Tahun 1954, bom nuklir Amerika yang paing heboh (15 megaton: seribu kali lebih heboh dari bom nuklir Hirosima) meledak di kawasan atol Bikini di Pasifik. Ledakan ini menghancur totalkan 3 buah pulau, membuat gempa bumi di pulau-pulau dalam radius 200 km, dan meninggalkan kawah raksasa di dasar laut sedalam 73 meter dan lebar 2 km.

Sekarang, setelah 50 tahun lebih, terumbu karang di kawah tersebut tampak tumbuh dengan baik.

Ditemukan Porites bercabang raksasa setinggi 8 meter, dengan “batang” setebal 30 cm.

“Penyelaman di sini sangat luar biasa, kami tidak menyangka terumbu karang tumbuh dengan pesat dan baik,”kata Zoe Richards of the ARC Centre of Excellence for Coral Reef Studies dan Universitas James Cook University. Team peneliti sendiri berasal dari Australia, Jerman, Itali, Hawaii dan kepulauan Marshall.

Terumbu karang adalah salah satu ekosistem tertua, dan struktur hidup terbesar yang ada di dunia. Berita baik ini menunjukan bahwa setelah berjuta-juta tahun berevolusi mereka mempunyai daya lenting yang tinggi dalam menghadapi tekanan lingkungan.

Namun, walaupun secara umum terumbu karang dapat bertahan, keanekaragamannya berkurang cukup besar. Sekitar 42 jenis karang dinyatakan hilang.

Dekontaminasi yang ekstensif telah dilakukan di atol bikini, jadi untuk para penyelam yang ingin menyelam di “pohon-pohon” karang, bisa datang mengunjungi. Hanya saja, makanan produksi lokal masih tidak dianjurkan untuk dikonsumsi.

Sumber berita: diadaptasi dari ARC Centre of Excellence in Coral Reef Studies (2008, April 16). Bikini Corals Recover From Atomic Blast, Although Some Species Missing. ScienceDaily. Retrieved April 19, 2008, from http://www.sciencedaily.com­ /releases/2008/04/080415101021.htm. Foto dari www.uq.edu.au.