<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Go Blue Indonesia &#187; Figur Bulan Ini</title>
	<atom:link href="http://www.goblue.or.id/kategori/figur-bulan-ini/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.goblue.or.id</link>
	<description>Web site ini dibuat secara gotong royong oleh berbagai pihak untuk membangun trend cinta laut serta menyediakan akses informasi yang mudah untuk bisa terlibat di dalam konservasi laut dan pesisir serta ekosistem terkaitnya, dengan saling berbagi informasi yang bersifat positif, membangun semangat, dan saling menghargai satu sama lain.</description>
	<lastBuildDate>Fri, 12 Mar 2010 09:24:49 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>&#8220;Nyoman&#8221; Chris Brown, Guru dan Semangat Masyarakat Pemuteran</title>
		<link>http://www.goblue.or.id/nyoman-chris-brown-guru-dan-semangat-masyarakat-pemuteran</link>
		<comments>http://www.goblue.or.id/nyoman-chris-brown-guru-dan-semangat-masyarakat-pemuteran#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 07:28:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Figur Bulan Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Chris Brown]]></category>
		<category><![CDATA[Pemuteran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.goblue.or.id/?p=1150</guid>
		<description><![CDATA[Pernah mendengar Reef Seen Aquatic Pemuteran? Dive center yang terletak di daerah Gerokgak ini didirikan oleh Chris Brown. Dia merupakan salah satu sosok penting dalam peningkatan peran masyarakat lokal Pemuteran dalam melestarikan terumbu karang sekaligus meningkatkan kesejahteraan hidup mereka.
Reef Seen Aquatic sendiri didirikannya pada 1992, sebagai usaha untuk mengisi waktu. Namun, antusiasme dan kecintaannya pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.goblue.or.id/wp-content/uploads/chris-brown.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1152" title="chris brown" src="http://www.goblue.or.id/wp-content/uploads/chris-brown.jpg" alt="chris brown" width="155" height="180" /></a>Pernah mendengar Reef Seen Aquatic Pemuteran? Dive center yang terletak di daerah Gerokgak ini didirikan oleh Chris Brown. Dia merupakan salah satu sosok penting dalam peningkatan peran masyarakat lokal Pemuteran dalam melestarikan terumbu karang sekaligus meningkatkan kesejahteraan hidup mereka.<span id="more-1150"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Reef Seen Aquatic sendiri didirikannya pada 1992, sebagai usaha untuk mengisi waktu. Namun, antusiasme dan kecintaannya pada lingkungan, membuat ia selalu berusaha memberi yang terbaik. Karena kerja keras dan semangatnya ini oleh masyarakat Pemuteran ia dipanggil Pak Nyoman.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa kegiatan yang ia kerjakan dalam konservasi dan pemberdayaan masyarakat antara lain Turtle Project, Reef Gardeners, Reef Seen Dancers dan banyak lagi. Ia pun selalu terbuka untuk membantu kegiatan-kegiatan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, mahasiwa maupun LSM. Bantuan mulai dari penyelaman, peralatan dan lain-lainnya. Ia selalu berusaha memberikan pengetahuan kepada masyarakat lokal akan sangat berharganya terumbu karang ini bagi masa depan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">“Fokus kami bukan pada keberadaan hatchery, tetapi pada peningkatan kesadaran lokal akan pentingnya pelestarian” jelas Chris terkait Turtle Project.</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan dengan keaktifan masyarakat lokal dalam perlindungan terumbu karang ini, Pemuteran mendapatkan penghargaan Kalpataru.  Chris kemudian berinisiatif untuk mengelola dan membantu masyarakat lokal ini agar memiliki pendanaan yang berkelanjutan untuk kegiatan pelestarian yang mereka lakukan.</p>
<p style="text-align: justify;">”Nelayan lokal mulai menyadari akan adanya masalah yang mengancam sumber daya alam mereka” kata Chris, sembari menekankan pentingnya memfasilitasi peningkatan kompetensi masyarakat untuk dapat terlibat langsung dalam solusi permasalahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia telah melatih beberapa orang nelayan lokal menjadi PADI Rescue Diver dan membentuk  “Reef Gardeners”  yang bertugas menjaga kesehatan terumbu karang, antara lain mengumpulkan crown-of-thorn starfish, siput parasit drupella.  Bersama dengan masyarakat lokal ia membuat 3 lokasi penyelaman baru di Pemuteran.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak tiba 1991, Chris bekerja keras melindungi terumbu karang dan mengedukasi penduduk lokal mengenai pentingya terumbu karang bagi mereka. Walaupun kadang harus berhadapan dengan bahaya terutama di masa lalu saat berhadapan dengan nelayan-nelayan’nakal”. Selama periode 1996-1998, Chris bersama timnya mengumpulkan lebih dari 75,000 Crown of Thorns starfish dari Pemuteran Reefs</p>
<p style="text-align: justify;">Selain, pelestarian terumbu karang, Chris juga menginisiasi pelestarian budaya. Ia memfasilitasi pelatihan bagi anak-anak di desa sekitarnya untuk mendapatkan pelatihan tari dan tentunya menjaga agar tradisi yang indah ini tetap terjaga.</p>
<p style="text-align: justify;">”Kami berharap pengetahuan dan keterampilan yang mereka dapat dapat disebarkan ke desa-desa lainnya, termasuk juga untuk generasi berikutnya” kata Chris dengan bangga melihat keakatifan masyarakat lokal yang didampinginya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ingin tahu lebih banyak tentang Chris dan aktifitasnya bersama masyarakat Pemuteran kunjungi <a href="http://www.reefseenbali.com/default.asp">http://www.reefseenbali.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.goblue.or.id/nyoman-chris-brown-guru-dan-semangat-masyarakat-pemuteran/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diving Proklamator : Sambil Menyelam, Meneliti Terumbu Karang</title>
		<link>http://www.goblue.or.id/diving-proklamator-sambil-menyelam-meneliti-terumbu-karang</link>
		<comments>http://www.goblue.or.id/diving-proklamator-sambil-menyelam-meneliti-terumbu-karang#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2009 19:39:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rajo mantari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Figur Bulan Ini]]></category>
		<category><![CDATA[diving proklamator]]></category>
		<category><![CDATA[menyelam]]></category>
		<category><![CDATA[terumbu karang]]></category>
		<category><![CDATA[universitas bung hatta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.goblue.or.id/?p=1080</guid>
		<description><![CDATA[Menyelam akan membawa kita merasakan suasana lain yang enggak mungkin kita temukan di daratan. Sayangnya, biaya hobi yang satu ini lumayan mahal. Tetapi, ada cara untuk dapat gratisan, sekaligus turut melestarikan lingkungan. Tertarik? Simak cerita dari rekan-rekan di Padang
Dengan luas laut mencapai lebih dari dua pertiga dari total luas wilayahnya, Indonesia punya ribuan tempat diving [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Menyelam akan membawa kita merasakan suasana lain yang enggak mungkin kita temukan di daratan. Sayangnya, biaya hobi yang satu ini lumayan mahal. Tetapi, ada cara untuk dapat gratisan, sekaligus turut melestarikan lingkungan. Tertarik? Simak cerita dari rekan-rekan di Padang<img title="More..." src="http://www.goblue.or.id/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /><span id="more-1080"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan luas laut mencapai lebih dari dua pertiga dari total luas wilayahnya, Indonesia punya ribuan tempat diving yang sangat menarik. Demikian halnya Kota Padang. Perairan Kota yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia ini memiliki belasan site untuk diving yang tiap site-nya bisa terdapat titik-titik untuk menyelam. Sayangnya, penyelam yang menikmati bawah laut itu masih relatif sedikit sekali.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal inilah, yang menjadi salah satu yang menggugah mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta, dibawah unit kegiatan kemahasiswaan untuk mendirikan Diving Proklamator yang populer disingkat BHDC. &#8220;Kami enggak ingin hanya menyelam, tapi sekaligus melestarikan terumbu karang,&#8221; kata Yusuf bersama anggota yang aktif latihan rutin di kolam renang Teratai , mahasiswa yang akrab dipanggil “staf” itu kini juga telah sering diajak menyelam ke berbagai tempat, bahkan ke Pulau Nias Sumatera Utara oleh berbagai lembaga penelitian yang memanfaatkan keahlian menyelam. &#8220;Kami ingin menggunakan latar belakang science saat menyelam,&#8221; ujar Acel mantan anggota Diving Proklamator yang baru saja menyelesaikan kuliahnya di Falkultas Perikanan Universitas Bung Hatta Oktober 2005, 4 tahun silam. Not just for fun&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">Keakraban mereka dengan kehidupan bawah laut tergolong belum lama. Sejak kecil, sebenarnya Acel sudah terobsesi dengan dunia laut. Kalau melihat siaran di televisi tentang kehidupan bawah laut, dia betah nontonnya. &#8220;Kayaknya asyik banget berenang diantara ikan-ikan,&#8221; kata putra Cucu Magek Dirih ini. Sayangnya, biaya diving tergolong mahal. Setelah masuk dunia kuliah, ia  ingin masuk Mahasiswa Pencinta Alam, tapi batal karena menurut Acel, kegiatannya terlalu berat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak jauh beda dengan Ina cewek yang sehari-hari berjilbab, diving semula tidak pernah terlintas di pikirannya. &#8220;Berenang aja enggak bisa. Maklum, orang gunung,&#8221; katanya sambil tertawa. Namun, sejak kecil Ina sudah menyukai petualangan di alam, seperti Pramuka, Sukarelawan PMI ataupun Siswa Pencinta Alam.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, ketika mereka kuliah di Universitas Bung Hatta, keduanya senang bukan kepalang ketika senior-senior mereka saat orientasi pendidikan memperkenalkan unit kegiatan kemahasiswaan diving sebagai salah satu UKM yang ada untuk mahasiswa.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulai semester II, sejak bergabung dengan Diving Proklamator, mereka mulai dilatih oleh Instruktur dari Yayasan Minang Bahari yang juga adalah notabene alumnus Faperi Universitas Bung Hatta.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum terjun ke bawah permukaan air laut, harus berlatih dulu tentang dasar-dasar penyelaman. Seminggu sekali mereka berlatih di kolam renang Teratai GOR Agus Salim. Latihan dasar itu berupa berenang selama sejauh 200 meter, menyelam sedalam 4 meter, berjalan di air (water trappen), dan floating alias mengambang di atas permukaan air. Disamping itu juga di berikan teori-teori dasar penyelaman. Hasilnya? Sampai mereka menyelesaikan kuliah, hanya empat orang yang lulus untuk menyelam memakai scuba (peralatan diving).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Cek kondisi terumbu karang</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Umumnya, para penyelam menyukai suasana bawah laut ini karena sensasinya jelas berbeda dengan di darat. Suasana di bawah permukaan laut hanya ada air dan kita bergantung pada persediaan oksigen di tabung yang kita bawa. Hanya ada sunyi senyap dengan ribuan ikan di sekeliling kita. Beberapa penyelam bahkan mengaku seperti sedang bersemedi ketika menyelam karena pikiran di-refresh.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, bagi anak-anak Diving Proklamator, seperti Acel dan Ina, menyelam tidak sekedara urusan bersenang-senang. Sambil menyelam mereka juga menunjukkan kepeduliannya pada pelestarian terumbu karang tersebut. Caranya dengan melakukan pemantauan, baik dengan metode Reef Check, maupun pemantauan coral bleaching. Kegiatan-kegiatan itu dilakukan untuk memantau bagaimana kondisi terumbu karang di suatu tempat. Pemantauan dan pemeriksaan terumbu di satu tempat dilakukan tiap enam bulan sekali, sedangkan coral bleaching tiap tiga bulan sekali. Karena banyak tempat yang dipantau, maka hampir tiap bulan mereka melakukan kegiatan-kegiatan tersebut. &#8220;Asyiknya, kami bisa mendata keadaan terumbu karang sekaligus jalan-jalan,&#8221; kata Acel.</p>
<p style="text-align: justify;">Pemantauan itu dilakukan bareng-bareng LSM maupun pemerhati dan penyelam lainnya. Contohnya pada akhir Desember lalu, anak-anak Diving Proklamator bersama dengan Yayasan Minang Bahari melakukan pemantauan di Pulau Pisang gadang, Pulau Sironjong dan Pulau Pagang. Dengan pemantauan itu, mereka bisa menyelam gratis. Sebab, biaya untuk menyelam memang lumayan mahal. Saat ini untuk sekali menyelam lengkap dengan masker, fin, tabung, wetsuite, dan peralatan lainnya paling enggak kita mesti bayar Rp 750.000. Harga itu belum termasuk transpor dan makan siang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau mau tetap menikmati kehidupan bawah laut dengan harga lebih murah, kita juga bisa dengan snorkeling. Kegiatan yang satu ini lebih mudah karena kita cukup pakai masker, snorkel, fin, dan baju pelampung. Kita bisa menikmati indahnya bawah laut itu dari atas. Lumayan, daripada enggak.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, kalau tetap ingin nyoba, buat aja kelompok selam di sekolah atau kampus seperti anak-anak Diving Proklamator. Berlokasi di sekitar Padang? Tim instruktur dari Minang Bahari siap akan membantu anda. Jadi, bisa menunjukkan kepedulian pada lingkungan sekaligus jalan-jalan. So, kenapa harus bayar mahal klo ada yang gratisan?</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil Menyelam, Meneliti Terumbu Karang</p>
<p style="text-align: justify;">Penulis : Indrawadi,S.Pi</p>
<p style="text-align: justify;">Pembina UKM Diving Proklamator Universitas Bung Hatta</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.goblue.or.id/diving-proklamator-sambil-menyelam-meneliti-terumbu-karang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nugie,mulai dari sepeda lipat, lagu untuk bumi sampai lentera jiwa.</title>
		<link>http://www.goblue.or.id/nugiemulai-dari-sepeda-lipat-lagu-untuk-bumi-sampai-lentera-jiwa</link>
		<comments>http://www.goblue.or.id/nugiemulai-dari-sepeda-lipat-lagu-untuk-bumi-sampai-lentera-jiwa#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jul 2009 14:13:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Figur Bulan Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Nugie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.goblue.or.id/?p=898</guid>
		<description><![CDATA[Lentera jiwa adalah passion. Lentera jiwa, suatu pekerjaan yang menimbulkan kepuasan tersendiri bagi kita, meskipun sering menguras waktu dan tenaga. Demikian salah satu ringkasan dari salah satu website Agustinus Gusti Nugraha atau yang dikenal dengan nama Nugie, lahir di Jakarta, 31 Agustus 1971, sosok pria yang dikenal sebagai penyanyi pop bahkan lebih terkenal lagi sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://nugietrilogy.blogdetik.com/"><img class="alignleft" src="http://nugietrilogy.blogdetik.com/wp-content/blogs.dir/14414/files/nugie-action/nug-sungai.jpg" alt="" width="154" height="103" /></a>Lentera jiwa adalah passion. Lentera jiwa, suatu pekerjaan yang menimbulkan kepuasan tersendiri bagi kita, meskipun sering menguras waktu dan tenaga. Demikian salah satu ringkasan dari salah satu website Agustinus Gusti Nugraha atau yang dikenal dengan nama Nugie, lahir di Jakarta, 31 Agustus 1971, sosok pria yang dikenal sebagai penyanyi pop bahkan lebih terkenal lagi sebagai aktifis sosial dan lingkungan hidup.<span id="more-898"></span> Kecintaan dan kepedulian adik musisi  Katon Bagaskara ini terhadap lingkungan hidup tidak diragukan lagi , dengan keterlibatannya sebagai campaigner aktifitas-aktifitas dari yayasan lingkungan seperti WALHI dan WWF. Dalam dunia nyata sehari-hari pun suami Shinta Dewi ini pun benar-benar bergaya hidup &#8220;green&#8221;. Coba saja perhatikan hobinya untuk mengendarai sepeda lipat seri tikit. Bahkan di salah satu kesempatan Nugie mengayuh sepedanya dari rumah di Bintaro sektor 4 untuk datang lokasi acara di plasa semanggi.</p>
<p style="text-align: justify;">Nugie sendiri menilai idealnya 30% penduduk Jakarta harusnya bersepeda. Itu akan mengurangi sesak nafas yang dirasakan kota metropolitan itu. Namun sekarang belum sampai 5%-nya. &#8220;Sampai sekarang belum sampai segitu, paling hanya 5% yang aktif banget, paling hanya 3% dari penduduk Jakarta yang 10 juta ini,&#8221;(kapanlagi.com)</p>
<p style="text-align: justify;">Pemikiran-pemikiran nugie tentang lingkungan pun sangat sederhana dan aplikatif. Dalam suatu kesempatan bahkan ia berkata bahwa sebenarnya tidak perlu pakai duta-dutaan, karena sudah kewajiban semua orang untuk peduli untuk lingkungan, demikian ia menanggapi tentang usulan agar salah satu grup yang digawanginya menjadi duta lingkungan. Demikian pula saat menanggapi masalah sampah di Jakarta &#8220;sangat disayangkan karena sampah di Jakarta sekitar 1,5 ton per hari itu, kalau tidak diolah secara benar&#8221; . Meskipun ia menyadari bahwa kita masih bermasalh dengan teknologi dan dana. &#8220;Moga-moga ada teknologi yang murah meriah bisa dipake di seluruh kelurahan dimulai dari masyarakat yang paling kecil dulu bisa menyetor sampah yang bentuknya sudah recycle&#8221;. Atau simak pula komentarnya tentang pemanasan global, yang sampai saat ini menurutnya masih dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Menurut Nugie, dibutuhkan sesuatu yang menggebrak untuk membuat orang lebih peduli pada efek pemanasan global. &#8220;Orang perlu &#8216;ditampar-tamparin&#8217; dulu untuk ngasih tau efek dari global warming,&#8221; ujarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Nugie pun melalui bakat musiknya telah merilis lagu-lagu, yang isinya pun mencerminkan alam dan fenomina sosial, album <em>Bumi</em> dengan hit <em>Tertipu (1995)</em>, album<em>Air</em> dengan hit <em>Burung Gereja</em> (1996), album <em>Udara</em> dengan hit <em>Pembuat Teh (1998)</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal menarik lainnya ialah kampanye lentera jiwa, sesuai dengan judul salah satu single-nya. &#8220;Lentera jiwa bukan menuntut kesempurnaan, kenyamanan, kemapanan, bahkan perencanaan. Tapi mungkin hanya sekedar ketulusan, kejujuran, kesederhanaan, dan kepolosan dari jiwa. Karena disaat itulah seorang manusia menjadi penuh, sehingga kemudian bisa “berbagi” dengan dunia&#8221; tulis Nugie di blognya. Mungkin inilah yang mendasari mengapa nugie sangat berani menginvestasikan banyak waktunya untuk lingkungan. Ketulusan dan kepolosan jiwa untuk ingin berbagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika sang bumi bisa bicara Ku tahu ia akan bertanya , sampai kapankah kau hanya terima  tanpa pernah beri kembali. Kini saatnya untuk berbuat, memberi apa yang dia butuhkan tanah ,air , udara kan bersuka Hidup harmonis Tetap terjaga..</p>
<p style="text-align: justify;">Tetap memberi inspirasi, tetap menyanyi untuk bumi..</p>
<p style="text-align: justify;">Disadur dari berbagai sumber.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.goblue.or.id/nugiemulai-dari-sepeda-lipat-lagu-untuk-bumi-sampai-lentera-jiwa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nadine Senang Adik-adiknya Juga Peduli Lingkungan</title>
		<link>http://www.goblue.or.id/nadine-senang-adik-adiknya-juga-peduli-lingkungan</link>
		<comments>http://www.goblue.or.id/nadine-senang-adik-adiknya-juga-peduli-lingkungan#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2009 06:04:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Figur Bulan Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Tempat Dive Favorit]]></category>
		<category><![CDATA[Wakatobi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.goblue.or.id/?p=842</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai publik figur yang sarat kesibukan, Nadine Chandrawinata masih menyempatkan diri beraktivitas sebagai aktivis lingkungan hidup. Bahkan, ia lebih bergairah lagi karena berhasil mengajak dua adiknya mengikuti jejaknya.
&#8220;Tidak usah melihat dampaknya ke orang banyak dulu. Untuk menyelamatkan lingkungan harus dimulai dari diri sendiri. Saya senang bisa ngajak kedua adik saya ikut,&#8221; ujar Nadine saat ditemui [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.goblue.or.id/wp-content/uploads/nadine-and-marcel5.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-848" title="nadine-and-marcel5" src="http://www.goblue.or.id/wp-content/uploads/nadine-and-marcel5.jpg" alt="" width="150" height="101" /></a><strong></strong>Sebagai publik figur yang sarat kesibukan, Nadine Chandrawinata masih menyempatkan diri beraktivitas sebagai aktivis lingkungan hidup. Bahkan, ia lebih bergairah lagi karena berhasil mengajak dua adiknya mengikuti jejaknya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-842"></span>&#8220;Tidak usah melihat dampaknya ke orang banyak dulu. Untuk menyelamatkan lingkungan harus dimulai dari diri sendiri. Saya senang bisa ngajak kedua adik saya ikut,&#8221; ujar Nadine saat ditemui di sela-sela kampanye hari lingkungan hidup di Jakarta, Jumat (5/6).</p>
<p style="text-align: justify;">Dua adik Nadine, Marcel dan Mischa Chandrawinata, kini bersama-sama Nadine menjadi Duta Kehormatan World Wide Fund (WWF). Bahkan, Nadine kini juga menyandang Duta Terumbu Karang dan Duta Taman Laut Nasional Wakatobi.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Nadine, ia memang lebih banyak tertarik pada dunia laut. Selain mahir menyelam, Nadine bahkan beberapa kali melakukan pemotretan <em>fashion</em> di sekitar terumbu karang. Kepeduliannya terhadap lingkungan sudah dilakukannya sejak lama.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jadi aku bukan jadi duta dulu baru bertindak, tapi memang suka ke masalah lingkungan baru dijadikan duta,&#8221; ujar Nadine membela diri jika disebut hanya sebagai lipstik kampanye lingkungan saja. Jalan-jalan ke daerah pun dilakoninya untuk mengampanyekan pentingnya lingkungan.<br />
<strong>Sumber: <a href="http://sains.kompas.com/read/xml/2009/06/05/17121741/nadine.senang.adik-adiknya.juga.peduli.lingkungan">KOMPAS.com</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.goblue.or.id/nadine-senang-adik-adiknya-juga-peduli-lingkungan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gde Ngurah Sadu Adnyana, Pelopor DPL Bondalem</title>
		<link>http://www.goblue.or.id/gde-ngurah-sadu-adnyana-pelopor-dpl-bondalem</link>
		<comments>http://www.goblue.or.id/gde-ngurah-sadu-adnyana-pelopor-dpl-bondalem#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Apr 2009 07:13:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Pariama Hutasoit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Figur Bulan Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Bali]]></category>
		<category><![CDATA[bondalem]]></category>
		<category><![CDATA[dpl]]></category>
		<category><![CDATA[Ngurah Sadu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.goblue.or.id/?p=726</guid>
		<description><![CDATA[
 

Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula, sejak lama dikenal sebagai salah satu desa terkaya dan termaju di Kabupaten Buleleng, Bali. Rumah-rumah tua berarsitektur modern dan besar, tidak seperti kebanyakan rumah tradisional Bali, masih terawat dengan baik, berdiri kokoh dan tampak indah dengan penataan taman yang serasi, tidak kalah dibandingkan vila-vila dan pondok wisata milik sejumlah orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span></p>
<p><mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --></p>
<p style="text-align: justify;"><!--[endif]--> <!--[if gte mso 10]></p>
<p><mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --></p>
<p style="text-align: justify;"><!--[endif]--></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.goblue.or.id/wp-content/uploads/pak-mekel1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-728" title="pak-mekel1" src="http://www.goblue.or.id/wp-content/uploads/pak-mekel1.jpg" alt="" width="203" height="270" /></a>Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula, sejak lama dikenal sebagai salah satu desa terkaya dan termaju di Kabupaten Buleleng, Bali. Rumah-rumah tua berarsitektur modern dan besar, tidak seperti kebanyakan rumah tradisional Bali, masih terawat dengan baik, berdiri kokoh dan tampak indah dengan penataan taman yang serasi, tidak kalah dibandingkan vila-vila dan pondok wisata milik sejumlah orang asing yang banyak terdapat di sekitar pantai desa tersebut. Salah satunya, adalah rumah keluarga Perbekel (Kepala Desa) Bondalem, Gde Ngurah Sadu Adnyana, yang terletak sekitar 200 meter dari pantai yang kini dilindungi secara resmi itu. Di teras rumahnya yang asri, saya menyempatkan diri berbincang-bincang dengan Ngurah Sadu di suatu pagi yang cerah.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-726"></span>Sejak dipilih menjadi Perbekel Desa Bondalem, tahun 2005, Ngurah Sadu, yang menghabiskan masa remaja hingga dewasa di Pulau Jawa, telah membuat berbagai perubahan di lingkungan desanya. Pengalaman pria kelahiran Singaraja, 20 Nopember 1964 itu cukup luas. Setelah menamatkan kuliahnya di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Surabaya tahun 1989, dia memilih mengadu nasib di ibukota Jakarta. Diantaranya bekerja di salah satu perusahaan nasional di Jakarta selama 12 tahun, yang menjadi bekalnya dalam mengelola Desa Bondalem.</p>
<p style="text-align: justify;">Layaknya seorang manager perusahaan, Ngurah Sadu mengelola desa yang dipimpinnya dengan cara modern, sehingga desa ini tertata dengan baik dan bahkan berhasil memberikan pemasukan besar bagi kas desa. Namun terobosan besar yang mencatat namanya sebagai Perbekel peduli lingkungan adalah inisiatif membentuk Daerah Perlindungan Laut di Desa Bondalem tahun 2006. DPL Bondalem kemudian diresmikan Bupati Buleleng, pada tanggal 22 April 2008, bertepatan dengan peringatan Hari Bumi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bagi saya, laut adalah sumber mata pencaharian, apalagi Bali dikenal sebagai daerah wisata, dimana peran laut menjadi sangat penting dalam menarik income dan juga menjaga pesisir pantai. Dengan mengelola laut sebaik-baiknya, saya yakin Desa Bondalem bisa lebih terkenal. Karena laut sangat diperlukan untuk masyarakat desa maupun wisatawan,&#8221; katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepeduliannya berawal dari kondisi perairan Bondalem yang rusak. Seperti dikisahkannya, di masa lalu, banyak nelayan dari desa-desa tetangga mengambil ikan hias di perairan Desa Bondalem dengan cara-cara yang tidak ramah lingkungan. Sementara masyarakat desa itu sendiri tidak ada yang berprofesi sebagai nelayan ikan hias. Akibatnya, terumbu karangnya rusak dan ikan-ikanpun berkurang, baik ikan hias maupun ikan konsumsi. Akibat lainnya, adalah terjadi abrasi di beberapa ruas pantai sehingga cukup mengkuatirkan keberlangsungan pariwisata di kawasan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Menyadari bahwa laut merupakan masa depan desa tersebut, Ngurah Sadu, didukung masyarakat desa dan Yayasan Reef Check Indonesia, sebuah organsiasi lingkungan di Bali, membentuk DPL, disahkan lewat Peraturan Desa Bondalem No. 5 Tahun 2006 tentang Perlindungan Pesisir dan Laut. Lewat pendampingan LSM, masyarakat mendapat perbekalan mengenai konservasi pesisir dan laut, terutama tentang terumbu karang, termasuk pelatihan monitoring terumbu karang dan sertifikasi selam.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai seorang pemimpin, Ngurah Sadu, menunjukkan contoh sebagai yang terdepan dalam proyek ini. Maka, meskipun dibesarkan keluarga petani dan tidak akrab dengan laut, Ngurah Sadu mengikuti pelatihan selam bersama dengan 6 warga desa lainnya. Termasuk ikut terjun langsung dalam monitoring terumbu karang Bondalem dengan metode Manta Tow.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan hanya menggerakkan warga desanya, Ngurah Sadu, yang memiliki pengaruh kuat melibatkan pemilik-pemilik vila dan bungalow yang sebagian besar orang asing itu. Bahkan, tidak jarang pemilik bungalow turut memfasilitasi pertemuan-pertemuan pembentukan DPL dan bahkan ikut terlibat sebagai peserta, dan juga dalam mengawasi pantai.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk menjaga laut, terutama DPL, maka Pecalang Laut (Pecalang adalah satuan keamanan adat) dibentuk dan disahkan lewat keputusan Desa Pekraman Bondalem tahun 2008. Mereka bertugas  menjaga keamanan pesisir dan laut , terutama kawasan DPL seluas 2 hektar.</p>
<p style="text-align: justify;">DPL yang diprakarsainyapun mendapat dukungan Departemen Kelautan dan Perikanan Kabupaten Buleleng dengan memberikan bantuan proyek transplantasi karang. Pecalang laut yang sebelum telah disertifikasi  selam bahkan terjun langsung dalam mengerjakan proyek transplantasi tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini telah setahun DPL diresmikan, Ngurah Sadu merasa pekerjaannya belum selesai. Bahkan masih panjang. Dia berharap, meskipun kelak tidak lagi menjadi Perbekel, penerusnya tetap memiliki semangat konservasi seperti dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;DPL ini juga untuk anak cucu saya. Saya ingin anak saya kelak bisa menikmatinya. Dia harus bisa menyelam dan melihat keindahan bawah laut Bondalem,&#8221; kata pria berputra satu ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Penulis dan Foto: Pariama Hutasoit</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.goblue.or.id/gde-ngurah-sadu-adnyana-pelopor-dpl-bondalem/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kadek Ari, Keteguhan Peneliti Ikan</title>
		<link>http://www.goblue.or.id/kadek-ari-keteguhan-peneliti-ikan</link>
		<comments>http://www.goblue.or.id/kadek-ari-keteguhan-peneliti-ikan#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 08:26:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Figur Bulan Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Kadek Ari]]></category>
		<category><![CDATA[Peneliti Ikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.goblue.or.id/?p=707</guid>
		<description><![CDATA[Rabu, 11 Maret 2009 &#124; 11:50 WIB
BM Lukita Grahadyarini dan Helena F Nababan
KOMPAS.com &#8211; Ari Wahyuni atau biasa disapa Kadek semula tak berpikir untuk membiakkan spesies ikan laut yang jumlahnya mulai langka di alam. Namun, kecintaan pada dunia perikanan membuat dia tergerak membudidayakan beberapa jenis ikan yang populasinya terancam akibat terus diburu dalam jumlah besar.
Salah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.goblue.or.id/wp-content/uploads/1148431p.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-708" title="1148431p" src="http://www.goblue.or.id/wp-content/uploads/1148431p.jpg" alt="" width="298" height="225" /></a>Rabu, 11 Maret 2009 | 11:50 WIB</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>BM Lukita Grahadyarini dan Helena F Nababan</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>KOMPAS.com</strong> &#8211; Ari Wahyuni atau biasa disapa Kadek semula tak berpikir untuk membiakkan spesies ikan laut yang jumlahnya mulai langka di alam. Namun, kecintaan pada dunia perikanan membuat dia tergerak membudidayakan beberapa jenis ikan yang populasinya terancam akibat terus diburu dalam jumlah besar.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-707"></span>Salah satu buah ketekunannya adalah pengembangbiakan kuda laut (<em>Hippocampus spp</em>) dan ikan badut atau ikan yang terkenal berkat film &#8220;<em>Finding Nemo</em>&#8220;  (<em>Amphiprion sp</em>) secara massal. Kuda laut yang dikembangkan ada dua jenis, yaitu <em>Hippocampus kuda</em> dan <em>Hippocampus comes</em>. Tahun 2008, total benih kuda laut yang dihasilkan 30.000 ekor dan benih ikan nemo sekitar 10.000 ekor.</p>
<p style="text-align: justify;">Pergulatan Kadek membudidayakan ikan nemo atau ikan badut (<em>clownfish</em>) diawali pada 2003. Keinginan mengembangkan nemo muncul ketika seorang keponakan menggelitiknya dengan pertanyaan, &#8220;Bisakah ikan lucu itu dikembangbiakkan?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaan itu membuat sarjana biologi ini terpana. Kadek yang terbiasa berkecimpung dalam pembiakan ikan malah belum terpikir mengembangkan ikan hias semacam itu. Di tingkat pedagang, ikan nemo yang mengandalkan tangkapan di alam dijual relatif murah, Rp 3.500 per ekor. Ikan mungil itu memiliki penampilan yang lucu sehingga terus diburu dan semakin sulit ditemukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia lalu bereksperimen dengan membeli sepasang ikan nemo berwarna dasar oranye cerah dengan corak garis putih dihiasi siluet hitam (<em>Amphiprion ocellaris</em>). Ikan itu diambil dari perairan Teluk Lampung, Provinsi Lampung. Percobaan awal tak berhasil. Sepasang nemo itu malah mati.</p>
<p style="text-align: justify;">Kadek membeli lagi ratusan ikan nemo untuk dikembangbiakkan. Ia juga mencari konsep &#8220;rumah buatan&#8221; yang tepat sebagai pengganti terumbu karang untuk bersarang dan tempat bertelur ikan karang itu. Proses uji coba ini menyebabkan ratusan ikan nemo mati. Ia lalu menggunakan anemon laut untuk tempat induk nemo bersarang dan menciptakan modifikasi pipa bekas sebagai tempat tinggal benih nemo.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Hal tersulit adalah mencari tempat tinggal, bersarang, dan bertelur ikan itu. Jika perairan tercemar dan terumbu karang dirusak, populasi ikan ini di alam mudah terancam,&#8221; kata Kadek yang bekerja sebagai peneliti di Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir berbarengan dengan budidaya nemo, ia juga berinovasi memijahkan kuda laut yang tergolong hewan langka. Kuda laut hasil pemijahan itu memiliki masa pertumbuhan relatif cepat sehingga butuh waktu pemeliharaan hanya 6-7 bulan untuk siap panen dengan ukuran di atas 10 cm. Pemijahan kuda laut di <a id="pilih" onmouseover="stm(Text[8],Style[5])">Indonesia</a> pernah dirintis pada 1990-an oleh peneliti BBPBL Lampung, Sudaryanto.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai peneliti, Kadek tak ingin setengah-setengah. Ia juga mencari formula pakan yang tepat bagi nemo dan kuda laut melalui pemberian jenis pakan yang disesuaikan dengan umur spesies. Ikan nemo yang terbiasa mengandalkan pakan alam bisa mengonsumsi pakan buatan berupa pelet setelah berukuran 3 cm.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengembangbiakan ikan nemo dan kuda laut menuai hasil tahun 2008. Keturunan ikan nemo sudah menghasilkan generasi kedua, sedangkan kuda laut generasi keempat. Kuda laut yang merupakan bahan dasar obat-obatan itu produksinya mencapai 14.000 ekor, di antaranya dipasarkan ke Jepang dan Jerman.</p>
<p style="text-align: justify;">Benih hasil budidaya juga memiliki daya tahan lebih baik ketimbang tangkapan alam dan bisa beradaptasi dengan pakan buatan, perubahan lingkungan, dan salinitas. Selain menekuni budidaya ikan nemo dan kuda laut, Kadek bersama tim peneliti BBPBL Lampung juga mengembangkan budidaya kerapu bebek (<em>Cromileptes altivelis</em>) dan rumput laut.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Modal sendiri</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Lulusan Fakultas Biologi Universitas Satya Wacana, Salatiga, ini yakin perikanan laut adalah kekayaan hayati yang potensial dibudidayakan. Sebagai peneliti yang juga pegawai negeri sipil (PNS), Kadek menyadari penelitian selama ini kurang aplikatif untuk diterapkan masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Lebih jauh ia mengkritik budidaya perikanan di negeri bahari ini belum maju lantaran sikap peneliti yang cenderung enggan bekerja lebih keras memajukan dan mengungkap kekayaan perikanan Tanah Air.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai bukti keseriusan mengembangkan penelitian, Kadek merogoh kocek pribadi hingga jutaan rupiah untuk penelitian ikan nemo. Keteguhannya meneliti dan membiakkan nemo tanpa biaya pemerintah itu sempat menuai kecurigaan petugas pengawas PNS yang mengaudit BBPBL Lampung pada 2005.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengawas itu mencurigai Kadek menggunakan dana &#8220;gelap&#8221; dan secara sembunyi-sembunyi melakukan penelitian ikan nemo dan kuda laut. Setelah melalui proses interogasi, petugas itu berbalik mendukung penelitian yang dilakukan Kadek secara swadaya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Terinspirasi nemo</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bergelut dengan budidaya satwa air membuat perempuan pemalu ini kerap terilhami sikap dan perilaku ikan. Ia terkesan saat mengetahui ikan nemo dan kuda laut adalah satwa air yang setia dan hanya mau dikawinkan dengan pasangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kesetiaan nemo itu menginspirasi saya untuk terus setia pada (budidaya) ikan,&#8221; ujar anak keenam dari tujuh bersaudara itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kadek tak ingin menyimpan hasil karyanya. Ia bercita-cita menghidupkan kembali tempat pembenihan udang (<em>hatchery</em>) milik rakyat yang kolaps sejak 2003 dengan mengajak petambak membudidayakan nemo dan kuda laut.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia berkeyakinan, maraknya upaya pengeboman karang dan perburuan ikan hias tak bisa dihentikan semata-mata dengan larangan dan sanksi. Lingkaran setan perusakan biota perairan bisa diputus bila ada solusi berupa penghasilan alternatif bagi masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk mewujudkan harapan itu, Kadek mendaftarkan hasil temuannya ke Departemen Kehutanan guna mendapatkan sertifikasi budidaya kuda laut. Dengan sertifikasi itu, langkahnya memperluas budidaya nemo dan kuda laut secara besar lebih mudah.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Budidaya ikan diharapkan menjadi alternatif penghasilan baru bagi masyarakat. Ini lebih baik ketimbang mengebom karang dan merusak populasi ikan,&#8221; katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tahun ini dia bertekad memijahkan empat jenis nemo lain, yakni <em>Amphiprion sandaracinos</em>, <em>Amphiprion sebae</em>, <em>Amphiprion melanopus</em>, dan <em>Premnas epigrama</em>. Di <a id="pilih" onmouseover="stm(Text[8],Style[5])">Indonesia</a> terdapat 34 jenis ikan nemo yang tergolong ikan hias.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut dia, salah satu kendala yang harus dipecahkan adalah rantai pemasaran yang serba tak pasti. Di antaranya harga ikan hasil budidaya yang relatif rendah atau dipatok sama dengan hasil tangkapan, kendati ikan hasil budidaya punya daya tahan hidup lebih baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Harga jual ikan nemo Rp 3.500 per ekor, jauh lebih rendah ketimbang harga ekspor yang 15 dollar AS per ekor. Adapun kuda laut Rp 10.000-Rp 15.000 per ekor, padahal harga ekspornya 20 dollar-25 dollar AS per ekor.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tanpa memecah persoalan pemasaran, upaya membangkitkan budidaya perikanan sulit tercapai,&#8221; tuturnya. *</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sumber : <a href="http://sains.kompas.com/read/xml/2009/03/11/11500925/kadek.ari.keteguhan.peneliti.ikan.">KOMPAS</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.goblue.or.id/kadek-ari-keteguhan-peneliti-ikan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Marthen Welly: &#8220;Melestarikan Terumbu Karang dan Biota Laut Sudah Menjadi Hobby&#8221;</title>
		<link>http://www.goblue.or.id/marthe-welly-melestarikan-terumbu-karang-dan-biota-laut-sudah-menjadi-hobby</link>
		<comments>http://www.goblue.or.id/marthe-welly-melestarikan-terumbu-karang-dan-biota-laut-sudah-menjadi-hobby#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Dec 2008 03:25:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Figur Bulan Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Marthen Welly]]></category>
		<category><![CDATA[terumbu karang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.goblue.or.id/?p=620</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Nenek moyangku seorang pelaut, gemar mengarungi luas samudera, menerjang ombak tiada takut menempuh badai sudah biasa&#8221;, cuplikan syair lagu ini diajarkan oleh guru wali kelasku waktu masih duduk di kelas satu SD Xaverius Teluk Betung &#8211; Bandar Lampung.  Dan sampai saat ini masih terus tertanam di kepala saya bahwa dulunya bangsa Indonesia adalah pelaut yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.goblue.or.id/wp-content/uploads/marthen.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-624" title="marthen" src="http://www.goblue.or.id/wp-content/uploads/marthen-228x300.jpg" alt="" width="228" height="300" /></a><em>&#8220;Nenek moyangku seorang pelaut, gemar mengarungi luas samudera, menerjang ombak tiada takut menempuh badai sudah biasa&#8221;</em>, cuplikan syair lagu ini diajarkan oleh guru wali kelasku waktu masih duduk di kelas satu SD Xaverius Teluk Betung &#8211; Bandar Lampung.  Dan sampai saat ini masih terus tertanam di kepala saya bahwa dulunya bangsa Indonesia adalah pelaut yang ulung dan pernah jaya di laut. Tapi kenapa di beberapa buku cetak pelajaran menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara agraris..?.  Salah cetak bukunya atau salah urus negara ini..?</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-620"></span>Namun jika kita lihat realita saat ini, justru yang terjadi adalah nelayan tetap miskin, kegiatan menangkap ikan dengan cara merusak terjadi dimana-mana, ikan dari perairan Indonesia terus dicuri hingga merugikan negara triliuanan rupiah setiap tahunnya, terumbu karang terus dibongkar dan ditambang, hutan bakau terus dikonversi, dan laut masih dianggap sebagai tempat pembuangan sampah terluas di dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa alasan di atas yang mendorong saya untuk selalu mencari jawabannya. Walaupun tidak pernah terbayangkan sebelumnya akan berkecimpung di dunia LSM lingkungan hidup, khususnya pesisir dan laut.  Apalagi ketika ditanya sama Bapak dan Ibu, &#8220;kamu kerja di mana sekarang nak&#8221;, harus berpanjang-panjang menjelaskan apa itu LSM.  Bapak dan Ibupun mantuk-mantuk sepertinya mengerti dengan penjelasan saya sebelum kembali bertanya &#8220;jadi LSM itu di bawah departemen apa ya..?&#8221; Dapat dimaklumi jika orang tua bertanya demikian, karena di tahun 1990-an, LSM belum sepopuler sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun kecintaan akan laut sebenarnya sudah mulai ada sejak kecil, bukan karena saya gemar makan ikan kembung yang digoreng crispy dan makannya dicocol pake sambel kecap dan nasi hangat kebul-kebul, tapi juga karena Bandar Lampung tanah kelahiranku sekaligus tempat aku dibesarkan memang memiliki beberapa pantai yang cukup indah dan memiliki pasir yang putih.</p>
<p style="text-align: justify;">Sering kami sekeluarga berkunjung ke pantai di saat-saat libur sekolah.  Kalau sudah berenang di laut dengan bantuan ban dalam mobil yang sudah dipompa, rasanya sangat nyaman dan damai. Apalagi kalau sudah melihat ikan dan terumbu karang yang berwarna-warni dan beranekaragam bentuknya, rasanya tidak mau pulang. Waktu itu saya berfikir, kok ada ya batu bentuknya macam-macam dengan aneka warna di laut.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengetahuan mengenai laut, terumbu karang, hutan bakau, padang lamun, ikan dan biota laut lainnya makin bertambah, ketika saya mulai kuliah di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB Bogor. Terlebih lagi ketika masuk menjadi anggota klub selam mahasiswa perikanan IPB &#8211; Fisheries Diving Club (FDC) angkatan ke-10.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan mengikuti FDC-IPB, selain berbagai pengetahuan, skill dan kedisiplinan tinggi dalam dunia penyelaman saya dapatkan. Saya juga mendapat kesempatan untuk bisa menyelam di berbagai perairan di Indonesia sehingga pengetahuan mengenai terumbu karang dan ikan makin bertambah.  Saat itu bisa menyelam di Pulau Seribu, Sebesi-Lampung, Wakatobi, Karimunjawa, Pagerungan-Madura, dan Riung di Flores bangga sekali rasanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Perjalanan penyelaman yang sangat berkesan bagi saya adalah ketika dipercaya memimpin Ekspedisi Zooxanthellae FDC-IPB ke Tujuh Belas Pulau di Riung, Flores-NTT pada tahun 1996.  Bersama dengan 25 anggota FDC lainnya, kami berangkat dengan kapal TNI-AL dari Surabaya.  Kami melakukan survey untuk mengidentifikasi terumbu karang dan ikan selama tiga minggu di lokasi tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya mulai mengenal &#8220;dunia persilatan&#8221; LSM dengan menjadi volunteer di WWF Bali di tahun 1997.  Waktu itu saya membantu monitoring terumbu karang di seluruh Bali dan penyu di Perancak (Bali Barat), ketika sebelumnya sempat membantu sebuah dive operator di daerah Amed-Bali timur untuk mengembangkan dive center berwawasan lingkungan (<em>eco-dive</em>).  Di tahun 1998,  saya bergabung dengan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali untuk membangun dan mengembangkan divisi kelautan.</p>
<p style="text-align: justify;">Di tahun ketiga saya di PPLH Bali, saya terpilih menjadi koordinator nasional JARING PELA &#8211; sebuah jaringan LSM dan individu pesisir dan laut di Indonesia selama 2 tahun sebelum akhirnya bergabung dengan The Nature Conservancy&#8217;s Coral Triangle Center (TNC-CTC).  Tak terasa, waktu berjalan begitu cepat, saat ini saya sudah di tahun ke-6 bekerja untuk TNC-CTC.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum menjadi Project Leader di Nusa Penida, berbagai posisi pernah saya jalani seperti NGO Liaison Program Officer dan Outreach Coordinator.  Dengan bekerja di TNC-CTC saya mendapatkan tambahan pengetahuan mengenai pengelolaan Kawasan Konservasi Laut dan berkunjung ke lokasi dimana TNC-CTC bekerja seperti Komodo, Derawan, Wakatobi dan Raja Ampat.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi saya bekerja untuk terus melestarikan terumbu karang dan biota laut lainnya di Indonesia bukanlah hanya sebatas pekerjaan, tetapi sudah menjadi hobby.  Bukan hanya supaya saya bisa terus makan ikan kembung crispy dengan sambal kecap dan nasi hangat kebul-kebul, tapi supaya anak-anak saya juga bisa menikmati keindahan terumbu karang secara langsung di alam kalau mereka sudah besar nanti, terlebih lagi masyarakat Indonesia bisa terus merasakan manfaat dari terumbu karang.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Penulis: Marthen Welly</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.goblue.or.id/marthe-welly-melestarikan-terumbu-karang-dan-biota-laut-sudah-menjadi-hobby/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Erdi Lazuardi: &#8220;Ingin Berkiprah dalam Konservasi Terumbu Karang, Sekecil apapun Hasilnya&#8221;</title>
		<link>http://www.goblue.or.id/erdi-lazuardi-ingin-berkiprah-dalam-konservasi-terumbu-karang-sekecil-apapun-hasilnya</link>
		<comments>http://www.goblue.or.id/erdi-lazuardi-ingin-berkiprah-dalam-konservasi-terumbu-karang-sekecil-apapun-hasilnya#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Nov 2008 03:05:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Figur Bulan Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Erdi Lazuardi]]></category>
		<category><![CDATA[konservasi]]></category>
		<category><![CDATA[terumbu karang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.goblue.or.id/?p=596</guid>
		<description><![CDATA[
 

Sampai kapanpun aku selalu takjub dengan fenomena bagaimana terumbu karang terbentuk, berformasi dan menjadi indah.  Rasanya gak rela kalau semakin banyak yang rusak.  Apalagi ini menyangkut hajat hidup orang banyak, khususnya masyarakat kita di pesisir.  Apa yang bisa aku lakukan.  Andil apa yang bisa aku perbuat.
Sedikit banyak aku terinspirasi novel Laskar Pelangi, atau Forrest [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span></p>
<p><mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --></p>
<p style="text-align: justify;"><!--[endif]--> <!--[if gte mso 10]></p>
<p><mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --></p>
<p style="text-align: justify;"><!--[endif]--></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.goblue.or.id/wp-content/uploads/dampierstrait4-small.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-597" title="dampierstrait4-small" src="http://www.goblue.or.id/wp-content/uploads/dampierstrait4-small.jpg" alt="" width="300" height="211" /></a>Sampai kapanpun aku selalu takjub dengan fenomena bagaimana terumbu karang terbentuk, berformasi dan menjadi indah.  Rasanya gak rela kalau semakin banyak yang rusak.  Apalagi ini menyangkut hajat hidup orang banyak, khususnya masyarakat kita di pesisir.  Apa yang bisa aku lakukan.  Andil apa yang bisa aku perbuat.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-596"></span>Sedikit banyak aku terinspirasi novel Laskar Pelangi, atau Forrest Gump, atau terlebih para saintis karang yang udah pada uzur tapi masih asik dengan dunia karang.  Di sisi lain, nasehat orang tua kelas menengah waktu kita kecil adalah, &#8220;Nak, kalau sudah besar nanti jadilah pegawai negeri, biar bisa pensiun dan menikmati hari tua&#8221;.  Sah-sah saja.  Tapi hari tua para saintis karang itu tetap berkutat pada terumbu karang dan mereka menikmatinya.  Jadi kupikir pekerjaan yang paling enak adalah kalau kita enjoy dan mencintai pekerjaan kita serta berkontribusi untuk kebaikan alam.</p>
<p style="text-align: justify;">Ceritaku gak sedramatis inspiratif mozaik kehidupan Laskar Pelangi dan sekuelnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku dilahirkan di sebuah kampung di pinggir kali Bodri Kendal pada Jumat Kliwon, 11 Maret 1977 dari seorang Ayah yang bekerja di Kejaksaan Negeri dan seorang Ibu yang berprofesi sebagai guru agama.  Aku anak kedua dari 4 bersaudara.  Orang tuaku memberiku nama Muhammad Erdi Lazuardi.</p>
<p style="text-align: justify;">Gak tahu dari kapan, tapi sejak SMA aku ingin kuliah di kelautan dan penasaran banget dengan yang namanya menyelam. Waktu kecil aku sangat suka menonton film dokumenter tentang penyelaman di TVRI dan antusias banget kalau cerita tentang penyelaman.  Yang paling kuinget di film-film dokumenter itu adalah <em>ending</em> di tiap ekspedisi, sebuah speedboat yang melaju kencang dengan bendera Canada berkibar di atasnya.  Keren.  Kenangan itu yang selalu kuingat kelak dikemudian hari, di kala aku mengikuti ekspedisi-ekspedisi penyelaman.</p>
<p style="text-align: justify;">Alhamdulillah pada 1995, aku diterima di jurusan Ilmu dan Tehnologi Kelautan IPB.  Kenapa aku pilih IPB karena aku mendapat informasi kalau di sana terdapat klub selam mahasiswa.  Sebelum bisa bergabung klub selam fakultas yang bernama Fisheries Diving Club (FDC-IPB) tersebut,  ngliat anak-anak FDC pulang dari pulau, dengan tampang lusuh dan gosong tapi menenteng peralatan yang keren-keren. Kayanya <em>cool</em> banget deh.  Walaupun persyaratan masuk klub relatif berat, akhirnya aku berhasil masuk juga.  Ada perasaan bangga, karena gak semua mahasiswa bisa masuk FDC, apalagi <em>diving</em> kan olah raga mahal, dan kalau mau murah ya ikutan klub.  Tapi ternyata kebanggaan semu juga, toh gak semua mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan berminat masuk klub selam.  Toh gak ada jaminan jadi anak FDC bisa ngegaet mahasiswi juga, hehe.  Ternyata datangnya cinta bukan karena kita jago nyelam, hehe, tapi yang jelas, jadi ketua FDC gak akan selamanya dikutuk untuk menjomblo, hihihi.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku baru ngerasa FDC sedikit banyak membentuk diriku.  Bagaimana yang aku bayangkan tentang dunia penyalaman akhirnya bisa aku rasakan sendiri, bagaimana aku bisa bernafas di dalam air, terbawa haru ketika melihat kerusakan terumbu karang, bagaimana aku melayang dan terbang bebas bak Superman di kolom air, bagaimana aku mengenal karang dan biota laut lainnya, dan bagaimana persahabatan yang tak lekang oleh waktu dan intrik-intrik terjalin.</p>
<p style="text-align: justify;">FDC jugalah yang mengantarkanku mengenal orang-orang yang berkecimpung di dunia terumbu karang, entah itu pemerintah, klub selam dari kampus lain, anak-anak lsm ataupun perseorangan yang suka diving.  Dari situlah yang awalnya cinta dengan terumbu karang, jadi pengen telibat untuk peduli dengan apa yang dicintai.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah lulus pada 2000, aku masih freelance atau jadi volunteer untuk kegiatan penyelaman, pernah juga ikut kegiatan investigasi perdagangan ikan hias di Lampung dan Kepulauan Seribu yang digagas  Telapak Indonesia dan Yayasan Palung dimana waktu itu aku berkecimpung.  Yayasan Palung adalah sebuah yayasan yang dibentuk oleh beberapa alumni FDC dan bergerak di bidang konservasi terumbu karang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dua tahun setelah lulus, aku dapat tawaran menjadi volunteer WWF Bali untuk kegiatan pengamatan terumbu karang di P. Menjangan Taman Nasional Bali Barat dan Nusa Penida.  Di waktu yang sama, aku menumpang tinggal dan volunteer di Yayasan Bahtera Nusantara di Bali.  Setelah itu aku bergabung dengan WWF Bali sebagai Reef Check Officer untuk ikut mengelola Jaringan Kerja Reef Check Indonesia (JKRI).  Sebagai Reef Check Officer aku mengenal kawan-kawan yang melakukan kegiatan Reef Check di seluruh Indonesia.  Aku mengenal kawan-kawan yang bergerak di bidang wisata selam di Bali.  Mengenal teman-teman nelayan yang berinisiatif mengelola laut mereka dengan bijak.  Mengenal kawan-kawan jurnalis hingga terbentuknya Kelompok Jurnalis Laut.  Sedikit banyak aku juga mengenal pengelolaan kawasan terumbu karang di Bali.  Lebih dari itu, ikut andil dalam penyadartahuan tentang arti penting terumbu karang khususnya bagi para penyelam dengan cara mengkampanyekan penyelaman yang baik dan benar, dan partisipasi para penyelam tersebut dalam pengamatan ekosistem terumbu karang dengan metode Reef Check.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pernah menganggur di Bali.  Waktu itu aku isi waktu dengan volunteer di JKRI, freelance kegiatan penyalaman di Taman Nasional Bali Barat dan Ujung Kulon, dan tawaran untuk mendesain produk seperti leaflet, brosur, pin, kaos hingga membuat komik tentang biawak mangrove untuk JICA-Mangrove Denpasar.  Biar gak ada kerjaan tetap, senang masih bisa menyelam dan ikut andil dalam usaha-usaha konservasi terumbu karang, ciye.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini aku bergabung dengan Conservation International (CI) Indonesia untuk melakukan monitoring terumbu karang di Kepulauan Raja Ampat, Papua.  Sebuah tempat yang tiada duanya, perpaduan antara budaya masyarakatnya, alam darat dan kehebatan keanekaragaman biota bawah lautnya yang dikenal sebagai The Heart of Coral Triangle.  Baru 3 tahun aku di Raja Ampat.  Mengembangkan sebuah field station yang bisa dijadikan tempat penelitian untuk para mahasiswa, khususnya dari Papua, hingga ke para peneliti asing.  Bekerjasama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Raja Ampat, field station ini juga didesain untuk menjadi pusat pelatihan dan balai pertemuan pemerintah maupun masyarakat, serta sarana pendidikan untuk anak-anak sekolah di Raja Ampat untuk lebih mengenal kekayaan laut mereka sendiri.  Dari CI, aku juga mendapat kesempatan untuk memperdalam taksonomi karang baik di lapangan maupun hingga belajar di lab. karang Museum of Tropical Queensland, Townsville.</p>
<p style="text-align: justify;">Cara kerja Tuhan memang misterius.  Aku yang dari kecil suka ngaku-ngaku Superman, gak pernah nyangka kalau sekarang dikaruniai istri seorang wartawan, walaupun jelas bukan dari <em>Daily Planet Metropolis</em>, hehe.  Lebih dari itu aku bahagia, ada seorang Ditta Rachmawati yang dengan senang hati berbagi hidup dan mendukung penuh aktifitasku.  Dialah <em>Lois Lane</em>-ku.  Tak dapat disangkal bahwa karunia Tuhan memang datang dengan tidak disangka-sangka, apalagi kalau datangnya di <em>remote area</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasa bosan di tempat terpencil pasti ada.  Apalagi jauh dari keluarga dan kawan-kawan lama. Tapi melihat keindahan bawah air, membandingkan dengan kebisingan kota, melihat karang rusak akibat ulah manusia, main gitar dan harmonika di ujung dermaga dengan kecipak air di bawahnya, melayang di kolom air dengan ratusan ikan mengelilingi, senyum anak-anak Raja Ampat, pulau-pulau limestone tinggi menjulang, rasanya tidak ada alasan untuk meninggalkan aktivitas ini.  Aku selalu ingin berkiprah di dalamnya, sekecil apapun hasilnya.  Tapi rasanya berlebihan banget kalo aku bilang <strong>demi terumbu karang kita</strong>.  Tapi realitanya toh gak banyak orang-orang yang mikirin terumbu karang kita.  Jadi gak ada alasan pergi meninggalkan apa yang kucintai dan senang seandainya lebih banyak orang peduli, paling tidak, bisa dimulai dari hal-hal kecil walaupun relatif tidak berkaitan langsung dengan terumbu karang, seperti membuang sampah pada tempatnya dan mencoba untuk lebih bijak dalam pemanfaatan sumber daya apapun dalam hidup ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">m. erdi lazuardi</span></p>
<p style="text-align: justify;">science and monitoring coordinator</p>
<p style="text-align: justify;">Conservation International Indonesia, Raja Ampat Program</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.goblue.or.id/erdi-lazuardi-ingin-berkiprah-dalam-konservasi-terumbu-karang-sekecil-apapun-hasilnya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indra Swari: Cinta Laut, Cinta Fotografi</title>
		<link>http://www.goblue.or.id/indra-swari-cinta-laut-cinta-fotografi</link>
		<comments>http://www.goblue.or.id/indra-swari-cinta-laut-cinta-fotografi#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Oct 2008 07:54:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Figur Bulan Ini]]></category>
		<category><![CDATA[Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Indra Swari]]></category>
		<category><![CDATA[Laut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.goblue.or.id/?p=522</guid>
		<description><![CDATA[Liburan keluarga di Karibia tahun 1995 menjadi awal perkenalan Indra Swari pada dunia menyelam. Banyaknya dive operator di sekitar pantai mendorongnya untuk mencoba diving yang ternyata mendapat ijin dari orangtuanya.  &#8220;Saya mendapatkan briefing mengenai safety diving terlebih dahulu sebelum mulai menyelam. Biru, jernih, dan sunyi yg memberikan kesan alam di bawah itu tenang sekali&#8230;Itulah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.goblue.or.id/wp-content/uploads/crop.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-523" title="crop" src="http://www.goblue.or.id/wp-content/uploads/crop-282x300.jpg" alt="" width="282" height="300" /></a>Liburan keluarga di Karibia tahun 1995 menjadi awal perkenalan Indra Swari pada dunia menyelam. Banyaknya dive operator di sekitar pantai mendorongnya untuk mencoba diving yang ternyata mendapat ijin dari orangtuanya.  &#8220;Saya mendapatkan briefing mengenai safety diving terlebih dahulu sebelum mulai menyelam. Biru, jernih, dan sunyi yg memberikan kesan alam di bawah itu tenang sekali&#8230;Itulah yang saya rasakan pada saat itu,&#8221; ungkap Indra menceritakan pengalaman pertamanya menyelam.  <span id="more-522"></span>Kegiatan masa kecilnya seperti berenang, belajar lompat, bermain menyelam, menahan nafas lama, membantunya memberikan rasa nyaman, tidak panik, sehingga latihannya berjalan lancar, dan tidak mengalami kesulitan. &#8220;Semua kegiatan di sekitar laut selalu membuat rasa hati senang, baik itu suara deburan ombak, warna biru laut dan juga bau air laut,&#8221; kata Indra puitis.</p>
<p style="text-align: justify;">Indra yang punya hobi foto, walaupun akunya cuma sekedar iseng-iseng jika sedang berlibur, mulai tertarik membidik keindahan bawah laut. Di tahun 2003, Indra mencoba membawa kamera compact-nya menyelam. Perasaan senang karena dapat menggabungkan kedua hobinya segera menyusup. Namun sebuah kecerobohan, housing kameranya sempat bocor dan sempat menyurutkan minatnya memotret lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Di tahun 2006, seorang temannya meminjamkan kamera digital dan secara otomatis menggugah kecintaannya memotret lagi. Lalu mulailah Indra membeli housing untuk kamera EOS 350D dan sejak itu kamera selalu mengikuti kemanapun dia pergi meny<a href="http://www.goblue.or.id/wp-content/uploads/_mg_2287f1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-526" title="_mg_2287f1" src="http://www.goblue.or.id/wp-content/uploads/_mg_2287f1-200x300.jpg" alt="" width="186" height="279" /></a>elam.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Foto yang paling berkesan buat saya adalah foto ikan mandarin pada saat mereka tarung. Karena ikan ini adalah salah satu ikan favorit buat saya, dikarenakan keindahan warna dan gerakannya. Dan mereka ini adalah ikan pemalu, sulit sekali keluar maupun didekati. Juga sensitif sekali terhadap cahaya lampu sorot maupun lampu strobe kamera kita. Hal ini semua menjadikan tantangan buat kita yang berusaha memotret ikan mandarin ini. Dan saya beruntung sekali dapat mengabadikan aksi tempur mereka di tahun 2006. Namun demikian, buat saya foto-foto mahluk laut lainnya juga mempunyai kesan tersendiri. Semua mempunyai cerita dibalik gambar mereka masing-masing,&#8221; cerita Indra.</p>
<p style="text-align: justify;">Di web, foto-foto Indra banyak mendapat review kelas dunia. Menurutnya saran dan kritik merekalah yang memacunya untuk membuat lebih banyak foto dan berusaha untuk belajar lebih banyak lagi supaya dapat menghasilkan foto yang lebih bagus.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Namun pengalaman saya di Mabul, Malaysia kemarin adalah pengalaman saya pertama kalinya untuk mengikuti kompetisi fotografi dalam bentuk apapun. Saya merasa senang sekali mendapatkan kesempatan itu, dimana saya belajar banyak dari para senior yang telah menggeluti dunia laut secara professional dan juga disini saya mendapatkan teman yang mempunyai jiwa yang sama, cinta laut dan cinta fotografi. Disini saya mendapatkan beberapa kata-kata yang sangat suportif terhadap hasil yang saya dapatkan dan ini amat sangat berarti buat saya,&#8221; ungkapnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai fotografer bawah laut yang mulai dikenal dunia, Indra menaruh concern yang tinggi pada kondisi terumbu karang akahir-akhir ini. &#8220;Untuk beberapa lokasi saya telah melihat penurunan di kondisi terumbu karang yang ada. Namun saya juga melihat beberapa usaha yang telah dilakukan beberapa organisasi pecinta laut untuk membantu meningkatkan kondisi terumbu karang ini, dan semoga hal ini akan terus berlanjut dan ditingkatkan,&#8221; harapnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Indra, edukasi terhadap penduduk pesisir adalah hal paling dasar yang harus ditekankan, karena merekalah yang ambil andil besar untuk menjaga kelestarian laut. &#8220;Mereka harus diberikan pengetahuan bahwa mengeksploitasi laut secara barbarik tidaklah akan membantu mereka di jangka panjang. Kebersihan juga penting, sampah tidak hanya probelmatik di kota besar. Jika manusia semakin sadar dengan problem sampah, maka problem yang disebabkan olehnya dapat dikurangi dan semoga disuatu saat dapat dihilangkan,&#8221; katanya.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.goblue.or.id/wp-content/uploads/img_4075s.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-527" title="img_4075s" src="http://www.goblue.or.id/wp-content/uploads/img_4075s-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a>Selain masyarakat pesisir, Indra juga mengingatkan bahwa edukasi lingkungan bagi para diver juga penting, terutama laut dan isinya, termasuk belajar untuk mencintai dan menghormati laut. Menurutnya pengetahuan dasar seperti perbedaan batu dan terumbu karang dapat membantu diver untuk melestarikan alam, sehingga para diver tidak akan memegang terumbu karang yg dapat menyebabkan kerusakan. &#8220;Juga kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan oleh Reef Check seperti membersihkan sampah di laut, menghitung terumbu karang adalah hal-hal positif dimana para diver dapat ikut serta,&#8221; katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Meskipun hobi yang digelutinya selalu menimbulkan kekuatiran, namun keluarga Indra sangat mendukung hobinya karena dapat merasakan kecintaannya terhadap dunia laut. &#8220;Sejak saya menekuni fotografi bawah laut, keluarga saya malah mulai menyarankan saya untuk lebih memikirkan untuk memulai karier di bidang ini. Saya merasa amat beruntung dengan support yang saya dapatkan dari mereka, karena keluarga adalah bagian hidup saya yang paling penting,&#8221; kata ibu satu putri ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Putrinya pertama kali diajak ke Lembeh di Sulawesi Utara saat berumur 5 bulan. Dan kemanapun Indra pergi diving, selama memungkinkan, dia mengajak putrinya untuk berada di dekat laut, yang udaranya bebas polusi. Indra mempercayai bahwa manusia adalah bagian kecil dari alam, oleh karena itu mengenal dan mencintai alam adalah penting. Dari foto-foto yang dihasilkannya putrinya mulai mengenali beberapa mahluk-mahluk laut. &#8220;Semoga suatu saat dia pun bisa mencitai laut seperti saya dan kita bisa pergi menyelam bersama. Siapa tau kita dapat melakukan sesuatu untuk laut bersama,&#8221; katanya penuh harap.</p>
<p style="text-align: justify;">Di mata Indra, Indonesia adalah negara yang sangat indah, kekayaan lautnya luar biasa dan kita sangat beruntung dapat menikmati keindahan laut yang ada di Indonesia ini. &#8220;Marilah belajar untuk lebih mencintai alam kita,&#8221; katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kegiatan menyelam memberikan pengalaman yang tidak ternilai buat Indra.  Di sana dia melihat, mendengar, dan belajar banyak mengenai alam di darat dan di laut. Selain keindahan laut, Indra  juga menikmati keindahan flora dan fauna di darat, melihat kebudayaan-kebudayaan lokal, bertemu dan berbincang-bincang dengan penduduk lokal, yang baginya juga merupakan pengalaman unik tersendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini Indra bekerja sebagai Asisten Direktur Divisi Purchasing PT.Gudang Garam dan pemegang sertifikat Advance Open Water PADI.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.goblue.or.id/indra-swari-cinta-laut-cinta-fotografi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
