Kawasan konservasi perairan Buleleng Timur yang memiliki garis pantai >25 km telah dicadangkan oleh pemerintah sebagai kawasan konservasi perairan. Pengelolaan kawasan dimaksudkan untuk mengelola sumberdaya dan kegiatan masyarakat dalam pemanfaatannya secarIMG-20150129-WA0000a berkelanjutan. Salah satu upaya pelaksanaan pengelolaan yaitu adanya sebuah sistem pengawasan pemanfaatan sumberdaya agar sesuai dengan kebijakan-kebijakan yang telah disepakati bersama oleh masyarakat.

POKWASMAS (kelompok pengawas masyarakat) bersama dengan Reef Check, Coral, dan LMN mencoba menggunakan teknologi sederhana dalam pengawasan sumberdaya, dalam hal ini mendokumentasikanIMG-20150129-WA0001 kegiatan-kegiatan di sekitar kawasan konservasi Buleleng Timur dengan menggunakan konsep foto udara. Penggunaan layang-layang yang sangat familiar bagi nelayan sekitar dapat digunakan sebagai alat penjangkau pengambilan gambar di udara. Cara kerja dari metoda ini adalah layang-layang diberi sebuah kamera yang berukuran cukup kecil dengan kualitas gambar yang baik sehingga dapat mengambil gambar maupun video dari udara. Meskipun, sebenarnya dapat digunakan dengan alat yang lebih baik seperti helikopter mainan yang dapat dikendalikan oleh remote namun penggunaannya memerlukan biaya yang cukup besar. Peralatan yang sederhana, murah, dan dapat diaplikasikan oleh masyarakat ini diharapkan dapat membantu proses pengawasan kawasan yang sebentar lagi mendekati proses penetapan.

 

Teks dan foto oleh:

Mochamad Iqbal Herwata Putra

MPA Coordinator Assistant | Reef Check Foundation Indonesia

iherwata@reefcheck.org

Jln. Tukad Balian, Gang 43, Renon-Denpasar, Bali, Indonesia

 

Perubahan Iklim Memicu La Nina Terjadi Lebih Sering

28 Jan 2015 Kategori: Berita Terbaru
Menurut peneliti dalam hasil studi baru di jurnal Nature Climate Change pada 26 Januari 2015, La Nina bisa dua kali lebih sering terjadi dibandingkan sebelumnya karena pemanasan global. Para peneliti menganalisis model-model iklim global yang bisa menghasilkan kejadian La Niña. Hasilnya menunjukkan bahwa kejadian La Nina ekstrim mungkin akan terjadi setiap 13 tahun, tidak lagi 23 tahun sekali.
Temuan itu tidak menunjukkan jadwal reguler kejadian La Nina ekstrim setiap 13 tahun, kata penulis utama studi Wenju Cai, ilmuwan iklim dari Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization di Aspendale, Australia.
“Kami hanya mengatakan bahwa pada rata-rata itu, kita bisa menghadapi satu setiap 13 tahun,” kata Cai seperti dilansir laman LiveScience. “Kita tidak bisa dengan tepat memprediksi kapan itu akan terjadi, tapi menduga bahwa rata-rata, kita akan mendapat (La Nina) lebih banyak.”

Baca selengkapnya »

Ratusan personil gabungan dari TNI-Lantamal II Teluk Bayur-Polri serta jajaran SKPD-SKPD Kota Padang dan masyarakat lakukan gotong royong masal melakukan aksi kebersihan kawasan wisata pantai Air Manis Kota Padang, Jumat,23/1.

Dengan mengenakan pakain olah raga khas unit masing-masing. Di pimpin oleh Wakil Walikota Padang Emzalmi dan Pimpinan Unit masing-masing, usai berolah raga masing-masing kelompok di bekali dengan karung-karung plastik untuk memungut sampah-sampah di kawasan wisata terpadu tersebut.

Baca selengkapnya »

Let's Go Blue Indonesia!

Web site ini dibuat secara gotong royong oleh berbagai pihak untuk membangun trend cinta laut serta menyediakan akses informasi yang mudah untuk bisa terlibat di dalam konservasi laut dan pesisir serta ekosistem terkaitnya, dengan saling berbagi informasi yang bersifat positif, membangun semangat, dan saling menghargai satu sama lain. Baca selengkapnya


Reef Check indonesia Reef Check Day

Log In

Arsip Berita

Promosikan karya2 fotografi kamu!

Caranya, kirim email ke goblueindonesia@yahoo.com, max 3 karya foto bawah laut Indonesia kamu, .jpg ya, berikut nama kamu, email, alamat website kamu, dll. Foto terbaik akan kami umumkan setiap bulannya. dan menangkan T-shirt keren dari yayasan Reef Check Indonesia. Jadi tunggu apalagi =)