Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula, sejak lama dikenal sebagai salah satu desa terkaya dan termaju di Kabupaten Buleleng, Bali. Rumah-rumah tua berarsitektur modern dan besar, tidak seperti kebanyakan rumah tradisional Bali, masih terawat dengan baik, berdiri kokoh dan tampak indah dengan penataan taman yang serasi, tidak kalah dibandingkan vila-vila dan pondok wisata milik sejumlah orang asing yang banyak terdapat di sekitar pantai desa tersebut. Salah satunya, adalah rumah keluarga Perbekel (Kepala Desa) Bondalem, Gde Ngurah Sadu Adnyana, yang terletak sekitar 200 meter dari pantai yang kini dilindungi secara resmi itu. Di teras rumahnya yang asri, saya menyempatkan diri berbincang-bincang dengan Ngurah Sadu di suatu pagi yang cerah.
Rabu, 11 Maret 2009 | 11:50 WIB
BM Lukita Grahadyarini dan Helena F Nababan
KOMPAS.com – Ari Wahyuni atau biasa disapa Kadek semula tak berpikir untuk membiakkan spesies ikan laut yang jumlahnya mulai langka di alam. Namun, kecintaan pada dunia perikanan membuat dia tergerak membudidayakan beberapa jenis ikan yang populasinya terancam akibat terus diburu dalam jumlah besar.
“Nenek moyangku seorang pelaut, gemar mengarungi luas samudera, menerjang ombak tiada takut menempuh badai sudah biasa”, cuplikan syair lagu ini diajarkan oleh guru wali kelasku waktu masih duduk di kelas satu SD Xaverius Teluk Betung – Bandar Lampung. Dan sampai saat ini masih terus tertanam di kepala saya bahwa dulunya bangsa Indonesia adalah pelaut yang ulung dan pernah jaya di laut. Tapi kenapa di beberapa buku cetak pelajaran menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara agraris..?. Salah cetak bukunya atau salah urus negara ini..?
Web site ini dibuat secara gotong royong oleh berbagai pihak untuk membangun trend cinta laut serta menyediakan akses informasi yang mudah untuk bisa terlibat di dalam konservasi laut dan pesisir serta ekosistem terkaitnya, dengan saling berbagi informasi yang bersifat positif, membangun semangat, dan saling menghargai satu sama lain. Baca selengkapnya