih dalam di dunia kegelapan. Dilaporkan bahwa antara tahun 1950 dan 1975, ambien kebisingan di laut naik sekitar sepuluh desibel (telah meningkat sepuluh kali lipat).</p>
<p style="text-align: justify">Jelas sekarang bahwa sumber pencemaran sangat bervariasi. Tidak hanya dari hal-hal yang menurut kita hanya bisa dilakukan oleh industri besar, namun juga bisa disebabkan oleh aktiftas harian kita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.goblue.or.id/mengenal-pencemaran-laut-1/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Komunitas Ikan Karang (1)</title>
		<link>http://www.goblue.or.id/mengenal-komunitas-ikan-karang-1</link>
		<comments>http://www.goblue.or.id/mengenal-komunitas-ikan-karang-1#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 03:11:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mengenai Terumbu Karang]]></category>
		<category><![CDATA[ikan karang]]></category>
		<category><![CDATA[peranan]]></category>
		<category><![CDATA[terumbu karang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.goblue.or.id/?p=1376</guid>
		<description><![CDATA[Terumbu karang merupakan suatu ekosistem unik perairan tropis dengan tingkat produktifitas dan keanekaragaman biota yang sangat tinggi. Peranan biofisik ekosistem terumbu karang sangat beragam, diantaranya sebagai tempat tinggal, tempat berlindung, tempat mencari makan dan berkembang biak bagi beragam biota laut, disamping berperan sebagai penahan gelombang dan ombak serta sebagai penghasil sumberdaya hayati yang bernilai ekonomis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.goblue.or.id/wp-content/uploads/terumbu1.JPG"><img class="alignleft size-full wp-image-1378" title="Ikan karang yang hidup di terumbu" src="http://www.goblue.or.id/wp-content/uploads/terumbu1.JPG" alt="Ikan karang yang hidup di terumbu" width="174" height="130" /></a><a href="http://www.goblue.or.id/tentang-terumbu-karang">Terumbu karang</a> merupakan suatu ekosistem unik perairan tropis dengan tingkat produktifitas dan keanekaragaman biota yang sangat tinggi. Peranan biofisik ekosistem terumbu karang sangat beragam, diantaranya sebagai tempat tinggal, tempat berlindung, tempat mencari makan dan berkembang biak bagi beragam biota laut, disamping berperan sebagai penahan gelombang dan ombak serta sebagai penghasil sumberdaya hayati yang bernilai ekonomis tinggi. Ikan karang adalah salah satunya.<span id="more-1376"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Terumbu karang mendukung keanekaragaman yang tinggi pada komunitas (gabungan dari beberapa populasi) ikan karang. Struktur komunitas dapat ditujukan pada struktur biologi dari suatu komunitas, yang meliputi komposisi jenis, kelimpahan, perubahan temporal dan hubungan antar spesies dalam suatu komunitas.</p>
<p style="text-align: justify;">Terminologi/definisi ikan karang dimaksudkan pada jenis-jenis ikan yang ditemukan pada terumbu karang sampai pada kedalaman 100 meter, walaupun mungkin juga terdapat di dalam habitat yang lainnya disebutkan oleh Lieske dan Myers dalam publikasinya tahun 1994.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara umum, ikan karang akan menyesuaikan pada lingkungannya. Setiap spesies memperlihatkan preferensii/kecocokan habitat yang tepat yang diatur oleh kombinasi faktor ketersediaan makanan , tempat berlindung dan variasi parameter fisik. Sejumlah besar spesies ditemukan pada terumbu karang adalah refleksi langsung dari besarnya kesempatan yang diberikan habitat (Allen dan Steene, 1996).</p>
<p style="text-align: justify;">Ikan akan memberikan respons terhadap struktur habitat, yang akan mempengaruhi distribusi dan kelimpahannya. Oman dan Rajasurya (1998) yang meneliti hal tersebut menyebutkan bahwa kompleksitas struktur, komposisi serta proporsi penutupan karang hidup memberikan korelasi positif terhadap komunitas ikan karang.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara umum, interaksi antara ikan karang dengan habitatnya meliputi tiga bentuk utama. Pertama, adanya hubungan langsung antara struktur terumbu dan tempat perlindungan. Hal ini akan terlihat jelas pada ikan-ikan yang kecil. Kedua, adanya interaksi pola makan yang melibatkan beberapa ikan karang dan biota sesil, termasuk alga. Lebih jauh interaksi ini penting bagi eksistensi karang yaitu penyedian substrat dasar. Ketiga, adanya suatu interaksi peran yang melibatkan struktur terumbu dan pola makan dari planktivora dan karnivora yan berasosiasi dengan terumbu.</p>
<p style="text-align: justify;">Para ahli ikan karang , membagi laut tropis menjadi empat wilayah persebaran ikan karang, wilayah tersebut adalah : 1) Indo-Pasific, 2) Pasifik bagian timur, 3) Atlantik bagian barat dan 4) Atlantik bagian timur. Wilayah Indo-Pasifik merupakan wilayah yang paling luas, terbentang dari pantai timur Afrika sampai Pulau Easter. Wilayah ini kaya akan terumbu karang dan memiliki keanekaragaman ikan karang yang tinggi. Diperkirakan terdapat sekitar 3000 spesies ikan karang di wilayah Indo-pasifik .</p>
<p style="text-align: justify;">Allen dan Adrim menjelaskan dalam penelitiannya bahwa kepulauan Indonesia sebagai  bagian dari wilayah Indo-Pasifik memiliki 2057 spesies dalam 113 famili ikan karang atau 39% dari jumlah ikan karang dunia.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Fungsi dan Peranan Ikan Karang terkait Kebiasaan Makan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Choat dan Bellwood peneliti terkemuka ikan karang menyebutkan bahwa interaksi yang kuat antara ikan karang dan terumbu karang sebagai habitat tidak hanya dijelaskan dari konteks fisik namun juga melalui perilaku makan ikan. Ikan harus makan untuk dapat bertahan hidup, dan apa yang dimakan oleh ikan karang merupakan informasi yang penting dalam mempelajari ekologi ikan yang hidup di terumbu karang. Perilaku makan  ikan karang akan memberi pengaruh terhadap keseluruhan ekosistem terumbu karang dan juga sebaliknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Memahami tentang taraf trofik (terkait dengan tipe makanan) ikan karang adalah hal yang penting dalam mempelajari ikan karang. Perilaku makan pada ikan karang dapat dibagi dalam tiga bagian yaitu : herbivora, planktivora, dan karnivora. Ketiga bagian ini mewakili kelompok utama dalam ikan karang.</p>
<p style="text-align: justify;">Ikan herbivora adalah kelompok yang paling tinggi penyebaran dan kelimpahannya di daerah terumbu karang. Ikan herbivora terdiri dari sekitar 76 spesies Siganidae, 25 spesies Scaridae, 79 spesies Pomacentridae dan sekitar 159 spesies yang bersifat omnivora-herbivora.</p>
<p style="text-align: justify;">Choat menyatakan bahwa ikan – ikan herbivora mempunyai tiga peranan penting pada ekosistem terumbu karang. Pertama, sebagai konsumer dari produsen, herbivora merupakan penghubung antara aliran energi yang berasal dari produsen ke konsumen tingkat 2 (karnivora). Kedua, mereka mempengaruhi penyebaran, ukuran, komposisi dan bahkan pertumbuhan dari tumbuhan di terumbu karang. Komposisi dan struktur dari tumbuhan yang berasosiasi dengan terumbu karang digambarkan melalui konteks aktivitas herbivori. Pemangsaan oleh ikan herbivora (<em>grazing</em>) secara substansi mengubah alga yang ada di terumbu, dimana hal ini memberika pengaruh positif maupun negatif pada karang. Ketiga, interaksi antara ikan – ikan herbivora merupakan  alat dalam model demografi dan perilaku ikan karang secara keseluruhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir semua ikan karang merupakan planktivora pada masa larva dan juvenilnya, meskipun ada yang berganti tipe makanan pada masa dewasanya tergantung adaptasinya . Terumbu karang mempunyai ikan planktivora yang aktif pada siang (diurnal) dan malam hari (nokturnal). Ikan yang aktif pada siang hari yaitu Serranidae, Chaetodontidae, Pomacentridae dan Balistidae, sedangkan yang aktif pada malam hari yaitu Holocentridae, Priacanthidae dan Apogonidae.</p>
<p style="text-align: justify;">Makanan utama ikan planktivora adalah krustasea kecil kelompok copepoda seperti calanoid dan cylopoid. Zooplankton  ini berukuran terbesar 3 mm  dan paling banyak pada ukuran &lt;1 mm. Proporsi  zooplankton dalam jumlah besar ini berasal dari laut lepas. Ikan planktivora mengkonsumsi plankton yang berasal dari laut lepas dalam jumlah besar. Hal tersebut memunculkan dugaan bahwa ikan planktivor merupakan penghubung utama antara terumbu karang dan laut lepas.</p>
<p style="text-align: justify;">Paling sedikit ada tiga jalur yang dilalui energi yang didapat oleh ikan planktivora untuk kembali ke unsur – unsur  lain yang terdapat di terumbu karang. Pertama, planktivora kemungkinan dimangsa oleh piscivora(pemakan ikan). Kedua, planktivora menghasilkan feses dalam jumlah besar  yang jatuh pada karang dan dikonsumsi oleh ikan lain juga herbivora dan detritivora. Dan cara yang ketiga adalah apabila ikan planktivora mengalami kematian.</p>
<p style="text-align: justify;">Jenis karnivora di daerah terumbu karang lebih umum banyak ditemukan dibandingkan dengan jenis ikan herbivora dan planktivora. Ikan jenis ini biasanya mengkonsumsi invertebrate bentik karang, seperti halnya crustacea (kepiting, udang, amphipod dan stomatopod), polychaeta maupun echinodermata.</p>
<p style="text-align: justify;">Ikan karnivora digolongkan menjadi 3 tipe karnivora, yaitu karnivora pemakan ikan lainnya (piscivora), pemakan invertebrata dan pemakan zoobentos. Diantara tiga tipe karnivora tersebut, spesies yang spesialis memakan invertebrata dan zoobentos terlihat lebih umum dibanding piscivora.</p>
<p style="text-align: justify;">Ikan karnivora mempunyai morfologi untuk makan yang bervariasi, mulai dari mulut kecil yang khusus seperti pada spesies Forceps Butterflyfish (Forcipiger spp) sampai struktur mulut yang besar seperti pada spesies Scorpionfish (Scorpaenidae), Kakap (Lutjanidae) dan Kerapu (Seranidae). Karnivora mempunyai peranan penting dalam siklus energi dimana hal tersebut terkait dengan struktur fisik terumbu, pola makan ikan dan siklus nutrien.</p>
<p style="text-align: justify;">Ikan karang dan berbagai biota lainnya bersama-sama menciptakan suatu keseimbangan dalam ekosistem terumbu karang. Menjamin keindahan di laut ini tetap terjaga untuk masa yang akan datang. Terutama dengan semakin meningkatnya <a href="http://www.goblue.or.id/pemutihan-karang">ancaman terhadap kelestarian</a> ekosistem ini.</p>
<p style="text-align: justify;">
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 582px; width: 1px; height: 1px;"><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0pt; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-fareast-language:EN-US;} h3 	{mso-style-next:Normal; 	margin:0pt; 	margin-bottom:.0001pt; 	text-align:center; 	mso-pagination:widow-orphan; 	page-break-after:avoid; 	mso-outline-level:3; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:IN; 	mso-fareast-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0pt 5.4pt 0pt 5.4pt; 	mso-para-margin:0pt; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<h3 style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="IN">Interaksi yang kuat antara ikan karang dan terumbu karang sebagai habitat tidak hanya dijelaskan dari konteks fisik namun juga melalui perilaku makan ikan. Ikan harus makan untuk dapat bertahan hidup, dan apa yang dimakan oleh ikan karang merupakan informasi yang penting dalam mempelajari ekologi ikan yang hidup di terumbu karang (Choat dan Bellwood, 1991). Perilaku makan </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="IN"><span> </span></span><span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="IN">ikan karang akan memberi pengaruh terhadap keseluruhan ekosistem terumbu karang dan juga sebaliknya. Memahami tentang taraf trofik ikan karang adalah hal yang penting dalam mempelajari ikan karang (Hallacer, 2003). Perilaku makan pada ikan karang dapat dibagi dalam tiga bagian yaitu : herbivora, planktivora, dan karnivora. Ketiga bagian ini mewakili kelompok utama dalam ikan karang. </span></h3>
<h3 style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; font-weight: normal;" lang="IN">Ikan herbivora adalah kelompok yang paling tinggi penyebaran dan kelimpahannya di daerah terumbu karang. Ikan herbivora terdiri dari sekitar 76 spesies Siganidae, 25 spesies Scaridae, 79 spesies Pomacentridae dan sekitar 159 spesies yang bersifat omnivora-herbivora. Choat (1991) menyatakan bahwa ikan – ikan herbivora mempunyai tiga peranan penting pada ekosistem terumbu karang. Pertama, sebagai konsumer dari produsen, herbivora merupakan penghubung antara aliran energi yang berasal dari produsen ke konsumen tingkat 2 (karnivora). Kedua, mereka mempengaruhi penyebaran, ukuran, komposisi dan bahkan pertumbuhan dari tumbuhan di terumbu karang. Komposisi dan struktur dari tumbuhan yang berasosiasi dengan terumbu karang digambarkan melalui konteks aktivitas herbivori. Pemangsaan oleh ikan herbivora (<em>grazing</em>) secara substansi mengubah alga yang ada di terumbu, dimana hal ini memberika pengaruh positif maupun negatif pada karang. Ketiga, interaksi antara ikan – ikan herbivora merupakan<span> </span>alat dalam model demografi dan perilaku ikan karang secara keseluruhan. </span></h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="IN"><span> </span>Hampir semua ikan karang merupakan planktivora pada masa larva dan juvenilnya, meskipun ada yang berganti tipe makanan pada masa dewasanya tergantung adaptasinya (Davis dan Birdsong, 1973 <em>dalam</em> Hobson,1991). Terumbu karang mempunyai ikan planktivora yang aktif pada siang (<em>diurnal</em>) dan malam hari (<em>nokturnal</em>). Ikan yang aktif pada siang hari yaitu Serranidae, Chaetodontidae, Pomacentridae dan Balistidae, sedangkan yang aktif pada malam hari yaitu Holocentridae, Priacanthidae dan Apogonidae. Makanan utama ikan planktivora adalah krustasea kecil kelompok copepoda seperti calanoid dan cylopoid. Zooplankton<span> </span>ini berukuran terbesar 3 mm<span> </span>dan paling banyak pada ukuran &lt;1 mm (Hobson, 1991). Proporsi<span> </span>zooplankton dalam jumlah besar ini berasal dari laut lepas. Ikan planktivora mengkonsumsi plankton yang berasal dari laut lepas dalam jumlah besar. Hal tersebut memunculkan dugaan bahwa ikan planktivor merupakan penghubung utama antara terumbu karang dan laut lepas (Davis dan Birdsong, 1973<em> dalam</em> Hobson,1991).<span> </span>Paling sedikit ada tiga jalur yang dilalui energi yang didapat oleh ikan planktivora untuk kembali ke unsur – unsur<span> </span>lain yang terdapat di terumbu karang. Pertama, planktivora kemungkinan dimangsa oleh piscivora. Kedua, planktivora menghasilkan feses dalam jumlah besar<span> </span>yang jatuh pada karang dan dikonsumsi oleh ikan lain juga herbivora dan detritivora. Dan cara yang ketiga adalah apabila ikan planktivora mengalami kematian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 200%;"><span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial; color: black;" lang="IN">Jenis karnivora di daerah terumbu karang lebih umum banyak ditemukan dibandingkan dengan jenis ikan herbivora dan planktivora (Jones <em>et al</em>, 1991 <em>dalam </em>Hallacer, 2003). Ikan jenis ini biasanya mengkonsumsi invertebrate bentik karang, seperti halnya crustacea (kepiting, udang, amphipod dan stomatopod), polychaeta maupun echinodermata (Parrish <em>et. al</em>., 1985 <em>dalam</em> Hallacer, 2003). Dapat digolongkan menjadi 3 tipe karnivora, yaitu karnivora pemakan ikan lainnya (piscivora), pemakan invertebrata dan pemakan zoobentos. Diantara tiga tipe karnivora tersebut, spesies yang spesialis memakan invertebrata dan zoobentos terlihat lebih umum dibanding piscivora (Jones <em>et al</em>.,1991 <em>dalam</em> Sale, 1991). Ikan karnivora mempunyai morfologi untuk makan yang bervariasi, mulai dari mulut kecil yang khusus seperti pada spesies <em>Forceps Butterflyfish </em>(<em>Forcipiger </em>spp) sampai struktur mulut yang besar seperti pada spesies <em>Scorpionfish</em> (Scorpaenidae), Kakap (Lutjanidae) dan Kerapu (Seranidae) (Hallacer, 2003). Karnivora mempunyai peranan penting dalam siklus energi (Bailey dan Robertson, 1982 <em>dalam</em> </span><span style="font-size: 11pt; line-height: 200%; font-family: Arial;" lang="IN">Choat dan Bellwood. 1991<span style="color: black;">) dimana hal tersebut terkait dengan struktur fisik terumbu, pola makan ikan dan siklus nutrien.</span></span></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.goblue.or.id/mengenal-komunitas-ikan-karang-1/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Reef Check 2009 Indonesia: Bersama Memantau Terumbu Karang Indonesia. Langkah Nyata Kepedulian Masyarakat Bagi Aset Bangsa</title>
		<link>http://www.goblue.or.id/reef-check-2009-indonesia-bersama-memantau-terumbu-karang-indonesia-langkah-nyata-kepedulian-masyarakat-bagi-aset-bangsa</link>
		<comments>http://www.goblue.or.id/reef-check-2009-indonesia-bersama-memantau-terumbu-karang-indonesia-langkah-nyata-kepedulian-masyarakat-bagi-aset-bangsa#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 09:56:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita Terbaru]]></category>
		<category><![CDATA[Liburan Plus]]></category>
		<category><![CDATA[Mengenai Terumbu Karang]]></category>
		<category><![CDATA[2009]]></category>
		<category><![CDATA[JKRI]]></category>
		<category><![CDATA[karang]]></category>
		<category><![CDATA[Reef Check]]></category>
		<category><![CDATA[Reef Check Day]]></category>
		<category><![CDATA[terumbu karang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.goblue.or.id/?p=1317</guid>
		<description><![CDATA[Denpasar, 16 Oktober 2009. Laporan status terumbu karang dunia yang dikeluarkan Global Coral Reef Monitoring Network (GCRMN) menyebutkan bahwa selama periode 2004 hingga 2008 luasan area terumbu karang dunia semakin menurun. Komunitas pemantauan terumbu karang Indonesia, yang tergabung dalam Jaringan Kerja Reef Check Indonesia mulai bulan Oktober hingga Desember 2009 akan mengadakan serangkaian kegiatan pemantauan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://www.rcindo.blogspot.com"><img class="alignleft size-full wp-image-1318" title="Logo Reef Check Day" src="http://www.goblue.or.id/wp-content/uploads/RC-day2-copy.jpg" alt="RC day2 copy" width="140" height="144" /></a>Denpasar</strong>, 16 Oktober 2009. Laporan status terumbu karang dunia yang dikeluarkan <em>Global Coral Reef Monitoring Network (GCRMN)</em> menyebutkan bahwa selama periode 2004 hingga 2008 luasan area terumbu karang dunia semakin menurun. Komunitas pemantauan terumbu karang Indonesia, yang tergabung dalam Jaringan Kerja Reef Check Indonesia mulai bulan Oktober hingga Desember 2009 akan mengadakan serangkaian kegiatan pemantauan kondisi kesehatan dari berbagai area terumbu karang di Indonesia dalam rangka Reef Check Day 2009.<span id="more-1317"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Permasalahan yang mengancam terumbu karang dunia semakin meningkat. Di sisi lain, penurunan ini menjadi peringatan bagi 500 juta manusia yang hidup bergantung pada terumbu, termasuk didalamnya sekitar 30 juta yang secara jelas hidup bergantung secara total pada keberadaan terumbu sebagai penghidupan mereka (Wilkinson,2008).</p>
<p style="text-align: justify;">Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa dalam periode 2004 hingga 2008, 19% luasan terumbu karang dunia telah hilang, 15% terancam hilang 10-20 tahun kedepan dan 20% luasan terancam hilang 20-40 tahun mendatang. Di Indonesia sendiri 34% berada dalam kondisi sangat buruk 42% agak baik sedang hanya 21% dalam kondisi sehat dan 3 % sangat sehat.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam beberapa tahun terakhir tekanan terhadap terumbu karang semakin bervariasi dan juga semakin meningkat secara kuantitas maupun kualitas. Kejadian gempa bumi yang melanda lautan Indonesia pada 2004 juga mengakibatkan kerusakan pada terumbu namun tidak dapat dibandingkan dengan kerusakan yang disebabkan oleh manusia. Dampak langsung dari perubahan iklim juga semakin banyak terjadi pada banyak terumbu karang. Dari analisis diperkirakan pada 2015, sekitar 50% populasi dunia hidup di sepanjang pesisir, sebuah bahaya yang sangat besar terhadap masa depan terumbu karang. Peningkatan kebutuhan pangan, komersialisasi aktifitas perikanan, dan krisis ekonomi global akan berujung pada penangkapan berlebih dan penurunan stok perikanan terutama di negara-negara miskin.</p>
<p style="text-align: justify;">Fakta-fakta yang mengkhawatirkan di atas sebenarnya juga sudah diikuti dengan berbagai usaha lokal mapun global untuk menyelamatkan ekosistem yang memberi penghidupan bagi jutaan manusia ini. Solusi dari para peneliti dan pengelola terumbu karang untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kawasan pengelolaan laut (<em>Marine Protected Area/MPA</em>) sudah disambut dengan baik di skala internasional. Indonesia bahkan menjadi ujung tombak dalam lahirnya inisiasi pengelolaan kolaboratif di kawasan segitiga terumbu karang dunia yang melibatkan 6 negara. Dukungan pendanaan dan keilmuan juga sudah diluncurkan dari berbagai lembaga dan komunitas peneliti.</p>
<p style="text-align: justify;">Walaupun demikian, catatan GCRMN menyebutkan bahwa hal penting lainnya ialah masih banyak informasi  yang belum diketahui untuk membangun strategi pengelolaan guna menjamin eksistensi berkelanjutan dari terumbu karang. Lebih lanjut hal-hal yang direkomendasikan sebagai aksi konservasi terumbu karang di seluruh dunia yaitu melawan perubahan iklim, memaksimalkan daya pulih terumbu karang – melalui minimalisasi tekanan lansung manusia pada terumbu-, meningkatkan kualitas pelaksanaan regulasi MPA, serta membantu meningkatkan kualitas pengambilan kebijakan pengelolaan melalui informasi pemantauan ekologi dan sosial ekonomi yang  berkualitas.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tantangan Utama: Minimnya Informasi Berkelanjutan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sejak 1 dekade lalu, permasalahan utama dari usaha pengelolaan terumbu karang dan ekosistem yang berasosiasi dengannya ialah terkait minimnya informasi. Informasi dimaksud spesifik mengarah pada data-data yang dibutuhkan terkait urgensi pengelolaan yang efektif bagi ekosistem terumbu karang di berbagai belahan dunia. Minimnya jumlah peneliti tidak sebanding dengan luasnya area terumbu karang yang harus dipantau, belum termasuk area-area terumbu yang sulit dijangkau. Luasan ini berimplikasi pada besarnya waktu dan tenaga yang harus digunakan, termasuk anggaran dana yang dialokasikan. Permasalahan khusus juga muncul dengan variatifnya cara,metodologi penelitian yang digunakan, membuat kebanyakan data menjadi sulit untuk dibandingkan serta cenderung terbatas hanya bisa diaplikasikan oleh para peneliti. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus ancaman bagi usaha pengelolaan terumbu yang tidak dapat dipungkiri membutuhkan masukan ekologis dan sosioekonomi dalam pengambilan strategi dan kebijakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Atas inisiasi suatu pertemuan tahun 1996, disepakati mengembangkan suatu metode untuk menjawab permasalahan-permasalah di atas. Suatu metodologi yang mudah untuk diterapkan sekaligus mampu menyediakan pertimbangan ilmiah, ekologis dan antropologis bagi pengambilan kebijakan terumbu karang. Metodologi ini kemudian disebut dengan Metodologi Survei Terumbu Karang Reef Check.</p>
<p style="text-align: justify;">Mudah dan ilmiah. Dua hal ini akan berimplikasi pada dapat dibangunnya suatu penelitian ilmiah yang dapat dilakukan oleh siapa saja, baik peneliti, pelajar, penyelam rekreasi, nelayan, bahkan masyarakat awam sekalipun. Hal ini yang kemudian oleh para ahli disebut sebagai pemantaun berbasis komunitas. Mudah dan ilmiah juga berarti metodologi ini dapat digunakan untuk menjangkau luasan terumbu karang dalam jumlah yang maksimal, karena juga akan lebih cepat dan lebih menghemat tenaga. Dan tentunya juga akan berarti lebih menghemat banyak biaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Keuntungan-keuntungan ini bagi kebutuhan pengelolaan akan sangat berarti besar. Dengan implikasi-implikasi yang ada pemantauan berbasis komunitas ini, dapat menjadi suatu kegiatan penelitian dan pemantauan yang berkesinambungan, yang akan menghasilkan suatu serial data pemantauan sepanjang periode tertentu (musim, triwulan,semester ataupun tahunan). Data berkesinambungan ini akan sangat bermanfaat bagi  pengelolaan, lebih efektif dibanding data yang tidak kontinyu. Data ini lebih dapat berbicara, menggambarkan tren kondisi terumbu karang, baik di skala lokal, regional, nasional bahkan internasional.</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga 2009, sebanyak 70 negara telah berpartisipasi mengorganisir survei Reef Check bersama-sama dengan komunitas-komunitas pemerhati terumbu karang dengan berbagai latar belakang. Di Indonesia sendiri, survei ini sudah berlangsung sejak 1997. Dimulai oleh 7 orang sukarelawan pada 1997, lalu mencapai total 644 sukarelawan pada 2002, hingga sekarang kurang lebih 1600 sukarelawan telah terlibat, dengan total lokasi pemantauan mencapai sekitar 64 lokasi. Sebuah demonstrasi nyata besarnya perhatian dan kepedulian masyarakat di Indonesia terhadap terumbu karang di nusantara. Aktifitas sukarelawan ini kemudian dikoordinasikan oleh Jaringan Kerja Reef Check Indonesia (JKRI).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Aksi Lokal, Dampak Global</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ardi, Ketua Unit Selam UGM menyebutkan dengan pelaksanaan Reef Check yang dikoordinir oleh mereka di Baluran secara rutin telah mengangkat perhatian dan kepedulian masyarakat lokal ke arah yang lebih baik. Data-data yang dihasilkan telah membuka mata mereka akan besarnya potensi laut mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesuksesan pelaksanaan Reef Check diberbagai daerah ini tidak terlepas juga dari dukungan dan kerjasama dari berbagai stakeholder. MDC Kelautan Universitas Diponegoro, telah mengadakan kegiatan Reef Check secara rutin sejak 1999 hingga sekarang. Setiap tahunnya minimal 30 orang penyelam bergabung untuk  memantau terumbu karang di Karimunjawa, Jawa Tengah. Aktifitas mereka ini selalu berkolaborasi dengan pihak Balai Taman Nasional, Dinas terkait bahkan dengan pihak Kabupaten. “Kolaborasi dan dukungan dari berbagai  pihak adalah kekuatan program Reef Check sehingga bisa berkelanjutan” kata Galdi Ariyanto, Ketua MDC . Kerjasama dimaksud tidak terbatas hanya pada bantuan pendanaan. “Sebagian besar dukungan yang kami dapatkan cenderung bersifat in-kind”  Andrianus Sembiring, ketua Reef Check Karimunjawa 2007, ”kami pernah mendapat bantuan transportasi, peralatan diving, ruangan training bahkan konsumsi”. Bahkan dijelaskannya di salah satu Reef Check, semua pihak berusaha membantu sebisanya, contohnya kelompok ibu PKK yang menjadi volunteer dengan menyuplai masakan. “Sangat sesuai dengan perut mahasiswa” kata Andrianus melanjutkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Klub selam mahasiswa memang menjadi fenomena khusus bagi perkembangan selam di Indonesia, termasuk juga kegiatan-kegiatan konservasi. Selain di UGM, beberapa klub selam lain yang aktif di Reef Check juga berbasis mahasiswa. ODC Aceh yang cenderung masih baru juga berbasis kampus. Termasuk juga di IPB, UNIBRAW, UNHAS,UNHALU, UNSRAT,UNIPA dan UNMUL. Beberapa diantaranya memiliki klub selam yang masih baru, sehingga masih belum terlalu aktif. Namun, regenerasi yang rutin membuat aktifitas mereka cenderung rutin dan mampu berbicara banyak di berbagai level. Terutama bagi klub selam yang berbasis di bidang ilmu yang sama, seperti Ilmu Kelautan maupun Perikanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak hanya mahasiswa, Reef Check memang didesain untuk mudah dilaksanakan oleh semua lapisan masyarakat. Reefs Buddies Jakarta malah digawangi oleh sebagian besar penyelam rekreasi. Yulia Atmajaya, Ketua Panitia Reef Check di Kepulauan Seribu  menjelaskan tentang terlibatnya banyak penyelam rekreasi. “Teman-teman diver di Jakarta sangat bervariasi latar belakangnya. Mereka ternyata sangat antusias. Menurut mereka aktivitas Reef Check menyenangkan, karena disamping menyelam, mereka juga bisa berkontribusi langsung lewat tindakan nyata pelestarian terumbu karang di laut” Komentar Yulia. Di Bali terutama di spot-spot penyelaman, kegiatan Reef Check dikomandoi oleh dive operator dan dive center yang tergabung dalam Reef Check Certified Facility. Kurang lebih terdapat 10 dive center yang sudah bergabung di Bali. Hal yang serupa juga berlaku di Manado. Thalassa Dive Center memfasilitasi pelaksanaan training Reef Check bagi siswa-siswa SMA lokal menjadi ujung tombak pemantauan di Manado.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Bali Utara, pelaksanaan Reef Check malah dikomandoi oleh para pecalang laut serta kelompok nelayan. Dua kelompok yang paling aktif yaitu Pecalang Laut Daerah Pengelolaan Laut (DPL) berbasis masyarakat  di desa Bondalem dan Kelompok Nelayan Baruna Bratha yang mengelola DPL Tejakula. “Keterlibatan kami didasari kesadaran pribadi dan kelompok bahwa masa depan kami dan hari esok anak-anak kami sebagian besar tergantung pada kondisi terumbu karang” jelas Made Darmika, Ketua Nelayan Baruna Bratha. Keterlibatan komunitas pengguna langsung dalam pemantauan terumbu karang merupakan senjata paling efektif untuk mengedukasi masyarakat terhadap kondisi terumbu saat ini. “Kami harus peduli terhadap terumbu karang. Selain karena tugas kami sebagai pecalang yang bertanggung jawab kepada desa adat dan Sang Hyang Widi, terumbu karang yang sehat akan lebih berguna bagi kami disbanding terumbu yang rusak. Dan memantaunya adalah modal awal untuk menjadikan terumbu menjadi sehat” tutur Pak Mangku, Pecalang pantai DPL Bondalem.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bangun,Bertindak,Sebelum Kita Kehilangan Terumbu Karang</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>You Don’t Know What You Get Till It’s Gone</em>, demikian lirik sebuah lagu. Demikian keadaan yang kita hadapi sekarang. Setiap beberapa bulan para peneliti melaporkan hilangnya suatu spesies atau ancaman-ancaman akan hilangnya suatu jenis dari bumi. Kita baru menyadari keberadaan mereka setelah mereka dilaporkan musnah dari peradaban. Mengapa? Kita tak pernah benar-benar peduli sampai mereka dalam keadaan terancam, bahkan kadang saat mereka hilang. Mungkin itu alas an kenapa <em>T-rex </em>lebih menarik dibanding triton yang mulai langka, atau napoleon menjadi sesuatu yang mustahil dijumpai.  Kita tidak akan pernah tahu apa yang kita miliki kalau kita tidak pernah mau tahu apa yang kita miliki. Kita tidak akan pernah tahu apa yang kita miliki masih ada bila kita tidak pernah rutin memantau kondisi dan keberadaannya. Itulah semangat yang ingin dibangun oleh Reef Check. Masyarakat harus menjadi agen di lapangan, bahu membahu bersama pengelola dan pemerintah memantau dan mengawasi apa yang Pencipta sudah berikan bagi nusantara ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Jensi Sartin dari Jaringan Kerja Reef Check Indonesia menjelaskan bahwa sejak 1997 rekan-rekan di Jaringan Reef Check selalu mengadakan survei secara rutin, namun biasanya waktu pelaksanaanya berlangsung acak. Mulai tahun 2009 ini dibuat terobosan baru. “Mulai tahun 2009 ini, setiap 22 Oktober kami tandai sebagai Reef Check Day, yaitu hari Reef Check di Indonesia” jelasnya saat menyepakati tanggal tersebut dalam pertemuan nasional JKRI, Oktober 2008 silam. Tanggal 22 Oktober merupakan gong untuk memulai survei serentak di seluruh wilayah Indonesia setiap tahunnya. “Tentunya kami memaklumi bila ada rekan-rekan JKRI yang mengadakan survei sebelum atau sesudah tanggal tersebut. Pertimbangan keselamatan penyelaman, terkait perbedaan musim dan kondisi laut tentunya harus diutamakan” jelasnya, sekaligus menggarisbawahi adanya kebutuhan survei tambahan (2 kali atau 3 kali setahun) di lokasi-lokasi lain. “Kami harapkan dengan adanya pelaksanaan survei secara serentak akan memperkuat gema semangat akan urgensi pelestarian terumbu karang di Indonesia” kata Jensi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tahun 2009 ini, beberapa anggota JKRI yang sudah melaporkan rencana surveinya antara lain;</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li>22 Oktober 2009, Ocean Diving Club (ODC)Universitas Syiah Kuala Banda Aceh dengan wilayah pemantauan di Krueng Raya, Ujung Aramayang dan Lhok Mee di Aceh Besar;</li>
<li>10-12 Oktober 2009 Reef Buddies Jakarta di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta sudah melakukan survei  Reef Check, presentasi hasilnya dijadwalkan minggu ke-2 November 2009;</li>
<li>6-14 November 2009, Unit Selam UGM di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur;</li>
<li>13-19 November 2009, Marine Diving Club (MDC) Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro di Taman Nasional Karimunjawa, Jawa Tengah;</li>
<li>21-24 Oktober 2009, Fisheries Diving Club (FishDic) Universitas Brawijaya di Situbondo, Jawa Timur;</li>
<li>23-25 Oktober 2009, Fisheries Diving Club Universitas Trunojoyo Madura di Kangean, Jawa Timur;</li>
<li>30 Oktober 2009 Marine Science Diving Club (MSDC) Universitas Hasanudin di Kepulauan Barrang Lompo dan Barrang Caddi, Sulawesi Selatan;</li>
<li>November 2009, Thalassa Dive Center di Manado, Sulawesi Utara;</li>
<li>November 2009, Palu Hijau di Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah;</li>
<li>23 Oktober 2009, Corona Diving Club Kendari, Wakatobi/Kendari-Sulawesi Tenggara;</li>
<li>November 2009, komunitas selam CAI Diving Club, di Pulau Sanghiang</li>
<li>Akhir Oktober 2009, Yayasan Reef Check Indonesia (YRCI) bersama Reef Check Facility di Bali ;</li>
<li>1-4 November 2009, Kelompok nelayan dan pecalang laut pengelola DPL di Tejakula, Bali Utara.</li>
<li>Beberapa komunitas lainnya yang akan menyusul adalah jaringan di Papua dan sekitarnya.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Sebagai suatu aksi sukarelawan, JKRI juga memotivasi para pemerhati terumbu karang, terutama penyelam, baik individu maupun lembaga untuk ikut bergabung. “Kami mengharapkan semakin rekan-rekan yang bergabung agar semakin banyak terumbu karang yang bisa kita selamatkan,” kata Jensi, sekaligus menjelaskan bahwa untuk membentuk tim Reef Check sangat mudah, “dengan memiliki 1 orang dari tim Anda yang telah mengikuti training Reef Check EcoDiver Trainer, maka rekan-rekan dapat meng”organize” Reef Check mandiri”. Prosedur lengkap dengan menghubungi rcindonesia@reefcheck.org.  Sedangkan yang ingin menjadi peserta dapat bergabung dengan tim Reef Check yang sudah ada. “Reef Check survei, terbuka untuk umum, rekan-rekan cukup membayar sedikit biaya untuk akomodasi dan logistik. Namanya juga kegiatan voluntary,” terang Andrianus dari MDC Kelautan Undip yang mengkoordinir survey di Karimunjawa, Jawa Tengah.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk mempermudah penyebaran informasi, lokasi serta lembaga pelaksana, pendaftaran peserta maupun mendaftarkan tim Reef Check baru dan update rencana dan hasil kegiatan Reef Check, YRCI selalu memuat informasi dari semua anggota jaringan di website <a href="http://goblue.or.id">www.goblue.or.id</a> dan blog JKRI <a href="http://rcindo.blogspot.com">www.rcindo.blogspot.com</a>. Untuk lebih jauh mengenal tentang Reef Check YRCI menyediakan informasi terkait di website Yayasan di <a href="http://reefcheck.or.id">www.reefcheck.or.id.</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.goblue.or.id/reef-check-2009-indonesia-bersama-memantau-terumbu-karang-indonesia-langkah-nyata-kepedulian-masyarakat-bagi-aset-bangsa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lionfish, kecantikan yang merepotkan?</title>
		<link>http://www.goblue.or.id/lionfish-kecantikan-yang-merepotkan</link>
		<comments>http://www.goblue.or.id/lionfish-kecantikan-yang-merepotkan#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jul 2008 06:48:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jensi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mengenai Terumbu Karang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.goblue.or.id/?p=379</guid>
		<description><![CDATA[Lionfish (Pterois.spp), adalah salah satu ikan karang yang tergolong kharismatik. Dengan sirip dan duri-durinya yang anggun, banyak penyelam yang menjadikannya sebagai objek andalan, baik untuk di foto maupun sekedar melihat. Namun, saat ini di Karibia, Lionfish telah menjadi masalah serius, karena keberadaannya telah mengakibatkan tingkat survival dari ikan karang lainnya menurun hingga 80%.
Tekanan yang besar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lionfish (Pterois.spp), adalah salah satu ikan karang yang tergolong kharismatik. Dengan sirip dan duri-durinya yang anggun, banyak penyelam yang menjadikannya sebagai objek andalan, baik untuk di foto maupun sekedar melihat. Namun, saat ini di Karibia, Lionfish telah menjadi masalah serius, karena keberadaannya telah mengakibatkan tingkat survival dari ikan karang lainnya menurun hingga 80%.</p>
<p><span id="more-379"></span><a href="http://www.goblue.or.id/wp-content/uploads/lion-fish-by-reef-check-indonesia-20061.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-388" title="lion-fish-by-reef-check-indonesia-20061" src="http://www.goblue.or.id/wp-content/uploads/lion-fish-by-reef-check-indonesia-20061.jpg" alt="" width="300" height="233" /></a>Tekanan yang besar terhadap terumbu di karibia menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan ekologi. Sedimentasi, polusi hingga overfishing telah menjadi isu serius sejak beberapa tahun terakhir. Lionfish yang merupakan karnivora, telah mendominasi rantai makanan pada terumbu disana.  Penelitian di lokasi menunjukkan bahwa hanya dalam 5 minggu, lionfish mampu menurunkan hingga 75% populasi juvenik ikan muda. Jenis-jenis yang paling terpangaruh ialah Cardinalfish, parrotfish, damsel. Masalah menjadi semakin parah, karena sebagian besar jenis yang terpengaruh/ hilang dari terumbu ialah ikan-ikan herbivor, yang mengontrol keberadaan alga di terumbu. Alga berkompetisi dengan karang untuk mendapatkan ruang/substrat. Menurunnya pemangsa alga yang berkombinasi dengan tingkat run off serta sedimentasi dari darat, menjadi ancaman terhadap eksistensi terumbu di Karibia.</p>
<p>Lalu, apakah tidak ada solusi bagi masalah lionfish ini ?, menurut para peneliti, predator alami dari lionfish adalah kerapu/grouper. Sayangnya, populasi kerapu telah mengalami overfishing berat, sehingga harapannya hanya pada pola kanibalisme yang berlaku pada lionfish. cara lain adalah mengintroduksi pemangsa bagi lionfish ke daerah terumbu. Penelitian lanjutan masih terus dilakukan sejauh ini.</p>
<p>Salah satu catatan penting mengenai lionfish di Karibia ialah, ternyata ikan ini bukan asli ikan di terumbu Karibia, melainkan dibawa oleh pencinta akuarium lokal atau para fish hobbist. Ikan ini berasal dari daerah Indian dan Tropical Pacific Ocean.</p>
<p>&#8220;These are pretty scary fish, and they aren&#8217;t timid. They will swim right up to a diver in their feeding posture, looking like they&#8217;re ready to eat. That can be a little spooky.&#8221; kata Mark Hixon, ahli zoologi yang meneliti di Karibia. Keindahan yang merepotkan memang&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.goblue.or.id/lionfish-kecantikan-yang-merepotkan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemutihan Karang</title>
		<link>http://www.goblue.or.id/pemutihan-karang</link>
		<comments>http://www.goblue.or.id/pemutihan-karang#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Apr 2008 05:13:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Naneng Setiasih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mengenai Terumbu Karang]]></category>
		<category><![CDATA[karang]]></category>
		<category><![CDATA[pemutihan]]></category>
		<category><![CDATA[Pemutihan karang]]></category>
		<category><![CDATA[terumbu karang]]></category>
		<category><![CDATA[zooxanthellae]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.goblue.or.id/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[
Pemutihan karang terjadi pada saat karang (keras dan lunak) dan hewan-hewan laut lain yang bersimbiosis dengan zooxanthellae kehilangan zooxanthellae- nya karena suatu tekanan/stress tertentu.  Pada banyak hewan karang keras (hard coral), zooxanthellae merupakan pemberi warna utama.  Oleh karena itu, kehilangan zooxantellae akan membuat warnanya memucat, sampai pada akhirnya jaringan karang menjadi transparan, memperlihatkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.goblue.or.id/wp-content/uploads/2008/04/bleaching-anemon-fig24.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-36" style="float: left;" title="bleaching-anemon" src="http://www.goblue.or.id/wp-content/uploads/2008/04/bleaching-anemon-fig24-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Pemutihan karang terjadi pada saat karang (keras dan lunak) dan hewan-hewan laut lain yang bersimbiosis dengan zooxanthellae kehilangan zooxanthellae- nya karena suatu tekanan/stress tertentu.  Pada banyak hewan karang keras (<em>hard coral</em>), zooxanthellae merupakan pemberi warna utama.  Oleh karena itu, kehilangan zooxantellae akan membuat warnanya memucat, sampai pada akhirnya jaringan karang menjadi transparan, memperlihatkan warna putih kerangka kapur di bawahnya. Beberapa karang membuat semacam tabir surya pada saat hal ini terjadi, sehinga karang tampak berwarna pastel (biru, kuning, merah muda) (Dove et all, 2001).</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak macam tekanan yang dapat membuat karang memutih, seperti misalnya penyakit, racun (bahan kimia), dan lain-lain.  Namun penyebab utama pemutihan karang dalam skala luas adalah kombinasi dari kenaikan temperatur air laut dan intensitas cahaya (Hoegh-Guldberg 1999).</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone size-medium wp-image-89 alignright" style="float: right;" title="bleaching-reef-fig23" src="http://www.goblue.or.id/wp-content/uploads/2008/04/bleaching-reef-fig23-235x300.jpg" alt="" width="235" height="300" />Pada saat terjadi kenaikan suhu, zooxanthellae menghasilkan oksigen radikal yang akan merusak jaringan hewan yang ditempatinya. Oleh karena itu, mau tidak mau hewan tersebut harus melepaskan zooxanthellae tersebut untuk mencegah kerusakan jaringan.  Jumlah zooxanthellae yang dilepaskan tergantung dari jumlah radikal bebas yang dihasilkan; tergantung dari intensitas dan lamanya hewan terdedah pada kenaikan suhu tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan kecenderungan suhu bumi yang terus menaik karena pemanasan global, kejadian pemutihan t<a href="http://www.goblue.or.id/tentang-terumbu-karang">erumbu karang</a> skala luas diperkirakan akan terjadi semakin sering dengan intensitas yang meningkat. Apabila kenaikan suhu ini dibandingkan dengan batas toleransi karang terhadap pemutihan dalam 100 tahun terakhir, maka pada tahun 2020, diprediksikan bahwa pemutihan terumbu karang akan terjadi setiap tahun (Hoegh-Guldberg, 1999).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dampak dari pemutihan karang</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.goblue.or.id/wp-content/uploads/2008/04/dscn0235a.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-38" style="float: right;" title="para ahli terumbu karang berkumpul di Australia" src="http://www.goblue.or.id/wp-content/uploads/2008/04/dscn0235a-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Para pengamat terumbu karang di Indonesia dan di seluruh dunia tentunya ingat bahwa pada tahun 1997-1998 terumbu karang di banyak tempat mengalami pemutihan.  Beberapa daerah terumbu mengalami penyembuhan (<em>recovery</em>) yang cukup cepat, sementara banyak tempat lain yang sampai saat ini tidak mempunyai kemajuan yang berarti. Wilkonson (1999) mengestimasi bahwa sekitar 16% terumbu karang dunia mati sebagai akibat dari pemutihan massal ini.  Selain itu, diperkirakan kejadian ini kemungkinan akan menyebabkan kepunahan pada beberapa spesies karang di sekitar Panama dan Okinawa (WWF dan TNC, 2001).<span id="more-35"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Di Indonesia, pada tahun 1997-1998, pemutihan karang yang mencapai sekitar 50% atau lebih dari tutupan karang tercatat terjadi di Taman Nasional Bali Barat (mencapai hingga 100%), Karimun Jawa, Taman Nasional Pulau Seribu, Kepulauan Gili, Lombok (mencapai hingga 90%) dan Kalimatan Timur.  Tingkat kematian dari karang yang terkena pemutihan tersebut di Karimun Jawa mencapai 50-60% (irdez et all, 1998).</p>
<p style="text-align: justify;">Kerusakan yang terjadi pada <a href="http://www.goblue.or.id/tentang-terumbu-karang">terumbu karang</a> ini tentunya akan mengurangi pelayanan dan jasa yang diberikan terumbu karang kepada manusia.  Kerugian ekonomi dari terdegradasinya the Great Barrier Reef di Australia dalam skenario kenaikan suhu akibat pemanasan global telah diestimasi untuk mencapai sedikitnya  US$2,5-6 milyar dalam 19 tahun (WWF, 2004). Di Asia Tenggara sendiri, apabila terjadi pemutihan karang yang sangat parah dalam 50 tahun kedepan, nilai jasa dan produk yang hilang dari perikanan, pariwisata, dan kerusakan keanekaragaman dapat mencapai US$ 38,3 miliar (Cesar et all, 2003).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pengelolaan <a href="http://www.goblue.or.id/tentang-terumbu-karang">terumbu karang</a> dengan memperhatikan aspek pemutihan karang</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Melihat besarnya dampak dan luasnya area yang dapat dipengaruhi, pemutihan terumbu karang saat ini diperkirakan merupakan salah satu ancaman yang sangat penting untuk diperhatikan dalam pengelolaan terumbu karang.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengelolaan terumbu karang konvensional umumnya masih mengesampingkan aspek pemutihan karang.  Hal ini berarti, besar kemungkinan suatu tempat yang sama sekali tidak mempunyai kelentingan (<em>resilience</em>) terhadap pemutihan karang dilindungi dengan ketat, sementara tempat yang sangat lenting terhadap pemutihan karang justru tidak dilindungi.  Untuk mencegah kejadian seperti ini, seorang pengelola perlu paham benar faktor-faktor apa saja yang berperan besar dalam menjaga dan atau meningkatkan kelentingan terumbu karang terhadap pemutihan global.</p>
<p style="text-align: justify;">Berdasarkan pada beberapa studi pustaka dan pengumpulan data pengamatan secara sistematik dari para peneliti di lapangan, teredapat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap ketahanan (<em>resistance</em>) and kelentingan terumbu karang terhadap pemutihan (West and Salm 2003). Faktor-faktor ini adalah:</p>
<ul style="text-align: justify;" type="square">
<li>Faktor yang menurunkan suhu (misalkan <em>upwelling</em> lokal, dan jarak yang dekat ke kolom laut yang      dalam)</li>
<li>Faktor yang meningkatkan pergerakan air dan menghanyutkan      zat-zat kimia yang berbahaya (seperti selat yang sempit, arus kencang, <em>channel</em>, dll)</li>
<li>Faktor yang mengurangi tingkat keterdedahan terhadap radiasi      cahaya (seperti bayangan dari pegunungan di atas hamparan karang,      kekeruhan air, dll)</li>
<li>Faktor yang mengindikasikan potensial pre-adaptasi kepada suhu      dan tekanan lain (seperti daerah yang terdedah pada temperatur yang      bervariasi, karang yang secara regular terekspos pada saat surut, sejarah      survival dari pemutihan karang, dll)</li>
<li>Faktor yang meindikasikan potensial penyembuhan yang kuat      (seperti larva karang yang melimpah dan tingkat perekruitan larva yang      tinggi)</li>
<li>Faktor yang meningkatkan transport larva ke daerah tersebut      (adanya hubungan-<em>connectivity</em>-      yang baik ke sumber larva)</li>
<li>Faktor yang meningkatkan kondisi yang baik bagi perekruitan      larva (struktur komunitas yang beragam dan ada nya pengelolaan yang      efektif)</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Lima faktor pertama berhubungan erat dengan kondisi alam terumbu karang. Kondisi alam dengan faktor-faktor inilah yang harus menjadi pertimbangan pemilihan lokasi perlindungan, atau permintakatan (zonasi) suatu zona lindungan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dua faktor terakhir berkaitan erat dengan upaya langsung implementasi pengelolaan di lapangan.  Banyak ahli memprediksikan bahwa pengelolaan yang efektif dapat mengurangi tekanan pada karang.  Dengan demikian terumbu berada dalam kondisi yang prima pada saat pemutihan karang terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengelolaan juga tidak bisa hanya terfokus pada suatu daerah, namun harus memperhitungkan hubungan (<em>connectivity</em>) dengan daerah-daerah lain.  Ini artinya, pengelola daerah-daerah lindungan harus membangun jaringan kerja yang baik untuk menjaga agar konektifitas antara penyuplai dan penerima larva terjaga.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun perlu dicatat bahwa semua upaya yang dilakukan untuk membantu karang beradaptasi terhadap pemutihan karang merupakan upaya &#8220;membeli waktu&#8221;.  Untuk mengatasi pemutihan karang secara menyeluruh, diperlukan upaya yang keras dalam mengurangi emisi gas rumah kaca sebagai penyebab utama pemanasan global.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sangat penting untuk dapat memahami karakteristik dari pemutihan karang serta pola penyebaran, ketahanan, dan kelentingannya agar pengelola dapat mengambil keputusan yang tepat dalam membantu <a href="http://www.goblue.or.id/tentang-terumbu-karang">terumbu karang</a> beradaptasi terhadap pemutihan karang.  Untuk itu diperlukan adanya upaya pemantauan terumbu karang yang terstruktur dan berkesinambungan dalam skala luas.   Para pembaca di Indonesia yang berminat dapat menghubungi LIPI (Critics) atau WWF Indonesia (program Friends of the Reef).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.goblue.or.id/pemutihan-karang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
