SEMARANG, KOMPAS- Dari 95.000 hektar kawasan hutan bakau di Provinsi Jawa Tengah, 61.000 hektar di antaranya masuk kategori rusak berat. Penyebab utamanya adalah alih fungsi lahan menjadi areal industri, tambak, pertanian, serta p ermukiman.
Reklamasi areal hutan bakau menjadi kawasan wisata juga menjadi penyebab kerusakan bakau yang memiliki fungsi utama menahan erosi dan abrasi air laut tersebut. Reklamasi yang dilakukan tanpa memperhatikan kaidah-kaidah lingkungan hidup sangat merusak ekosistem di kawasan pantai.
“Rusaknya hutan bakau, berdampak pula pada meluasnya banjir dan rob,” ungkap Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah Sri Puryono, Rabu (18/6) di Kota Semarang.
Menurut Sri Puryono, perilaku masyarakat di kawasan pesisir dalam memanen bakau juga kurang memperhatikan kaidah-kaidah kelestarian dan konservasi lingkungan hidup. Padahal, seharusnya, untuk setiap bakau yang ditebang harus dilakukan penanaman kembali.
Dari data Dinas Kehutanan Jateng, terdapat 14 kabupaten/kota yang kawasan hutan bakaunya masuk kategori rusak berat, yakni Kabupaten Cilacap, Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal, Demak, Jepara, Pati, Rembang, serta Kota tegal, Pekalongan, dan Semarang.
Dari 14 daerah tersebut, kerusakan hutan bakau paling luas terjadi di Kabupaten Pati, yakni 17.000 hektar. Kerusakan hutan bakau di Kabupaten Demak juga cukup luas, mencapai 8.600 hektar.
Pakar manajemen lingkungan hidup Universitas Diponegoro Prof Sudharto Hadi menilai, kerusakan hutan bakau di Jawa Tengah salah satunya disebabkan minimnya lahan pantai yang dimiliki pemerintah. “Sekitar 65 persen dari kawasan pantai dimiliki oleh pihak swasta. Dengan demikian, fungsi kontrol pemerintah tidak bisa optimal,” jelasnya.
Untuk memperbaiki ekosistem hutan bakau, pemerintah telah merehabilitasi sejumlah kawasan hutan bakau di Jawa Tengah. Pada tahun 2007, telah dianggarkan dana dari Departemen Kehutanan sebesar Rp 3 juta per hektar, untuk merehabilitasi sekitar 5.000 hektar lahan bakau.
“Untuk tahun 2008-2009, kita sedang mendorong rehabilitasi secara swadaya oleh masyarakat supaya mereka memiliki kesadaran mengenai pentingnya hutan bakau,” kata Sri Puryono.
Web site ini dibuat secara gotong royong oleh berbagai pihak untuk membangun trend cinta laut serta menyediakan akses informasi yang mudah untuk bisa terlibat di dalam konservasi laut dan pesisir serta ekosistem terkaitnya, dengan saling berbagi informasi yang bersifat positif, membangun semangat, dan saling menghargai satu sama lain. Baca selengkapnya
agus aribowo
July 5th, 2008 at 12:22 pm
Saya mahasiswa jurusan teknik lingkungan akan melakukan penelitian mengenai mangrove di pemalang untuk skripsi saya. Saya masih bingung tentang judul dan permasalahan- permasalahan pada hutan mangrove. Sekiranya Bapak bisa membantu Saya. Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih.
a2ifin
February 11th, 2009 at 4:05 pm
pak saya mau TA tentang mangrove di Jawa timur di Bangkalan. memakai lansat tp yg ada th 2002. pak punya tahun 1998
Radianta
June 1st, 2009 at 8:06 am
statement “Rusaknya hutan bakau, berdampak pula pada meluasnya banjir dan rob,” ini saya rasa tidak benar. Bahkan hutan bakau yang terlalu padat bisa menghambat aliran sehingga dibutuhkan energi yang lebih besar untuk menglairkan air, akibatnya air di hulu harus naik dan terjadilah banjir. Bahwa bakau sangat bermanfaat bagi lingkungan adah benar. Bahwa bakau menahan erosi pantai adalah benar. Bahwa bakau memberikan nutrisi bagi biota di sekitarnya dan tempat yang baik bagi erkembang biaknya biota adalah benar, dll lagi manfaat bakau. Tetapi setiap kesalahan jangan ditimpakan pada kerusakan bakau. Rob bisa terjadi karena beberapa sebab misalnya turunnya tanah, sea level rise, storm atau badai di laut, kondisi gelombang pasang surut yang spesial (yang mengakibatkan gelombang pasang tinggi yang tidak biasa), drainase yang tidak baik (reklamasi mengakibatkan bertambah panjangnya saluran drainasi yang mengakibatkan kebutuhan energi yang semakin tinggi yang memungkinkan terjadinya rob), kejadian bajir yang tepat dengan elevasi muka air laut tinggi (saat pasang). Sekian mudah-mudahan berguna.
Aditya Hirawan
August 12th, 2009 at 9:16 am
Saya siswa SMP yang mendapat tugas mengenai hutan Mangrove di Jateng. Saya ingin tanya kalau saya ke Semarang di pantai sebelah mana saya dapat menemui hutan mangrove? Sebab sejauh ini saya hanya tahu pantai marina dan pelabuhan Tanjung Mas.Terimakasih sebelumnya.Pak.
admin
August 12th, 2009 at 6:58 pm
Hai, Salam Go Blue Aditya,
Memang luasan dan sebaran mangrove di semarang sangat berkurang (setidaknya dari pengamatan secara umum), namun sejak beberapa tahun terakhir, sudah semakin banyak aktifitas penanaman yang dilakukan banyak pihak. Untuk mengetahui informasi seputar ekosistem mangrove di daerah Semarang-Jepara silahkan kontak rekan2 Kesemat Undip di http://kesemat.undip.ac.id
Salam Go Blue
Jabon
September 1st, 2010 at 12:14 pm
mungkin karena itu penyebabnya ya,, setiap tahunya selalu kebanjiran…?