survei oleh sukarelawan Reef Check di AmedHasil studi terbaru yang berdasarkan data Reef Check, menunjukkan Daerah Perlindungan Laut (DPL), suatu kawasan dimana kegiatan perikanan dan kegiatan lain yang berpotensi merusak diatur dengan baik, mampu memberikan bonus bagi ekosistem terumbu karang yaitu membantu terumbu untuk pulih dari berbagai akibat ancaman  terhadap kondisi kesehatan karang.

Para peneliti juga menemukan efek perlindungan dari DPL umumnya akan semakin baik seiring dengan berjalannya waktu.

Temuan yang diterbitkan dalam edisi 17 Februari jurnal ilmiah PLoS One, mengkonfirmasi hasil dari survei Reef Check pertama mengenai nilai penting DPL terkait kesehatan terumbu karang.

Seperti yang telah terbukti sebelumnya bahwa DPL berhasil melestarikan sumber daya ikan, ini juga memberi optimisme bagi para peneliti bahwa DPL secara tidak langsung membantu karang dengan  memulihkan rantai makanan di terumbu. Penelitian sebelumnya juga menyatakan bahwa kawasan konservasi tersebut dapat langsung melindungi karang dari masalah penangkapan berlebihan, kerusakan akibat jangkar dan polusi dari aliran sedimen dari daratan.

Ilmuwan Kelautan Elizabeth Selig, Ph.D., dan John Bruno, Ph.D., dari University of North Carolina di Chapel Hill, menganalisis database global hasil survei di 8,534 tutupan karang hidup antara tahun 1969 dan 2006. Mereka membandingkan perubahan tutupan karang di 310 DPL dengan daerah-daerah disekitarnya yang tidak dilindungi, meliputi 4.456 terumbu di 83 negara.

Tutupan karang, atau persentase dasar laut yang ditutupi oleh karang hidup, merupakan ukuran kunci kesehatan suatu ekosistem terumbu karang.

“Kami menemukan bahwa rata-rata, tutupan karang di DPL cenderung konstan, tapi tidak terjadi pada daerah yang tidak dilindungi,” kata Selig, yang sedang menyelesaikan disertasi doktor di UNC. Dia sjuga merupkan peneliti di Conservation International.

John Bruno, Associate professor of marine sciences in the UNC College of Arts and Sciences, mengatakan hasil survei juga menunjukkan manfaat kawasan indung  meningkat seiring dengan berjalannya waktu. Awalnya, tutupan terumbu menurun ketika DPL dibentuk dan ditetapkan. Namun, beberapa tahun kemudian, tingkat penurunan melambat dan kemudian berhenti.

Di Karibia misalnya, tutupan terumbu menurun selama sekitar 14 tahun setelah perlindungan dimulai- mungkin terkait waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan perikanan – namun kemudian berhenti menurun dan mulai meningkat.

Di Indo-Pasifik, tutupan karang terus menurun selama lima tahun pertama setelah DPL didirikan, lalu mulai membaik, akhirnya mencapai tingkat pertumbuhan dua persen pertahun setelah dua dekade.

“Mengingat waktu yang dibutuhkan untuk memaksimalkan manfaat ini, masuk akal untuk membangun lebih banyak DPL. Pihak berwenang juga perlu untuk memperkuat upaya-upaya dalam penegakan aturan di daerah-daerah yang sudah memiliki DPL, “kata Bruno.

Tahun 2004 hingga 2005, fase dimana database yang paling lengkap, tutupan terumbu dalam DPL meningkat sebesar 0,05 persen di Karibia dan 0,08 persen di Pasifik dan Samudra Hindia. Sebaliknya, tutupan terumbu karang yang tidak dilindungi menurun rata-rata 0,27 persen di Karibia, dan 0,41 persen dan 0,43 persen di Samudra Hindia dan Pasifik.

Tulisan ini mencatat bahwa hasil ini mungkin merupakan perkiraan yang konservatif berdasarkan manfaat karena peraturan yang bertujuan untuk mengontrol nelayan, perburuan dan kegiatan lain yang banyak dilakukan dalam DPL di daerah tropis kurang ditegakkan. Selain itu, sebagian besar merupkan daerah lindung yang baru saja didirikan (hampir 60 persen dari survei mengatakan bahw DPL berusia kurang dari 15 tahun).

“Walaupun perubahan tutupan karang dari tahun ke tahun  mungkin terlihat sangat sepele dalam jangka pendek, efek kumulatif selama beberapa dekade bisa menjadi sangat bagus,” kata Selig.

Selig dan Bruno mengatakan masih harus dilihat apakah  manfaat DPL cukup untuk mengurangi kerugian akibat hilangnya karang akibat penyakit dan peristiwa pemutihan karang, yang diperkirakan akan meningkat akibat perubahan iklim.

Pernyataan ini berdasar termuan mereka bahwa peristiwa pemanasan seperti kejadian El Niño tahun 1998 telah mengurangi efek positif dari zona pelindung secara drastis. “DPL jelas merupakan alat utama untuk konservasi terumbu karang, tetapi kita masih harus fokus pada impelementasi kebijakan yang dapat mengurangi efek negatif dari perubahan iklim,” kata mereka.

Direktur Eksekutif Reef Check, Dr Gregor Hodgson mencatat:

“Jenis meta-analisis ini sangat penting karena menggunakan dataset besar dan rentang geografis yang luas sehingga memungkinkan munculnya pola-pola utama yang sering terkubur ketika melihat beberapa site, daerah atau tahun.”

Tulisan ini menegaskan adalah bahwa pengelolaan DPL  yang dilakukan dengan baik menghasilkan rerata tutupan karang yang lebih tinggi, walaupun faktanya mengatakan bahwa banyak DPL hanya diatas kertas. Namun, ini membuktikan bahwa sebuah pengelolaan lebih baik dibanding tidak ada sama sekali.

Hal ini mengindikasikan beberapa hal yaitu:

  • Perlu melanjutkan program monitoring jangka panjang untuk melihat tren yang mungkin butuh waktu puluhan tahun untuk dapat dianalisa hasilnya.
  • Pemerintah harus terus menekan agar sistem pengelolaan  DPL semakin baik.
  • Untuk negara yang sangat menggantungkan perekonomian pada sektor wisata – tutupan karang yang tinggi serta banyaknya ikan besar adalah daya tarik wisatawan- sehingga DPL merupakan investasi yang sangat besar manfaatnya, seperti investasi DPL di Belize yang telah memberikan keuntungan berlipat karena ikan dan karangnya yang melimpah.

Klik disini untuk tulisan/paper lengkapnya.