Derawan

Lokasi: Derawan merupakan sebuah kepulauan di Kabupaten Berau Kalimantan timur yang terdiri dari 31 pulau, termasuk 4 pulau yang cukup terkenal yaitu Pulau Maratua, Derawan, Sangalaki, dan Kakaban. Kepulauan Derawan memiliki beberapa ekosistem pesisir dan pulau kecil yang sangat penting yaitu terumbu karang, padang lamun dan hutan bakau (hutan mangrove). Derawan juga merupakan rumah bagi beberapa spesies yang dilindungi seperti penyu hijau, penyu sisik, paus, lumba-lumba, kima, ketam kelapa dan duyung.

Akses: Untuk sampai ke Derawan, pertama harus menuju Balikpapan kemudian menuju berau melalui jalur darat maupun udara. Dilanjutkan dengan perjalanan darat kurang lebih 2 jam untuk mencapai pelabuhan dan terakhir adalah menggunakan jalur laut dengan speed boat selama 30 menit untuk mencapai Derawan.

Gambaran umum dive site: Daya tarik utama adalah pulau Kakaban, sebuah atol yang karena proses geologi mengalami pengangkatan, membentuk danau air asin yang masih berhubungan dengan laut di sekeliling pulau. Fauna menarik yang paling menarik tentunya adalah 4 jenis ubur-ubur yang hidup di danau ini: Cassiopeia ornate, Mastigias papua, Aurelia aurita dan Tripedalia cystophora yang telah kehilangan kemampuan menyengatnya. Selain danau Kakaban, terdapat juga beberapa spot populer seperti manta spot, hiu dan penyu. Keunikan-keunikan ini berkombinasi dengan keindahan dari terumbu karang menjadikan pesona penyelaman di daerah ini tidak pernah berakhir.

Waktu penyelaman terbaik : April hingga Desember

Status Konservasi: Kepulauan Derawan masuk dalam Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) berdasarkan keputusan Bupati Berau tahun 2005. Pertimbangan utama konservasi di Derawan ialah keanekaragaman hayati yang ada di kepulauan ini antara lain satwa endemik.

Keindahan Taman Laut Bontang Kaltim

31 Aug 2010 Kategori: Berita Terbaru, Derawan

Nemo "Bontang"Salah satu tempat wisata di Kalimantan Timur ialah di Bontang, tepatnya di Pulau Beras Basah. Pulau ini berada kurang lebih 5 km dari bibir pantai kota Bontang. Di pulau ini kita dapat menikmati indahnya pasir putihnya dan tentunya menikmati keindahan terumbu karang. Pilihan yang menarik bila Derawan terlalu jauh bagi anda. Penasaran? kunjungi link video dibawah dan AYO LIBURAN Ke BERAS BASAH!!!
Taman Laut Beras Basah Island Part 1
Taman Laut Beras Basah Island Part 2

Kawasan Konservasi Berau Terancam

13 May 2009 Kategori: Berita Terbaru, Derawan, Tempat Dive Favorit

Pemanfaatan sumber daya kelautan yang kurang lestari mengancam penyelamatan Kawasan Konservasi Laut Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Padahal kawasan tersebut merupakan salah satu tempat dengan keanekaragaman hayati kelautan terbaik di dunia.

Baca selengkapnya »

Berau 11 September 2008 – Tim Pengarah Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan laut Kabupaten Berau meluncurkan Stasiun Pengawasan Terapung (Floating Surveillance Station) “FSS Penyu Laut” untuk mendukung pengamanan KKL Berau, Kalimantan Timur dari ancaman illegal fishing, penjarahan biota laut yang dilindungi, serta praktek penangkapan ikan yang merusak lingkungan.

Program ini mendapat dukungan penuh organisasi non-pemerintah The Nature Conservancy (TNC), WWF-Indonesia dan Conservation International Indonesia meluncurkan Stasiun Pengawasan Terapung (Floating Surveillance Station) “FSS Penyu Laut” untuk mendukung pengamanan KKL Berau, Kalimantan Timur dari ancaman illegal fishing, penjarahan biota laut yang dilindungi, serta praktek penangkapan ikan yang merusak lingkungan.

Peluncuran “FSS Penyu Laut” merupakan tindak lanjut Keputusan Bupati Berau Nomor 208 Tahun 2007 tentang pembentukan tim terpadu pengamanan KKL Berau, dengan tujuan utama melindungi wilayah yang sangat kaya keanekaragaman hayati, sekaligus melindungi potensi sumber daya laut dan pesisir yang sangat besar di daerah tersebut.

Dengan 6 orang awak dan 10 pengawas, ”FSS Penyu Laut” memiliki panjang total 23 meter, lebar 5,25 meter, digerakkan mesin 6 silinder dengan kemampuan maksimal 280 tenaga kuda. Kapal ini dirancang mampu menggelar misi pengawasan selama sepuluh hari di tengah laut, mengawasi perairan KKL Berau seluas 1,2 juta hektar.

Bupati Berau Drs. H. Makmur HAPK. MM dalam pidatonya menyambut baik dan mengapresiasi Tim Pengarah Pengelolaan Sumberdaya Perikanan dan Kelautan Kabupaten Berau, khususnya Program Bersama Kelautan Berau TNC-WWF di wilayah ini, atas tersedianya fasilitas Stasiun Pengawasan Terapung ”Penyu Laut”. Makmur mengakui banyaknya permasalahan kelautan dan perairan, khususnya dalam bidang kesinambungan sumber daya laut di wilayah yang dipimpinnya.

”Pemahaman masyarakat pesisir – terutama para nelayan – mengenai peraturan perundangundangan yang berlaku, khususnya tentang perikanan dan konservasi sumberdaya alam masih kurang, baik nelayan asing maupun nelayan lokal atau andon,” ujar Makmur. Melihat besarnya wilayah dan pentingnya menjaga perairan dan pesisir wilayah Berau, Makmur meminta dukungan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat melalui Departemen Kelautan dan Perikanan untuk meningkatkan sarana dan prasarana.

Pimpinan Program Bersama TNC-WWF Hirmen Syofyanto mengatakan. ”Program FSS ini merupakan bentuk komitmen kami dalam mendukung pemerintah kabupaten untuk pengelolaan KKL Berau.” Hirmen melanjutkan, ”Harapan kami adalah terjaganya kekayaan alam laut Berau yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat.”

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Berau Dr. Ir. H. Achmad Delmy, M.Agr dalam sambutannya mengungkapkan, ”Kita membutuhkan pengawasan dan pengendalian sumber daya perikanan dan kelautan secara terpadu dan intensif, agar pemanfaatan sumberdaya berlangsung dengan tertib, bertanggung jawab, ramah lingkungan, terkendali, berkeadilan dan berkelanjutan.”

Kasus pencurian dan perusakan sumber daya alam marak terjadi. Hasil pemantauan pemanfaatan sumber daya alam oleh Program Bersama TNC-WWF menunjukkan 80% total hasil tangkapan dilakukan oleh nelayan dari luar kawasan. Tutupan terumbu karang yang mati mencapai 45,65% dibagian utara dan 35,05% dibagian selatan kawasan, yang berakibat pada penurunan hasil tangkapan ikan antara 60-80% dalam lima tahun terakhir berdasarkan laporan nelayan setempat. Selain itu, tahun 2005-2006 tercatat beberapa kasus pencurian penyu dengan total jumlah penyu yang mati mencapai 735 ekor.

Kehadiran FSS Penyu Laut diharapkan mampu melindungi sumber daya alam dan kesejahteraan masyarakat, antara lain dengan mengawasi pengaturan daerah tangkapan ikan sehingga tidak terjadi pelanggaran batas daerah tangkapan oleh nelayan lokal maupun nelayan dari luar. KKL Berau memiliki lebih dari 30 pulau kecil yang tidak berpenghuni, sebagian merupakan pulau-pulau terluar Indonesia, sehingga pengamanan kawasan merupakan prioritas Pemerintah Kabupaten. Perkembangan industri pariwisata bahari, khususnya dengan masuknya kapal-kapal pariwisata juga perlu dikelola lebih baik. Dengan ditetapkannya perairan Berau sebagai KKL melalui Peraturan Bupati No. 31 Tahun 2005 tentang KKL Berau, maka pengawasan dan pengamanan merupakan suatu hal yang dibutuhkan. Salah satu butir di Peraturan Bupati menyebutkan bahwa pengamanan dan pengawasan KKL dilakukan oleh instansi/dinas terkait.

KKL Berau, termasuk pulau-pulau Derawan, Sangalaki, Semama, dan Kakaban, memiliki kekayaan keanekaragaman hayati kedua tertinggi di dunia setelah kabupaten Raja Ampat di Papua Barat. Penelitian TNC tahun 2004 menemukan sedikitnya 444 jenis karang keras, 872 jenis ikan dan ubur-ubur endemik yang tidak bersengat di perairan Kabupaten Berau, selain sebagai kawasan peneluran penyu hijau terbesar di Asia Tenggara. Kekayaan laut dan pesisir Berau juga penting untuk kesinambungan penghidupan rakyat setempat, selain juga potensial dikembangkan sebagai kawasan wisata bahari tingkat dunia.

Keterangan lebih lanjut hubungi :
Sekretaris Tim Pengarah
Sub-Dinas Bina Sumberdaya Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Berau
Jl. Mangga II No. 49, Tanjung Redeb. Telp/Fax : 0554 – 21545

Catatan untuk Redaksi :
KKL Berau, yang berlokasi di region Sulu-Sulawesi, merupakan bagian “jantung” Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle) yaitu kawasan ekosistem laut yang paling beragam dan paling produktif di dunia. Kawasan ini memiliki variasi tipe habitat laut tropis yang tinggi, beragam bentukan terumbu karang yang mengelilingi pulau-pulaunya (karang cincin, karang tepi, karang penghalang dan karang tompok), sampai hutan bakau yang lebat. Sejarah oseanografi dan tektonik yang rumit telah menghasilkan fitur-fitur unik seperti danau uburubur di Kakaban. Keanekaragam ekosistem ini memberi kekayaan keanekaragaman hayati, dengan 872 spesies ikan, sedikitnya 233 spesies algae, 16 spesies rumput laut, 33 spesies bakau, 444 spesies karang, lima dari enam jenis penyu dunia, dan sedikitnya 22 spesies mamalia laut termasuk didalamnya dugong dan lumba-lumba. Kawasan ini juga menjadi kawasan peneluran penyu hijau terbesar di Asia Tenggara.

Sumber: WWF-Indonesia

Let's Go Blue Indonesia!

Web site ini dibuat secara gotong royong oleh berbagai pihak untuk membangun trend cinta laut serta menyediakan akses informasi yang mudah untuk bisa terlibat di dalam konservasi laut dan pesisir serta ekosistem terkaitnya, dengan saling berbagi informasi yang bersifat positif, membangun semangat, dan saling menghargai satu sama lain. Baca selengkapnya


Reef Check indonesia Reef Check Day

Log In

Arsip Berita

Promosikan karya2 fotografi kamu!

Caranya, kirim email ke goblueindonesia@yahoo.com, max 3 karya foto bawah laut Indonesia kamu, .jpg ya, berikut nama kamu, email, alamat website kamu, dll. Foto terbaik akan kami umumkan setiap bulannya. dan menangkan T-shirt keren dari yayasan Reef Check Indonesia. Jadi tunggu apalagi =)