Berau 11 September 2008 – Tim Pengarah Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan laut Kabupaten Berau meluncurkan Stasiun Pengawasan Terapung (Floating Surveillance Station) “FSS Penyu Laut” untuk mendukung pengamanan KKL Berau, Kalimantan Timur dari ancaman illegal fishing, penjarahan biota laut yang dilindungi, serta praktek penangkapan ikan yang merusak lingkungan.

Program ini mendapat dukungan penuh organisasi non-pemerintah The Nature Conservancy (TNC), WWF-Indonesia dan Conservation International Indonesia meluncurkan Stasiun Pengawasan Terapung (Floating Surveillance Station) “FSS Penyu Laut” untuk mendukung pengamanan KKL Berau, Kalimantan Timur dari ancaman illegal fishing, penjarahan biota laut yang dilindungi, serta praktek penangkapan ikan yang merusak lingkungan.

Peluncuran “FSS Penyu Laut” merupakan tindak lanjut Keputusan Bupati Berau Nomor 208 Tahun 2007 tentang pembentukan tim terpadu pengamanan KKL Berau, dengan tujuan utama melindungi wilayah yang sangat kaya keanekaragaman hayati, sekaligus melindungi potensi sumber daya laut dan pesisir yang sangat besar di daerah tersebut.

Dengan 6 orang awak dan 10 pengawas, ”FSS Penyu Laut” memiliki panjang total 23 meter, lebar 5,25 meter, digerakkan mesin 6 silinder dengan kemampuan maksimal 280 tenaga kuda. Kapal ini dirancang mampu menggelar misi pengawasan selama sepuluh hari di tengah laut, mengawasi perairan KKL Berau seluas 1,2 juta hektar.

Bupati Berau Drs. H. Makmur HAPK. MM dalam pidatonya menyambut baik dan mengapresiasi Tim Pengarah Pengelolaan Sumberdaya Perikanan dan Kelautan Kabupaten Berau, khususnya Program Bersama Kelautan Berau TNC-WWF di wilayah ini, atas tersedianya fasilitas Stasiun Pengawasan Terapung ”Penyu Laut”. Makmur mengakui banyaknya permasalahan kelautan dan perairan, khususnya dalam bidang kesinambungan sumber daya laut di wilayah yang dipimpinnya.

”Pemahaman masyarakat pesisir – terutama para nelayan – mengenai peraturan perundangundangan yang berlaku, khususnya tentang perikanan dan konservasi sumberdaya alam masih kurang, baik nelayan asing maupun nelayan lokal atau andon,” ujar Makmur. Melihat besarnya wilayah dan pentingnya menjaga perairan dan pesisir wilayah Berau, Makmur meminta dukungan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat melalui Departemen Kelautan dan Perikanan untuk meningkatkan sarana dan prasarana.

Pimpinan Program Bersama TNC-WWF Hirmen Syofyanto mengatakan. ”Program FSS ini merupakan bentuk komitmen kami dalam mendukung pemerintah kabupaten untuk pengelolaan KKL Berau.” Hirmen melanjutkan, ”Harapan kami adalah terjaganya kekayaan alam laut Berau yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat.”

Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Berau Dr. Ir. H. Achmad Delmy, M.Agr dalam sambutannya mengungkapkan, ”Kita membutuhkan pengawasan dan pengendalian sumber daya perikanan dan kelautan secara terpadu dan intensif, agar pemanfaatan sumberdaya berlangsung dengan tertib, bertanggung jawab, ramah lingkungan, terkendali, berkeadilan dan berkelanjutan.”

Kasus pencurian dan perusakan sumber daya alam marak terjadi. Hasil pemantauan pemanfaatan sumber daya alam oleh Program Bersama TNC-WWF menunjukkan 80% total hasil tangkapan dilakukan oleh nelayan dari luar kawasan. Tutupan terumbu karang yang mati mencapai 45,65% dibagian utara dan 35,05% dibagian selatan kawasan, yang berakibat pada penurunan hasil tangkapan ikan antara 60-80% dalam lima tahun terakhir berdasarkan laporan nelayan setempat. Selain itu, tahun 2005-2006 tercatat beberapa kasus pencurian penyu dengan total jumlah penyu yang mati mencapai 735 ekor.

Kehadiran FSS Penyu Laut diharapkan mampu melindungi sumber daya alam dan kesejahteraan masyarakat, antara lain dengan mengawasi pengaturan daerah tangkapan ikan sehingga tidak terjadi pelanggaran batas daerah tangkapan oleh nelayan lokal maupun nelayan dari luar. KKL Berau memiliki lebih dari 30 pulau kecil yang tidak berpenghuni, sebagian merupakan pulau-pulau terluar Indonesia, sehingga pengamanan kawasan merupakan prioritas Pemerintah Kabupaten. Perkembangan industri pariwisata bahari, khususnya dengan masuknya kapal-kapal pariwisata juga perlu dikelola lebih baik. Dengan ditetapkannya perairan Berau sebagai KKL melalui Peraturan Bupati No. 31 Tahun 2005 tentang KKL Berau, maka pengawasan dan pengamanan merupakan suatu hal yang dibutuhkan. Salah satu butir di Peraturan Bupati menyebutkan bahwa pengamanan dan pengawasan KKL dilakukan oleh instansi/dinas terkait.

KKL Berau, termasuk pulau-pulau Derawan, Sangalaki, Semama, dan Kakaban, memiliki kekayaan keanekaragaman hayati kedua tertinggi di dunia setelah kabupaten Raja Ampat di Papua Barat. Penelitian TNC tahun 2004 menemukan sedikitnya 444 jenis karang keras, 872 jenis ikan dan ubur-ubur endemik yang tidak bersengat di perairan Kabupaten Berau, selain sebagai kawasan peneluran penyu hijau terbesar di Asia Tenggara. Kekayaan laut dan pesisir Berau juga penting untuk kesinambungan penghidupan rakyat setempat, selain juga potensial dikembangkan sebagai kawasan wisata bahari tingkat dunia.

Keterangan lebih lanjut hubungi :
Sekretaris Tim Pengarah
Sub-Dinas Bina Sumberdaya Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Berau
Jl. Mangga II No. 49, Tanjung Redeb. Telp/Fax : 0554 – 21545

Catatan untuk Redaksi :
KKL Berau, yang berlokasi di region Sulu-Sulawesi, merupakan bagian “jantung” Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle) yaitu kawasan ekosistem laut yang paling beragam dan paling produktif di dunia. Kawasan ini memiliki variasi tipe habitat laut tropis yang tinggi, beragam bentukan terumbu karang yang mengelilingi pulau-pulaunya (karang cincin, karang tepi, karang penghalang dan karang tompok), sampai hutan bakau yang lebat. Sejarah oseanografi dan tektonik yang rumit telah menghasilkan fitur-fitur unik seperti danau uburubur di Kakaban. Keanekaragam ekosistem ini memberi kekayaan keanekaragaman hayati, dengan 872 spesies ikan, sedikitnya 233 spesies algae, 16 spesies rumput laut, 33 spesies bakau, 444 spesies karang, lima dari enam jenis penyu dunia, dan sedikitnya 22 spesies mamalia laut termasuk didalamnya dugong dan lumba-lumba. Kawasan ini juga menjadi kawasan peneluran penyu hijau terbesar di Asia Tenggara.

Sumber: WWF-Indonesia