Apa Anda merasakannya?
Malas berlama-lama di bawah sinar matahari? Tidak juga dengan pertolongan topi atau payung? Tidak cukup dengan kipas? Kebutuhan pendingin ruangan kian tinggi? Pagi terasa seperti siang yang menusuk? Siang membuat dehidrasi? Musim kemarau lebih panjang? Demam berdarah dan malaria muncul dimana-mana? Hujan deras tiba-tiba datang dan mengundang banjir?
Jawabannya, ya!
“Dekade 1990-an dan 2000-an adalah 10 tahun terpanas!” World Meteorological Organization.
Kok bisa?
Permukaan bumi dilapisi dengan Gas Rumah Kaca (GRK). Ketika masuk atmosfer Bumi, panas matahari harus melewati panel ini. Kemudian diserap oleh tanah, air, dan ekosistem lain. Makanya, Bumi terasa hangat. Kalau tidak ada GRK, Bumi akan dingin dan beku. Proses ini disebut Efek Rumah Kaca. Secara alami GRK penting.
TAPI, GRK di atmosfer bertambah kian hari kian cepat. Bahkan terlalu cepat.
Alhasil, Bumi makin panas!
AKIBATNYA?
KITA, PENYEBABNYA!
Kita seringkali menggunakan bahan bakar fosil (batu bara, gas alam, minyak bumi) dalam beraktivitas. Pertumbuhan penduduk, perkembangan industri, dan teknologi makin menambah parah jumlah emisi GRK yang dilepas ke udara.
Darimana datangnya GRK?
1. 37% total emisi CO2 datang dari sektor listrik à polutan terbesar: 23 trilyun ton emisi CO2 per tahun atau lebih dari 700 ton per detik dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil.
2. Pembuangan transportasi. Kendaraan yang mengonsumsi 7,8 liter bahan bakar per 100 km dan menempuh jarak 16 ribu km, setiap tahunnya mengeluarkan emisi 3 ton CO2 ke udara!
3. Penggundulan atau pembakaran hutan.
Tahukah Anda?
Saat kita menonton TV, menyalakan AC, menyalakan lampu, menggunakan pengering rambut, bermain video game, menggunakan microwave, mencuci/mengeringkan pakaian dengan mesin cuci, menyetrika baju, dan semua aktivitas yang menggunakan listrik berarti kita sudah membuat Bumi bertambah panas.
Apa yang bisa SAYA lakukan?
Smart Saving:
1. Memilih teknologi terbaru yang membutuhkan energi sedikit namun tetap nyaman. Atau, ganti lampu hemat listrik. Menggunakan energi dengan bijaksana akan mengurangi kebocoran energi yang tidak perlu.
2. Lebih sedikit gunakan kendaraan dalam perjalanan singkat atau dekat. Jalan kaki, kayuh sepeda, naik mobil beramai-ramai, dan kendaraan umum, selain akan menghemat pengeluaran transport Anda, tentu saja mengurangi karbondioksida. Sekaligus olah raga, kan?
3. Periksa ban kendaraan Anda. Menjaga “kesehatan” ban Anda secara teratur mengurangi 10 kg karbondioksida di atmosfer.
4. Daur ulang sering-sering. Anda bisa menghemat 1200 kg karbondioksida per tahun HANYA dengan mendaur ulang setengah sampah kertas Anda sehari.
5. Butuh air hangat untuk mandi, air panas untuk minum kopi dan teh, atau mencuci pakaian? Gunakan secukupnya dan Anda mengurangi 420 kg karbondioksida per tahun. Banyak, kan?
6. Hindari membeli produk dengan bungkus berlapis-lapis. Tahukah Anda, setiap kali Anda mengurangi 10% sampah saja, Anda sudah mengurangi 600 kg karbondioksida.
7. Tanam pohon, tentu saja. Bayangkan, satu pohon saja bisa menghisap 1 ton karbondioksida sepanjang hidupnya.
8. Matikan alat elektronik! TV, DVD, VCD, MP3, stereo, komputer, games, ketika Anda tidak sedang menggunakannya. Anda menghemat beribu-ribu kg karbondioksida per tahun. Tak perlu dipindahkan ke posisi stand-by atau memasang timer karena listrik masih tetap mengalir. Jadi, padam sama sekali.
Source: WWF-Indonesia
Web site ini dibuat secara gotong royong oleh berbagai pihak untuk membangun trend cinta laut serta menyediakan akses informasi yang mudah untuk bisa terlibat di dalam konservasi laut dan pesisir serta ekosistem terkaitnya, dengan saling berbagi informasi yang bersifat positif, membangun semangat, dan saling menghargai satu sama lain. Baca selengkapnya

diva
May 9th, 2008 at 11:35 am
AKU SETUJU DENGAN ARTIKEL ITU TERIMAKASIH SEMOGA DAPAT DIAPLIKASIKAN DALAM KESEHARIAN KITA. KLO BUKAN KITA YANG MENJAGA, SIAPA LAG???
KLO BUMI SEMAKIN PANAS KAN KITA JUGA YNG RUGI…
Melvie
May 10th, 2008 at 2:41 am
Saya sangat setuju ttg penghematan energi, dan smuanya harus sadar untuk mulai beralih ke energi alternatif agar tidak tergantung kpd energi yg telah ada..