Desa Bondalem, Kecamatan Tejakula, sejak lama dikenal sebagai salah satu desa terkaya dan termaju di Kabupaten Buleleng, Bali. Rumah-rumah tua berarsitektur modern dan besar, tidak seperti kebanyakan rumah tradisional Bali, masih terawat dengan baik, berdiri kokoh dan tampak indah dengan penataan taman yang serasi, tidak kalah dibandingkan vila-vila dan pondok wisata milik sejumlah orang asing yang banyak terdapat di sekitar pantai desa tersebut. Salah satunya, adalah rumah keluarga Perbekel (Kepala Desa) Bondalem, Gde Ngurah Sadu Adnyana, yang terletak sekitar 200 meter dari pantai yang kini dilindungi secara resmi itu. Di teras rumahnya yang asri, saya menyempatkan diri berbincang-bincang dengan Ngurah Sadu di suatu pagi yang cerah.

Sejak dipilih menjadi Perbekel Desa Bondalem, tahun 2005, Ngurah Sadu, yang menghabiskan masa remaja hingga dewasa di Pulau Jawa, telah membuat berbagai perubahan di lingkungan desanya. Pengalaman pria kelahiran Singaraja, 20 Nopember 1964 itu cukup luas. Setelah menamatkan kuliahnya di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Surabaya tahun 1989, dia memilih mengadu nasib di ibukota Jakarta. Diantaranya bekerja di salah satu perusahaan nasional di Jakarta selama 12 tahun, yang menjadi bekalnya dalam mengelola Desa Bondalem.

Layaknya seorang manager perusahaan, Ngurah Sadu mengelola desa yang dipimpinnya dengan cara modern, sehingga desa ini tertata dengan baik dan bahkan berhasil memberikan pemasukan besar bagi kas desa. Namun terobosan besar yang mencatat namanya sebagai Perbekel peduli lingkungan adalah inisiatif membentuk Daerah Perlindungan Laut di Desa Bondalem tahun 2006. DPL Bondalem kemudian diresmikan Bupati Buleleng, pada tanggal 22 April 2008, bertepatan dengan peringatan Hari Bumi.

“Bagi saya, laut adalah sumber mata pencaharian, apalagi Bali dikenal sebagai daerah wisata, dimana peran laut menjadi sangat penting dalam menarik income dan juga menjaga pesisir pantai. Dengan mengelola laut sebaik-baiknya, saya yakin Desa Bondalem bisa lebih terkenal. Karena laut sangat diperlukan untuk masyarakat desa maupun wisatawan,” katanya.

Kepeduliannya berawal dari kondisi perairan Bondalem yang rusak. Seperti dikisahkannya, di masa lalu, banyak nelayan dari desa-desa tetangga mengambil ikan hias di perairan Desa Bondalem dengan cara-cara yang tidak ramah lingkungan. Sementara masyarakat desa itu sendiri tidak ada yang berprofesi sebagai nelayan ikan hias. Akibatnya, terumbu karangnya rusak dan ikan-ikanpun berkurang, baik ikan hias maupun ikan konsumsi. Akibat lainnya, adalah terjadi abrasi di beberapa ruas pantai sehingga cukup mengkuatirkan keberlangsungan pariwisata di kawasan itu.

Menyadari bahwa laut merupakan masa depan desa tersebut, Ngurah Sadu, didukung masyarakat desa dan Yayasan Reef Check Indonesia, sebuah organsiasi lingkungan di Bali, membentuk DPL, disahkan lewat Peraturan Desa Bondalem No. 5 Tahun 2006 tentang Perlindungan Pesisir dan Laut. Lewat pendampingan LSM, masyarakat mendapat perbekalan mengenai konservasi pesisir dan laut, terutama tentang terumbu karang, termasuk pelatihan monitoring terumbu karang dan sertifikasi selam.

Sebagai seorang pemimpin, Ngurah Sadu, menunjukkan contoh sebagai yang terdepan dalam proyek ini. Maka, meskipun dibesarkan keluarga petani dan tidak akrab dengan laut, Ngurah Sadu mengikuti pelatihan selam bersama dengan 6 warga desa lainnya. Termasuk ikut terjun langsung dalam monitoring terumbu karang Bondalem dengan metode Manta Tow.

Bukan hanya menggerakkan warga desanya, Ngurah Sadu, yang memiliki pengaruh kuat melibatkan pemilik-pemilik vila dan bungalow yang sebagian besar orang asing itu. Bahkan, tidak jarang pemilik bungalow turut memfasilitasi pertemuan-pertemuan pembentukan DPL dan bahkan ikut terlibat sebagai peserta, dan juga dalam mengawasi pantai.

Untuk menjaga laut, terutama DPL, maka Pecalang Laut (Pecalang adalah satuan keamanan adat) dibentuk dan disahkan lewat keputusan Desa Pekraman Bondalem tahun 2008. Mereka bertugas menjaga keamanan pesisir dan laut , terutama kawasan DPL seluas 2 hektar.

DPL yang diprakarsainyapun mendapat dukungan Departemen Kelautan dan Perikanan Kabupaten Buleleng dengan memberikan bantuan proyek transplantasi karang. Pecalang laut yang sebelum telah disertifikasi  selam bahkan terjun langsung dalam mengerjakan proyek transplantasi tersebut.

Kini telah setahun DPL diresmikan, Ngurah Sadu merasa pekerjaannya belum selesai. Bahkan masih panjang. Dia berharap, meskipun kelak tidak lagi menjadi Perbekel, penerusnya tetap memiliki semangat konservasi seperti dirinya.

“DPL ini juga untuk anak cucu saya. Saya ingin anak saya kelak bisa menikmatinya. Dia harus bisa menyelam dan melihat keindahan bawah laut Bondalem,” kata pria berputra satu ini.

Penulis dan Foto: Pariama Hutasoit