Manado, Go Blue - Pentingnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan suatu kawasan konservasi menjadi hal yang mutlak dalam menentukan kesuksesan program. Dua organisasi konservasi internasional, Conservation International dan The Nature Conservancy menyatakan hal tersebut dalam salah satu sesi simposium di event International Symposium WOC.

Abdul Halim dari TNC menyatakan, peran masyarakat sangat diperlukan karena walaupun sudah dikenal luas, MPA merupakan suatu konsep yang baru dalam artian pelibatan berbagai pihak dalam pelaksanaannya. Demikian pula Giselle Tan dari CI, menyatakan bahwa: “Salah satu hal penting dalam konservasi selain sisi ekologi ialah, melihat bagaimana dampak sosio-ekonomi dan kelembagaan yang terjadi di masyarakat,” jelasnya.

Survey socio-ekonomi merupakan hal mutlak dilakukan baik sebelum, selama dan sesudah program. Survei ini dapat meningkatkan kualitas dan efektifitas fasilitasi terhadap input dan partisipasi stakeholder dalam proses MPA. Hal penting lainnya dari survei ini adalah dengan menjabarkan kondisi sosio-ekonomi masyarakat, para perencana MPA bisa mendesain dan mengimplementasikan kegiatan outreach yang lebih adaptif terutama bila terjadi perubahan-perubahan di masyarakat yang memerlukan respon cepat.

TNC telah melakukan survei ini di Derawan, Wakatobi, sebagian Raja Ampat dan Komodo. Sedangkan lesson learned dari CI didapatkan dari survey di Belize, Fiji, Brazil dan Panama. Secara umum, hasil survey menunjukkan bahwa baik di Indonesia maupun di luar negeri persepsi masyarakat terhadap usaha konservasi sangat baik, sebagai contoh dari hasil penelitian oleh TNC, sebagian besar masyarakat mengerti bahwa dalam suatu MPA, tidak semua wilayah dilarang untuk kegiatan perikanan.

Kesamaan pandangan juga terlihat bahwa ada penurunan kondisi perikanan mereka dibanding 10 tahun lalu, namun mereka juga memiliki kesamaan pandangan bahwa dengan berbagai usaha konservasi sekarang ini membawa harapan untuk kondisi yang lebih baik di masa mendatang.

Hal yang digaris bawahi oleh para pembicara ialah pentingnya kesetaraan gender diperhatikan dalam studi persepsi ini. Walaupun kegiatan perikanan didominasi laki-laki, namun beberapa studi menyatakan bahwa perempuan memiliki kans besar dalam mempengaruhi keputusan perikanan kaum pria dan masyarakat.

Lesson learned dari survei oleh TNC dan CI menunjukkan perimbangan responden sangat diperlukan untuk mendapatkan data persepsi yang mendekati kondisi masyarakat. Beberapa hal tersebut meliputi usia, pendidikan, posisi dalam pemanfaatan laut, gender. Presentator dari CI menyebutkan kesuksesan membaca kondisi sosial ekonomi masyarakat mendorong tercipatanya pengelolaan yang efektif dan tentunya meningkatkan fungsi dan pelayanan MPA baik dari segi ekologi maupun kesejahteraan masyarakat.

Artikel dan Foto: Jensi Sartin
Tenaga Ahli Muda Bidang Pendidikan dan Awareness
Yayasan Reef Check Indonesia