Kadidiri. Apakah anda pernah mendengar nama pulau ini? Hmm, mungkin ada yang baru mendengarnya, tapi mungkin ada pula yang sudah akrab dengannya. Pulau indah di kepulauan Togean, Sulawesi Tengah, salah satu kawasan konservasi laut di Indonesia. Baca selengkapnya »
Waktu penyelaman yang disarankan: November-April
Ambon sudah terkenal sejak pertama kali Wallacea menginjakan kakinya di sana. Orang Belanda bahkan menjadikan Ambon sebagai “bahama”nya orang-orang kaya Amerika dan Eropa sekarang.
Semua ini bukan hanya karena kota, pantai dan laut birunya yang indah, namun juga kekayaan bawah lautnya yang luar biasa. Pusat Penelitian Oceanografi LIPI bahkan menempatkan satu stasiunnya di sini khusus untuk mendata dan mengamati kawasan perairan yang kaya ini. Sayangnya, pada saat kerusuhan Ambon beberapa waktu lalu, banyak data-data ini yang hilang atau terbakar, sehingga kita kehilangan informasi berharga mengenai kawasan Ambon.
Perjalanan “ecodiving” kita ke Ambon tentunya akan sangat membantu pengumpulan data baru yang akan sangat berguna untuk pengelolaan terumbu.
Tapi, ada atau tidak data, kita tahu bahwa laut Banda yang dalam dan upwelling yang regular membuat kawasan ini berlimpah nutrisi. Hal ini menggaransi kondisi lingungan terumbu karang dan ikan yang sehat dan berlimpah. Hewan-hewan laut yang bermigrasi antara Samudra Indonesia dan Pasifik juga seringkali terlihat. Jadi, hampir dipastikan bahwa menyelam di Ambon akan membawa pengalaman diving yang manise….
Tempat ini masih tergolong baru. Artinya, apapun info yang kita dapat dan dengar, masih sangat mungkin berubah. Satu yang pasti. Halmahera utara terletak di dalam kawasan utama segitiga keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia, sama seperti Bunaken, Raja Ampat, Ambon, dan Waka Tobi. Artinya, apa yang akan kita lihat dan kita nikmati tidak akan jauh berbeda dengan petualangan kita di daerah-daerah tersebut.
Plus, tentunya akan sangat mungkin di sini kita menjadi diver pertama yang menemukan suatu keunikan. Siapa tahu nama kita akan menjadi nama dive site baru?
Waktu penyelaman yang direkomendasikan: November-Mei
Cetacean, adalah keunikan utama Alor-Solor. Air laut berpindah dari samudara India menuju laut Banda yang dalam dan sebaliknya. Arus air dari laut dalam yang dingin juga secara regular naik ke atas (upwelling). Aliran massa air yang besar ini melewati selat-selat sempit di kawasan alor solor membawa arus kencang (sekitar 4- 8 knot) dan makanan yang berlimpah bagi megafauna yang tinggal di laut.
Daerah ini disinyalir merupakan daerah yang penting bagi paus untuk makan, kawin, mengandung, dan membesarkan anak. Sering ditemukan di daerah ini kumpulan ibu-ibu paus di tengah kumpulan beberapa ikan paus jantan dan betina berukuran kecil. Termasuk, sperm whale dan blue whale yang sudah termasuk daftar merah di daftar hewan terancam (endangered species) IUCN.
Penelitian terakhir yang dilakukan oleh pakar paus dunia Ben Khan, pada tahun 2005 ditemukan sekitar 12 jenis cetacean di kawasan ini, dan 2 jenis yang sulit untuk diidentifikasi . Jumlahnya pun cukup berlimpah. Kondisi ini ditemukan konsisten untuk beberapa tahun belakangan. Bukti bahwa daerah ini adalah daerah kunci untuk cetacean.
Waktu penyelaman yang direkomendasikan: April-Oktober
Dari kedalaman laut Banda, ada 4 pulau besar yang muncul: Wangi, Kaledupa, Tomea, Binongki – yang kemudian disingkat menjadi WaKaToBi.
Air yang jernih, pulau dengan pasir putih yang dikelilingi terumbu karang, letaknya yang jauh dari Sulawesi sebagai pulau utama terdekat membuat berada di Waka Tobi benar-benar berasa liburannya.
Plus, terumbu di Wakatobi merupakan terumbu fosil, yang terbentuk dalam iklim kering dan kemudian terangkat. Ini artinya erosi tanah sangat minimal sehingga air laut di sini luar biasa beningnya.
Statusnya sebagai taman nasional menempatkan Wakatobi dalam pengelolaan perikanan yang ketat. Artinya, ikan di kawasan ini berlimpah dan akan menjadi teman setia kita, di mana pun kita menyelam.
Pemantauan yang dilakukan oleh TNC menemukan sekitar 396 jenis karang keras scleractinian dan 590 jenis ikan karang . Karang Kaledupa mencatat banyak komunitas karang yang tidak umum dan kelimpahan species langka yang paling tinggi.
Selain itu, pemantauan oleh teman-teman anggota jaringan Reef Check di Kendari menunjukan kondisi karang yang sangat beragam. Umumnya tempat-tempat yang jauh dari konsentrasi penduduk mempunyai tutupan karang yang baik, bahkan sampai di atas 70%.
Waktu menyelam yang direkomendasikan: April-Desember
Potensi bawah laut pulau-pulau di kawasan konservasi laut Berau sudah lama menjadi legenda para diver. Sebut saja: Derawan, Sangalaki, Maratua, Kakaban, dan Samama, 5 dari 31 pulau-pulau kecil di kawasan ini yang menawarkan atraksi menyelam kelas dunia yang eksklusif.
Highlight dari eksklusifitas ini tentunya adalah pulau Kakaban, sebuah atol yang karena proses geologi terangkat, membentuk danau air asin yang masih berhubungan dengan laut di sekitarnya.
Flora dan fauna di tempat ini banyak yang sebenarnya serupa dengan saudaranya di lautan. Hanya saja, terpisah sekian lama dan menghadapi kondisi lingkungan yang berbeda membuat mereka berevolusi. Proses ini mempengaruhi struktur fisik dan tingkah laku mereka.
Yang paling terkenal tentunya adalah 4 jenis ubur-ubur yang hidup di danau ini: Cassiopeia ornate, Mastigias Papua, Aurelia Aurita dan Tripedalia Cystophora. Ubur-ubur ini dilaut mempunyai sengat yang lumayan. Namun dengan tidak adanya predator yang memakan mereka, ubur-ubur di danau ini kehilangan kemampuan menyengatnya. Alhasil, menyelam di danau ini, dalam keheningan kecuali bunyi napas kita, di tengah air biru dan jutaan ubur-ubur, rasanya seperti berada di planet lain.
Derawan tidak hanya punya Kakaban. Pulau Sangalaki adalah pulau tidak berpenduduk yang menjadi langganan tetap penyu untuk bertelur. Karenanya, kalau di tempat tempat lain kita harus dive dan mencari-cari penyu, di Berau kita malah harus mencari-cari lokasi yang tidak ada penyunya.
Segala macam atraksi manta juga ada di sini, dari mulai Manta leyeh-leyeh, manta bersih-bersih di cleaning station, atau Manta cari makan.
Ikan-ikan besar termasuk hiu juga bayak seliweran. Banyak di antara mereka yang membentuk kumpulan ikan yang sangat banyak sehingga diving di sini akan sangat dijamin top!!
Menurut Wiryaman dkk (2005) , Kawasan kaya ini mencatat 474 jenis karang keras scleractinian dan 832 jenis ikan karang dengan 2 lokasi yang oleh pengamatnya disebut sebagai tempat dengan keanekaragaman ikan karang tertinggi di kawasan diving di Barat Indonesia/pusat pasifik. Di tempat ini juga ditemukan sedikitnya 10 jenis cetecean , termasuk 2 jenis paus.
Selanjutnya hasil pemantauann snapshot dengan Reef Check oleh anggota jaringan di Kalimantan menemukan kondisi karang yang secara umum cukup baik, denagn beberapa tempat mempunyai tutupan karang di atas 50% . Hal ini menjadikan ke arah manapun kita melihat saat diving, pemandangan indah guaranteed
Waktu penyelaman yang direkomendasikan: November-Mei
Raja Ampat terdiri dari sekitar 1500 pulau-pulau kecil di kawasan Papua Barat. Kawasan ini tengah naik daun karena keanekaragaman hayatinya yang luar biasa. Di sini banyak terdapat aliran air dari samudra pasifik menuju laut dalam di kawasan pulau Banda. Arus yang sangat kaya akan nutrisi.
Halim dan Mouse (2006) menyebutkan penelitian TNC tahun lalu dengan para saintis internasional menemukan sekitar 488 jenis karang batu, 1074 jenis ikan karang, ketiga tertinggi di dunia setelah Teluk Maumere (1111 jenis) dan Teluk Milne (1109 jenis)!! Di kawasan ini ditemukan juga 699 jenis moluska . Semua data-data ini menjadikan Raja Ampat ada di sorotan utama konservasi laut dan penyelaman dunia.
Tapi tak cuma statistik yang menjadikan Raja Ampat luar biasa. Untuk yang terbiasa menyelam di kawasan Barat, ukuran ikan di Raja Ampat bisa mencengangkan. Satu ikan kerapu di sini bisa kasih makan satu kampung!
Selain kumpulan ikan-ikan besar, penyu, lumba-lumba, manta, bahkan paus seringkali terlihat di tempat ini.
Sepertinya para diver mania harus menempatkan Raja Ampat dalam agenda “the must”. Areanya relatif baru sehingga banyak pula pengalaman baru yang siap menanti. Diving di salah satu dari sekian banyak Wreck, diantara sponge, coral, dan gorgonian besar yang berwarna-warni, dikelilingi ikan-ikan besar, dan sesekali hammerhead melintas. Di perahu? Di temani lumba-lumba dan paus yang seringkali lewat.
Pemandangan indah bukan hanya ada di bawah air. Pulau-pulau yang berbukit-bukit hijau dengan air laut dengan warna turqoise akan memanjakan mata kita sepanjang hari, plus, tentunya sunset yang tidak akan terlupakan.
Web site ini dibuat secara gotong royong oleh berbagai pihak untuk membangun trend cinta laut serta menyediakan akses informasi yang mudah untuk bisa terlibat di dalam konservasi laut dan pesisir serta ekosistem terkaitnya, dengan saling berbagi informasi yang bersifat positif, membangun semangat, dan saling menghargai satu sama lain. Baca selengkapnya
