Bau minyak tercium keras di lokasi pertandingan surfing ISC di Padang-Padang, Bali. Sekitar 30 meter di bawah tebing, sebuah kapal nelayan Taiwan tanpa awak terdampar dan mencemari perairan di sekitarnya dengan tumpahan minyak.

Pihak berwajib masih mencari informasi seputar keberadaan awak kapal tersebut, dan mengapa kapal berukuran panjang sekitar 50 meter tersebut terdampar. Nasib dari kapal tersebut juga belum bisa ditentukan. Kapal saat ini berada tepat di kaki tebing, dan pada saat pasang naik, terhempas gelombang yang cukup kuat. Lambung kapal sendiri sudah dalam keadaan terkoyak, sehingga menyulitkan proses penarikan kapal.

Yayasan ROLE dan Polairud sebenarnya sudah mencoba membangun koordinasi untuk menarik kapal tersebut semenjak kapal terdampar sekitar seminggu yang lalu. Namun karena kurangnya tenaga ahli dan miskoordinasi, kapal tersebut tidak berhasil dihalau.

“Untuk memindahkan kapal tersebut sampai di lokasi yang cukup dalam untuk ditenggelamkan, membutuhkan dana minimal 30 juta rupiah,” demikian kata Gogo Prayogo, salah satu ahli kapal dan pesawat di Indonesia, kemarin saat meninjau lokasi

“Perbaikan kapal atau mesin kemungkinan akan membutuhkan biaya yang cukup besar, sehingga bagi pemilik kapal, akan lebih murah untuk menenggelamkan kapal tersebut, ” jelasnya lebih lanjut.

Gogo memperkirakan setidaknya sekitar 200 liter minyak mesin dan oli bekas tumpah mencemari perairan. Sementara menurut pihak yayasan ROLE, solar dari kapal sudah dikosongkan oleh pihak tertentu karena mempunyai nilai jual yang tinggi.

Tumpahan minyak dan oli bekas tersebut tampak mengotori perairan sampai jarak sekitar 300 meter dari lokasi, dan beberapa ikan serta invertebrate ditemukan mati.

“Lapisan minyak menutupi permukaan alga, menghalangi proses fotosintesa, dan juga bersifat abrasif pada kulti hewan-hewan invertebrata yang sensitif,” Naneng Setiasih, dari Yayasan reef Check Indonesia menjelaskan.

Walaupun secara umum kerusakan lingkungan dapat diminimalisasi karena kecilnya jumlah tumpahan minyak, dan tingginya “flushing” di kawasan Padang-Padang, kondisi ini dikeluhkan oleh para turis peselancar dan para peserta perlombaan. Pantai berbatu di Padang-Padang menjadi licin karena minyak serta bau binatang mati dan tumpahan oli cukup menyengat. Kondisi seperti ini tentunya sangat tidak kondusif dalam mendukung gerakan pariwisata di Bali.

Lepas dari adanya upaya-upaya yang dilakukan, kejadian ini menunjukan lemahnya koordinasi pemerintah untuk menangani bencana seperti ini. Satu minggu semenjak kapal terdampar, belum ada koordinasi yang jelas antar Polair, Angkatan Laut, BAPEDALDA, DIPARDA, dan KONI. Kapal tersebut masih berada di lokasi, dan tidak diketahui adanya rencana tindak lanjut.

“Komponen masyarakat, seperti LSM, dan masyarakat adat sangat siap membantu, Namun kami membutuhkan panduan dari pemerintah, karena hal seperti ini bukan sesuatu yang bisa masyarakat selesaikan secara bergotong royong tanpa campur tangan pemerintah,” demikian jelas Naneng.

Semoga kejadian ini bisa menjadi momentum untuk memperat koordinasi dan kerja sama antar berbagai lembaga pemerintahan dengan pihak-pihak terkait lainnya.