Sampai kapanpun aku selalu takjub dengan fenomena bagaimana terumbu karang terbentuk, berformasi dan menjadi indah.  Rasanya gak rela kalau semakin banyak yang rusak.  Apalagi ini menyangkut hajat hidup orang banyak, khususnya masyarakat kita di pesisir.  Apa yang bisa aku lakukan.  Andil apa yang bisa aku perbuat.

Sedikit banyak aku terinspirasi novel Laskar Pelangi, atau Forrest Gump, atau terlebih para saintis karang yang udah pada uzur tapi masih asik dengan dunia karang.  Di sisi lain, nasehat orang tua kelas menengah waktu kita kecil adalah, “Nak, kalau sudah besar nanti jadilah pegawai negeri, biar bisa pensiun dan menikmati hari tua”.  Sah-sah saja.  Tapi hari tua para saintis karang itu tetap berkutat pada terumbu karang dan mereka menikmatinya.  Jadi kupikir pekerjaan yang paling enak adalah kalau kita enjoy dan mencintai pekerjaan kita serta berkontribusi untuk kebaikan alam.

Ceritaku gak sedramatis inspiratif mozaik kehidupan Laskar Pelangi dan sekuelnya.

Aku dilahirkan di sebuah kampung di pinggir kali Bodri Kendal pada Jumat Kliwon, 11 Maret 1977 dari seorang Ayah yang bekerja di Kejaksaan Negeri dan seorang Ibu yang berprofesi sebagai guru agama.  Aku anak kedua dari 4 bersaudara.  Orang tuaku memberiku nama Muhammad Erdi Lazuardi.

Gak tahu dari kapan, tapi sejak SMA aku ingin kuliah di kelautan dan penasaran banget dengan yang namanya menyelam. Waktu kecil aku sangat suka menonton film dokumenter tentang penyelaman di TVRI dan antusias banget kalau cerita tentang penyelaman.  Yang paling kuinget di film-film dokumenter itu adalah ending di tiap ekspedisi, sebuah speedboat yang melaju kencang dengan bendera Canada berkibar di atasnya.  Keren.  Kenangan itu yang selalu kuingat kelak dikemudian hari, di kala aku mengikuti ekspedisi-ekspedisi penyelaman.

Alhamdulillah pada 1995, aku diterima di jurusan Ilmu dan Tehnologi Kelautan IPB.  Kenapa aku pilih IPB karena aku mendapat informasi kalau di sana terdapat klub selam mahasiswa.  Sebelum bisa bergabung klub selam fakultas yang bernama Fisheries Diving Club (FDC-IPB) tersebut,  ngliat anak-anak FDC pulang dari pulau, dengan tampang lusuh dan gosong tapi menenteng peralatan yang keren-keren. Kayanya cool banget deh.  Walaupun persyaratan masuk klub relatif berat, akhirnya aku berhasil masuk juga.  Ada perasaan bangga, karena gak semua mahasiswa bisa masuk FDC, apalagi diving kan olah raga mahal, dan kalau mau murah ya ikutan klub.  Tapi ternyata kebanggaan semu juga, toh gak semua mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan berminat masuk klub selam.  Toh gak ada jaminan jadi anak FDC bisa ngegaet mahasiswi juga, hehe.  Ternyata datangnya cinta bukan karena kita jago nyelam, hehe, tapi yang jelas, jadi ketua FDC gak akan selamanya dikutuk untuk menjomblo, hihihi.

Aku baru ngerasa FDC sedikit banyak membentuk diriku.  Bagaimana yang aku bayangkan tentang dunia penyalaman akhirnya bisa aku rasakan sendiri, bagaimana aku bisa bernafas di dalam air, terbawa haru ketika melihat kerusakan terumbu karang, bagaimana aku melayang dan terbang bebas bak Superman di kolom air, bagaimana aku mengenal karang dan biota laut lainnya, dan bagaimana persahabatan yang tak lekang oleh waktu dan intrik-intrik terjalin.

FDC jugalah yang mengantarkanku mengenal orang-orang yang berkecimpung di dunia terumbu karang, entah itu pemerintah, klub selam dari kampus lain, anak-anak lsm ataupun perseorangan yang suka diving.  Dari situlah yang awalnya cinta dengan terumbu karang, jadi pengen telibat untuk peduli dengan apa yang dicintai.

Setelah lulus pada 2000, aku masih freelance atau jadi volunteer untuk kegiatan penyelaman, pernah juga ikut kegiatan investigasi perdagangan ikan hias di Lampung dan Kepulauan Seribu yang digagas  Telapak Indonesia dan Yayasan Palung dimana waktu itu aku berkecimpung.  Yayasan Palung adalah sebuah yayasan yang dibentuk oleh beberapa alumni FDC dan bergerak di bidang konservasi terumbu karang.

Dua tahun setelah lulus, aku dapat tawaran menjadi volunteer WWF Bali untuk kegiatan pengamatan terumbu karang di P. Menjangan Taman Nasional Bali Barat dan Nusa Penida.  Di waktu yang sama, aku menumpang tinggal dan volunteer di Yayasan Bahtera Nusantara di Bali.  Setelah itu aku bergabung dengan WWF Bali sebagai Reef Check Officer untuk ikut mengelola Jaringan Kerja Reef Check Indonesia (JKRI).  Sebagai Reef Check Officer aku mengenal kawan-kawan yang melakukan kegiatan Reef Check di seluruh Indonesia.  Aku mengenal kawan-kawan yang bergerak di bidang wisata selam di Bali.  Mengenal teman-teman nelayan yang berinisiatif mengelola laut mereka dengan bijak.  Mengenal kawan-kawan jurnalis hingga terbentuknya Kelompok Jurnalis Laut.  Sedikit banyak aku juga mengenal pengelolaan kawasan terumbu karang di Bali.  Lebih dari itu, ikut andil dalam penyadartahuan tentang arti penting terumbu karang khususnya bagi para penyelam dengan cara mengkampanyekan penyelaman yang baik dan benar, dan partisipasi para penyelam tersebut dalam pengamatan ekosistem terumbu karang dengan metode Reef Check.

Aku pernah menganggur di Bali.  Waktu itu aku isi waktu dengan volunteer di JKRI, freelance kegiatan penyalaman di Taman Nasional Bali Barat dan Ujung Kulon, dan tawaran untuk mendesain produk seperti leaflet, brosur, pin, kaos hingga membuat komik tentang biawak mangrove untuk JICA-Mangrove Denpasar.  Biar gak ada kerjaan tetap, senang masih bisa menyelam dan ikut andil dalam usaha-usaha konservasi terumbu karang, ciye.

Saat ini aku bergabung dengan Conservation International (CI) Indonesia untuk melakukan monitoring terumbu karang di Kepulauan Raja Ampat, Papua.  Sebuah tempat yang tiada duanya, perpaduan antara budaya masyarakatnya, alam darat dan kehebatan keanekaragaman biota bawah lautnya yang dikenal sebagai The Heart of Coral Triangle.  Baru 3 tahun aku di Raja Ampat.  Mengembangkan sebuah field station yang bisa dijadikan tempat penelitian untuk para mahasiswa, khususnya dari Papua, hingga ke para peneliti asing.  Bekerjasama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Raja Ampat, field station ini juga didesain untuk menjadi pusat pelatihan dan balai pertemuan pemerintah maupun masyarakat, serta sarana pendidikan untuk anak-anak sekolah di Raja Ampat untuk lebih mengenal kekayaan laut mereka sendiri.  Dari CI, aku juga mendapat kesempatan untuk memperdalam taksonomi karang baik di lapangan maupun hingga belajar di lab. karang Museum of Tropical Queensland, Townsville.

Cara kerja Tuhan memang misterius.  Aku yang dari kecil suka ngaku-ngaku Superman, gak pernah nyangka kalau sekarang dikaruniai istri seorang wartawan, walaupun jelas bukan dari Daily Planet Metropolis, hehe.  Lebih dari itu aku bahagia, ada seorang Ditta Rachmawati yang dengan senang hati berbagi hidup dan mendukung penuh aktifitasku.  Dialah Lois Lane-ku.  Tak dapat disangkal bahwa karunia Tuhan memang datang dengan tidak disangka-sangka, apalagi kalau datangnya di remote area.

Rasa bosan di tempat terpencil pasti ada.  Apalagi jauh dari keluarga dan kawan-kawan lama. Tapi melihat keindahan bawah air, membandingkan dengan kebisingan kota, melihat karang rusak akibat ulah manusia, main gitar dan harmonika di ujung dermaga dengan kecipak air di bawahnya, melayang di kolom air dengan ratusan ikan mengelilingi, senyum anak-anak Raja Ampat, pulau-pulau limestone tinggi menjulang, rasanya tidak ada alasan untuk meninggalkan aktivitas ini.  Aku selalu ingin berkiprah di dalamnya, sekecil apapun hasilnya.  Tapi rasanya berlebihan banget kalo aku bilang demi terumbu karang kita.  Tapi realitanya toh gak banyak orang-orang yang mikirin terumbu karang kita.  Jadi gak ada alasan pergi meninggalkan apa yang kucintai dan senang seandainya lebih banyak orang peduli, paling tidak, bisa dimulai dari hal-hal kecil walaupun relatif tidak berkaitan langsung dengan terumbu karang, seperti membuang sampah pada tempatnya dan mencoba untuk lebih bijak dalam pemanfaatan sumber daya apapun dalam hidup ini.

m. erdi lazuardi

science and monitoring coordinator

Conservation International Indonesia, Raja Ampat Program